Pilkada dan Covid 19

ilustrasi
Oleh : Arya Hadi Darmawan
 
Kami di IPB melakukan cara ini. IPB adalah universitas dengan sekitar 25.000an mahasiswa dengan 2000an dosen + asisten dengan 3000an karyawan, menjalankan 5000an matakuliah dalam siklus pendidikan S1, S2, S3 dan S0 sangat ketat. Semua harus dijalankan secara tepat waktu dan dalam schedule yang tak bisa dilanggar.
Bisa dibayangkan dalam kondisi off-line, ribuan kerumunan akan terjadi tiap saat. Pergerakan puluhan ribu mahasiswa dan ribuan dosen, yang beralih dari satu ruang kuliah ke ruang kuliah lain, dan dari satu mata kuliah ke mata kuliah yang lain. Betapa sibuknya. Sangat hiruk-pikuk. Di masa normal kehidupan kampus dimulai jam 07.00 pagi sampai 21.00 malam, di setiap hari kerja. Kesibukan ditambah lagi dengan kegiatan kemahasiswaan di hari Sabtu dan Minggu. Bisa dibayangkan, bila di masa pandemi, pertemuan fisik & pergerakan ribuan manusia itu dibiarkan berlangsung apa adanya seperti hari-hari normal. Pasti yang terjadi, setiap hari akan jatuh korban covid 19 yang jumlahnya sangat mengerikan.
Untungnya, jatuhnya korban, itu tak terjadi. Tak ada laporan (sampai hari ini) mahasiswa IPB wafat karena covid. Alhamdulillah.
Di IPB saat ini, semua perkuliahan dijalankan layaknya situasi normal, tapi dalam senyap. Kami menekan 100% pertemuan tatap-muka tanpa kerumunan sejak Maret 2020 yg lalu sampai kini. Perkuliahan, praktikum, ujian, wisuda berjalan lancar di ruang maya. Tanpa ada kerumunan. Tanpa ada orang berseliweran di kampus. Bahkan kini yang banyak menghuni kampus adalah burung, kucing, dan aneka satwa yang kini bebas melintas ke koridor-koridor kampus.
Pilkada bagaimana?
Dengan analogi yang sama. Pilkada seharusnya bisa dijalankan seperti kami di IPB yang menggerakkan puluhan ribu orang dan ribuan tatap muka, setiap jamnya. Semua terjadi dalam senyap. Sepi tak ada kerumunan. Namun, semua sibuk di ruang zoom dan pertemuan virtual.
Sekali lagi, pilkada mestinya bisa belajar pada kami di PTN yang menjalankan ribuan orang secara senyap di darat tetapi "sangat heboh" tiap saat di ruang maya. Suasana sangat "hiruk-pikuk" saat puluhan ribu orang keluar masuk ruang-ruang zoom yang meninggalkan debat, diskusi dan komunikasi yang sangat hangat bahkan panas. Tetapi, semua itu tetap sepi-senyap di ruang nyata.
Kampus, bahkan kini selalu kosong selama pandemi. Semua sepi dan senyap...covid 19 tak diberi peluang masuk kampus.
Yg penting tujuan tercapai (walau tak seideal masa normal) di bawah tekanan pandemi. Jadi, jangan dibunuh esensinya, tetapi berpikirlah untuk mengendalikan pergerakan manusianya.
Ayolah berpikir keraslah..jalankan Pilkada secara virtual. Yang penting esensi demokrasi dan tata-pemerintahannya, dijalankan. Hiruk-pikuknya dan kerumunannya dibuang & ditinggalkan.
Salam hangat

 

Sumber : Status Facebook Arya Hadi Dharmawan
 
Saturday, September 26, 2020 - 18:30
Kategori Rubrik: