Pilpres 2019, Mundur Atau Maju Indonesia Terletak Di Tanganmu

ilustrasi

Oleh : Okki Soebagio

Barusan diskusi sama sahabat saya yang kebetulan mendukung paslon 02. Saya bilang, issue nya ada segudang. Agama lah, korupsi lah, rekam jejak lah, dll. Every candidate has their own strength and weaknesses. Saya juga bilang, paslon 01 bukan tanpa kekurangan as nobody's perfect.

Tapiiiiii, tapi nih. Indonesia itu sekarang sedang melaju kenceng, sekenceng-kencengnya. Dan itu kita rasain. REAL. MRT, jalan tol, airport, dll. Belum improvement di moda transportasi lain macam kereta yg banyak KPI-nya sudah naik kelas jadi setara sama kereta di Jepang atau Eropa (saya suka naik kereta Jakarta-Bandung). Tambah lagi suksesnya Asian Games yg dipuja puji sedunia kemarin, plus segudang pencapaian lain; akusisi Freeport, bendungan, jalan desa, pelabuhan, dan airport baru dimana-mana, berjuta sertifikat tanah buat rakyat, dst, dst yang kalau mau dibandingin sama, say, rapor 10-tahun rezim Hambalang yg sebelumnya, maaf ya, jauh bener.

Nah, kalau sampai ganti rezim, misalnya nih, Prabowo terpilih jadi presiden, sebagian besar tatanan yang ada harus di reset ulang lagi. Mulai lagi konsolidasi politik, rubah kepentingan kanan kiri, across the board at various levels, kementrian, BUMN, dll. Itu semua butuh tarik-ulur, waktu dan ongkos nya mahal buat kita semua. Indonesia yang tadinya udah melaju kenceng di gigi 4 dan siap melejit ke gigi 5, dan jadi negara digdaya 5 besar dunia, eh, harus melambat, ganti gear dulu ke gigi 1 untuk adjust berbagai macam issue tadi. Belum lagi beresin janji-janji politik kriwilan nggak jelas macem dana pensiun buat koruptor yg mau diampunin lah, menurunkan tarif listrik lah, dan berbagai janji lainnya yang easy to say but in reality is almost impossible to be done; itu semua butuh waktu dan nggak sedikit ongkosnya.

Di skala yang kecilan, ini kejadian di DKI. Waktu itu Ahok lagi ngebut kerja kerja kerja, eh, kalah Pilkada gegara JKT58 kemakan janji-janji surga yg diumbar buat orang yang, maaf, ya gitu deh, rada kurkur; dipaketin sama issue gorengan penista agama, masuk lah tuh barang ke Mako Brimob. Jadilah pak Gabener yang sekarang dengan Tim TUGPP (apalah namanya) yg 74 orang itu. Hasilnya? Qlue yang udah jalan dan berasa seperti keajaiban buat warga Jakarta, tau tau ilang. Pembangunan jadi lambat, banjir tambah parah, kali-kali pada kotor lagi, pelayanan masyarakat kendor, plus nggak ada inisiatif baru lainnya yg bikin greget. Pas kedengeran greget, eh, cuman peresmian gardu listrik buat MRT. Kemunduran demi kemunduran setiap hari. Janji-janji dan cerita surgawi pak Gabener waktu kampanye dulu sampai hari ini juga gak ada yang kejadian. Mulai dari rumah lapis DP0% lah, air hujan turun ke bumi masuk tanah gak pake pompa lah (ini paling epic menurut saya), sampe program OK OCE yang halu itu. Akibatnya, hilang waktu, hilang kesempatan warga DKI untuk melejit kenceng. Masalah waktu ini amat sangat penting, karena akhirnya kita, masyarakat kebanyakan, yang bayar "ongkos delay" nya itu.

Contoh "ongkos delay" lain yang agak extrim; 30-tahun Jakarta nunggu MRT, baru pas era Jokowi proyek ini bisa beneran kick-off. Selama 30-tahun itu, orang Jakarta bayar "ongkos delay" tadi dengan jadi salah satu kota yg punya tingkat polusi tertinggi dan kemacetan paling parah di dunia. Lucunya, sementara disatu sisi kita selalu komplen Jakarta macet lah, banjir lah, sampah lah, tapi disisi lain, pas lagi dapet kesempatan nyoblos di bilik suara, mayoritas dari kita pilih calon yg masih coba-coba dan belum terbukti, instead of yang sudah pasti-pasti. Kenapa? Ya karena kebanyakan memang belum cerdas. Masih gampang terpengaruh hoax, sementara hal-hal yang sifatnya lebih mendasar jadi malah nggak kepikiran.

Nah, kita ini sekarang lagi mau melejit di kancah internasional. Bukan level provinsi seperti DKI, tapi level nasional. Sebagai bangsa, sebagai negara, di panggung dunia. SMI, mantan menkeu keren era SBY yg mental karena politik di jaman itu, yg diambil Worldbank jadi direktur, di vote jadi menteri keuangan terbaik sedunia setelah jadi menkeu lagi di era Jokowi. Sedunia loh. Ya iyalah nggak heran, Pakde tau mana yang kerja bener, mana yang pura-pura kerja. Belum bu Susi yg bikin Indonesia sekarang jadi raja ikan dunia dan segambreng nama-nama lain yang memang fokus kerja buat kepentingan publik di republik ini. Di era ini, rating kredit Indonesia juga terbang jadi investment grade. Kita siap melejit, meraih kemakmuran adil dan merata, berdaulat dan diakui keren oleh peer nations yang lain.

Udah ngebut gini, masak kamu mau ganti rezim, mundur pulak ke rezim orde baru? Berat di ongkos lah.

#silahkanshare

Sumber : Status Facebook Okki Soebagio

Monday, April 15, 2019 - 23:30
Kategori Rubrik: