Pilpres 2019 Menentukan Indonesia Maju Atau Terpuruk

ilustrasi

Oleh : Nezar Patria

Banyak yang risau pemilu nanti bakal tegang. “Saya cemas kalau nanti ada benturan, bentrokan,” ujar seorang kawan. Berbeda dengan dia, entah mengapa saya tak begitu cemas, meskipun tetap awas. Beda dengan Pilpres 2014 yang sangat merisaukan, dan republik saat itu seakan terbelah dari Istana sampai ruang keluarga warga, saya melihat pilpres kali ini lebih datar.

Mungkin karena saya percaya rakyat Indonesia makin matang. Dua pergelaran masa terbesar di GBK Senayan dari dua kandidat presiden berlangsung tertib dan aman. Bahkan pada waktu sebelumnya, aksi massa besar seperti 212 berlangsung tanpa sebutir batu pun terbang.

Saya kira bangsa Indonesia telah berhasil melewati masa tersulitnya: transisi dari rezim otoritarian ke demokrasi (dengan ongkos mahal secara sosial dan politik; kerusuhan etnis yang berdarah, orang hilang, ketegangan antar agama dan kelompok, pergolakan daerah). Kita, rakyat Indonesia, belajar banyak dari proses itu. Pengalaman demokratik sejak Pemilu 1999, dan Pilpres secara langsung sejak 2004 telah melahirkan kesadaran baru: bahwa siapapun yang memimpin adalah pilihan rakyat, yang menang memimpin dan mengayomi semua, dan yang kalah berbesar hati terus berjuang dengan cara demokratis.

Selama itu pula rakyat menikmati limpahan kebebasan: bebas bicara, dan bebas membuat partai politik baru jika sudah bosan dengan yang itu-itu saja.

Pemilu 2014 jauh lebih menegangkan dari tahun ini (seumur hidup baru pada 2014 saya merasa harus ikut jaga TPS di kampung, dan seksama mengikuti hasil perhitungan suara, memotretnya dan mengunggahnya ke kawalpemilu.org). Tapi toh kita melewatinya dengan damai, dan gagah membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia negara demokrasi terbaik di Asia Tenggara.

Faktor yang merisaukan Pilpres 2019 mungkin pada proses pemilu yang lebih rumit dari sebelumnya. Berlangsung serentak dengan pemilu legislatif, dengan masa kampanye lebih panjang. Lalu hanya ada dua kandidat presiden yang bertarung, dan tentu saja proses “pembelahan” di akar rumput menjadi lebih dalam. Hal-hal teknis pelaksanaan pemilu jika kacau mungkin akan menjadi persoalan prinsipil. Di luar soal teknis, saya yakin rakyat akan memperlakukan pilpres kali ini dengan kesadaran yang dibawa sejak masa reformasi: bahwa ruang politik yang demokratis harus dijaga. Seperti pertandingan bola, penonton boleh saja teriak ingin mengganti para pemain tapi jangan rusak permainan dan lapangannya.

Buat saya pribadi Pilpres 2019 ini penting dan menentukan; apakah Indonesia memilih memperpanjang pertarungan politik residu kekuatan lama hingga setelah 2024 nanti (artinya isu strategis akan tenggelam, dan yang ramai adalah gaya fitnah yang “itu-itu saja”). Atau lewat pemilu ini menghentikan itu semua, dan dengan demikian meneruskan semangat reformasi yang sudah dua dekade berjalan dan terbukti membuat Indonesia lebih baik dari sebelumnya.

Saya memimpikan sebuah pertarungan segar dari generasi muda terbaik Indonesia pada 2024. Sebuah generasi yang semoga bebas dari boncengan politik masa lalu.

Selamat memilih!

Sumber : Status Facebook Nezar Patria

Tuesday, April 16, 2019 - 01:00
Kategori Rubrik: