Pilpres Dan Kecintaan Terhadap Negeri

ilustrasi

Oleh : Rudi S Kamri

APA relevansinya Pilpres dengan kecintaan terhadap negeri ? Sahabatku yang kebetulan pendukung fanatik Paslon 02 mencecar saya saat kami berdiskusi serius tentang Pilpres. Jawaban saya sangat sederhana.

"Sebagai rakyat biasa saya harus memastikan negara ini akan dikelola oleh orang yang tepat. Karena saya tidak rela negara ini dirusak oleh orang-orang yang pragmatis dan berpotensi merusak kebhinekaan Indonesia".

"Bagi saya Indonesia itu seperti pelangi. Dan pelangi terlihat indah karena terpadu dari berbagai warna yang membentuknya. Pun pula Indonesia. Negeri sangat indah karena terdiri dari banyak suku bangsa, bahasa dan agama serta budaya yang beraneka ragam. Dan saya harus memastikan Pemimpin Indonesia ke depan punya kemampuan dan kemauan untuk menjaga kebhinekaan negeri ini".

"Lalu apa kaitannya semua itu dengan dirimu begitu militan mendukung Jokowi ?, kejar sahabatku penasaran.

"Karena saya haqul yaqin Jokowi bersama KH Ma'ruf Amin mempunyai kemauan besar dan kemampuan yang mumpuni dan telah teruji untuk merawat kebhinekaan Indonesia. Dan di tangan Jokowi selama 5 tahun berjalan ini Indonesia 'on the track' arah pembangunannya. Satu hal yang penting, Jokowi mulai dari Walikota lalu menjadi Gubernur dan kemudian menjadi Presiden, mempunyai 'track record' yang bersih, tidak korupsi dan tidak punya sejarah melakukan nepotisme. Dan rekam jejak yang seperti itu sama sekali tidak dimiliki oleh jagoanmu", jawab saya tegas.

"Prabowo pun kalau diberi kesempatan pasti bisa melakukan hal itu", bela sahabatku.

"Prabowo sudah banyak mempunyai peluang dan kesempatan emas sejak puluhan tahun yang lalu. Lalu apa yang telah dilakukan ? Dengan ambisi yang over dosis dia malah telah menyalahgunakan kewenangannya untuk melakukan hal-hal yang memalukan bangsa ini. Kasus penculikan aktivis 1997/1998 adalah jejak sejarah hitam yang tidak akan pernah bisa dilupakan dan termaafkan oleh bangsa ini. Jadi jangan pernah bilang dia tidak pernah punya kesempatan", ujarku berapi-api.

"Jadi minta maaf, saya tidak akan pernah rela negeri ini akan dikuasai oleh orang yang mempunyai sejarah penuh lumuran darah. Apalagi saat ini terlalu banyak kelompok radikal yang berdiri membonceng kendaraan Prabowo. Saya yakin akan nasionalisme seorang Prabowo, tapi saya menyesalkan mengapa dia begitu pragmatis mengijinkan kendaraannya ditumpangi oleh gerombolan orang yang berpotensi merusak kebhinekaan Indonesia", jelas saya dengan tenang.

"So, Anda sekarang paham kan mengapa saya begitu 'die-hard' mendukung Jokowi ? Karena saya begitu mencintai Indonesia", saya menutup diskusi dan beranjak pulang.

"Jadi karena saya mendukung Prabowo, berarti saya tidak mencintai Indonesia ?" tanya dia penasaran.

"Jawabannya ada di hati nuranimu sendiri. Karena bisa saja kamu berbohong dengan saya, tapi saya yakin orang waras tidak akan bisa membohongi nuraninya sendiri", jawab saya.

"Kamu masih waras kan ?", tanya saya.
Dia terdiam. Tapi saya tahu, dia mulai ragu terhadap pilihannya.

Salam SATU Indonesia,
Sumber : Status Facebook Rudi S Kamri

 

Thursday, March 28, 2019 - 08:30
Kategori Rubrik: