Pilkada untuk Siapa

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Suara bak laron kena asap mulai memekakkan telinga kita, pilkada serentak didepan mata mulai terasa atmosfirnya, pelintiran kalimat, memperebutkan jago utk di adu menuju nomor satu makin hari tambah seru. Kekuatan kursi partai perwilayah menjadi penentu apakah sbg leader dlm koalisi atau keder berdiskusi karena jumlah kursi cuma seujung jari, akhirnya tawaran kawan diterima walau terpaksa.

Kampanye menggema, jualan kecap basi sampai janji mengada-ada sudah berjalan lama, herannya masyarakat kita tak pernah jera, pdhl orang yg dipilihnya loncat sana sini di Senayan persis orang idiot kena sawan anjing gila. Jangankan kebenaran bisa kita dapatkan, melihat harapan perbaikanpun kita akan buang waktu sia-sia.

 

 

Partai-partai dgn anggota yg gayanya kayak yg punya negara, apalagi kalau sudah duduk di Senayan seolah dialah manusia yg bisa merubah awan menjadi hujan, padahal ngomong belepotan, target UUD meleset jauh tanpa rasa bersalah, entah apa yg salah knp prilaku itu tambah parah tapi tetap memamerkan rasa tak bersalah.

Kelucuan dan prilaku tak bermutu begitu luar biasa merata, tropi dan penghargaan kepada kepala daerah bak kebodohan yg disengaja, penilaian2 yg bernilai A dan pujian yg seolah mereka sudah bekerja dgn karya luar biasa. BPK memainkan angka memberi nilai WTP besok lusa pejabatnya kena OTT KPK, dan malah sekalian pejabat yg bersangkutan ikutan ditahan. Sekarang baru saja kita dikasi tontonan memuakkan dari prilaku walikota Medan yg menerima awarded ditengah begitu banyak jalan yg penuh kubangan dan lumpur bau yg menyesakkan.

Khabarnya ada 171 daerah akan melakukan pilkada serentak, uang negara akan dipakai sebagai biaya mencari pemimpin untuk berkarya demi kepentingan warganya. Kita tidak atau belum punya standar minimal moral yg layak ikut menjadi peserta kontestasi pada pesta pilkada, disengaja atau lupa hukum kita masih menyisakan ruang usang nan tak garang. Bagaimana bisa ketentuan UUD masih mengijinkan bekas narapidana bisa ikut pilkada bila hukuman penjara yg pernah disandangnya tdk lebih dari 5thn, UUD ini ditengarai dibuat para kroni yg memang sdh merasa bahwa kader dan para penikmat jabatan tdk lepas dari perbuatan memalukan, korupsi adalah salah satu prilaku nomor satu yg selalu mrk miliki, bahkan ada Bupati yg punya sertifikat moral kuat dari MUI dicokot KPK dirumahnya, drama konyol dan tolol dari moral bobrok yg cuma dicover selembar kertas keluaran lembaga yg jelas tapi tak cerdas.

Zaman Orba, bertebaran Adipura dimana-mana, rakyat tak tau maknanya, diperapatan ada tugu yg memamerkan tropi kemanangan seolah wilayah itu berprestasi, namun semua cerita basi yg membuat isi perut kita geli-geli mau memuntahkan semua yg kita makan, korelasinya tidak ada utk kesejahteraan warganya, Bupatinya cuma gagah dgn safari dan baju korpri yg tak berarti utk bisa menyentuh relung kebutuhan hakiki para penduduk negeri, puluhan tahun rakyat diberi tontonan yg memuakkan dari pemain sirkus para pelaku yg diternak partai politik dgn makanan haram, maka hasilnya sudah bisa ditebak, kita memilih sosok yg sejatinya utk sebuah kata pantas saja sulit disematkan, sehingga kita terjebak pada retorika yg suaranya bak pesawat tempur saat pilkada digelar dimana2. Setelahnya kita cuma melihat rapat berlipat2 membahas anggaran belanja dgn usulan tak pernah cukup khususnya study banding yg tak sebanding.

Terus, pilkada ini binatang apa dan utk apa, bak niat berqurban, hewan yg akan jadi persembahan dgn tujuan kemuliaan, namun kulit dan badan tak memenuhi persyaratan, kudis dimana2, malah ada yg tiba2 ada entah siapa yg mengantarnya, tak jelas asal muasalnya apakah dia dari peternakan yg disiapkan atau dari yg lepas dipinggir jalan. Dagingnya tetap daging qurban tapi rasanya hambar bak ampas kertas bekas.

Dari beberapa kali Pak Jokowi memberi sindiran bahwa tanggung jawab dalam amanah adalah hasil kerja bukan cuma rencana , kabinetnya diberi nama kabinet kerja, bukan kabinet retorika, hasilnya kelihatan ada walau setiap detik dicela, tapi pejabat ditingkat dua masih merata koplaknya, malu? mana mereka punya.

Kandang partai tempat dimana calon pejabat diternak adalah tempat yg kelak banyak menghasilkan pemalak yg terus berprilaku lucu, mereka kena penyakit lapar moral seolah saat mereka diberi makanan dan nutrisi hati mereka tidak bisa membedakan mana yg bergizi dan mana yg makanan basi. Madrasah tempat dia diasah seolah cuma sekolah lepas yg tak berbekas, atau krn memang gurunya yg tak pantas. Sehingga madrasah itu bukan sekolah, ia cuma bangunan tua tak berguna.

Pilkada..menjadi hantu lucu yg bentuknya bisa ditebak kadang ada kadang tiada, apakah kita masih percaya kalau mereka punya niat mulia atau cuma nafsu berkuasa setelah menang lomba puisi janji, kita tetap cuma dapat janji. Saat ditanya dulu mereka pernah berjanji, jawabnya ; sudah syukur kau ku kasi janji, itu jawabnya. Jadi bersiaplah utk menerima janji.

Pilkada, engkau disana, aku disini. Kami cuma melihat buah Semangka berdaun duka...semoga Indonesia dan anak mudanya bisa belajar dan merubah kebiasaan celaka yg sedang ada. Dia harus dihentikan, walau entah kapan..Selamat pilkada sedang datang

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Monday, October 16, 2017 - 14:45
Kategori Rubrik: