Pilihlah Orang Kecil

Ilustrasi
Oleh : Emak Sulastri Widji
 
Saya selalu berpikir bahwa orang-orang yang terlahir kaya tidak benar-benar punya empati/ kepedulian kepada si miskin. Bagaimana mereka mampu merasakan keprihatinan kami? Apakah tahu rasanya kami kekurangan makan? Makan nasi thiwul, nasi aking, ubi/ ketela, dan jagung yang hanya untuk sekedar pengganjal perut. Itupun mesti dibagi agar tak rebutan dan semua kebagian. Orang tua kami tidak mampu mikirin soal gizi. Lauk seadanya telur satu dicampur tepung, masih diakali diiris setipis alis perempuan cantik. Tempe setipis kartu ATM, atau ikan asin yang asinnya bener-bener ngalahin upil. Ah ... mengingat masa itu tahun 70-80-an bikin mbrebes mili. Bisa makan buah saja nyari jejatuhan sawo, jambu -- di kebun nenek atau tetangga. Buah pisang yang bagus dijual ke pasar, tidak untuk dikonsumsi sendiri. Sampai kakak saya dan teman-teman sebayanya kala itu jadi kampret pencuri buah ulung. Tak jarang pulang bawa nangka, tebu, mangga, kelapa muda, yang dicurinya entah dari mana, dan saya ikut menikmatinya. 
 
Anak saya nyeletuk, "Lho, Mah ... jangan salah, kaum old money itu ngamalnya tidak tanggung-tanggung lho. Mereka bikin yayasan anak yatim piatu, sekolah, rumah sakit -- gratis, ndak dipublish."
 
"Benar begitu, Ndhuk? Ada yang sampai begitu? Syukurlah kalau memang ada yang begitu."
 
"Ada-lah, Mah ...." jawab anak saya.
 
Iya sih, saya juga punya teman konglomerat suka mengumrohkan karyawannya yang berprestasi. Saya berpikir orang tuanya bagus mendidiknya. Tetapi kalau tahu background orang tuanya bagaimana dan sekarang macam Putri Cendana dan Cawapres Perlente yang sok-sok-an peduli rakyat kecil itu ya memaksa berpikir. Paling pencitraan demi kepentingan politik, iya tidak? Wong sebelum-sebelumnya ndak begitu. Mana di masa orba ortunya KKN selama 32 tahun. Utang luar negeri bukan untuk  membangun tetapi 70% dikorup. Membangun  politik dinasti, monopoli ekonomi dengan kroni-kroninya. 
Aset sumber daya alam dijuali. Gunung emas di Papua kok dikasih ke Amerika sebagai kompensasi atas bantuannya menggulingkan Sang Founder negeri. Tega ya? Banget. Merupa Rahwana bermuka sepuluh, bisa bermuka lembut ramah manis di muka  rakyat, di sisi lain berdarah dingin membunuh mereka yang tak sepakat apalagi yang berani mengumpat.  Negara ini runtuh di akhir masa jabatannya yang dipaksa demo mahasiswa. Bener-bener ambruk. Inflasi 1998 mencapai 600%. Bayangin nilai dollar dari 2800 jatuh hingga nembus 16800.
 
Pemimpin selanjutnya bak menjalankan mobil bobrok terseok-seok. Habibie tak kuasa melepas Tim-Tim. Orang pintar dan baik itu  tidak mampu berbuat banyak. Gus Dur kesulitan menangani disintegrasi bangsa, sibuk menjaga rumah agar tidak ambruk. GAM, OPM -- menggeliat ingin melepaskan diri dari NKRI. Beliau berjuang merukunkan bangsa. Ibu Mega megap-megap di tengah negeri yang sekarat. SBY maju lumayan perbaiki keadaan, namun tetap saja tak lepas dari jerat hutang tetapi salah untuk memanjakan rakyat dengan subsidi, 300 T duit dibakar per tahun untuk subsidi BBM.
 
Banyak proyek mangkrak, 10 tahun main aman. Jokowi hadir menggebrak. Koruptor dan mafia migas digasak. Alhasil beliau dimusuhi banyak orang,  difitnah tak karuan. Freeport, Blok Mahakam, Blok Rokan direbut diserahin ke Pertamina,  Petral dibubarkan, tak bisa lagi mafia migas berkutik. Subsidi listrik dan BBM dicabut, Jawa sebagai anak sulung Indonesia waktunya disapih. Tentu saja banyak yang protes mereka-mereka yang bermental pengemis subsidi dan tidak ridho berbagi dengan saudara-saudara sebangsa di wilayah tertinggal. Jokowi ingin  satukan negeri yang besar ini. Bangun infrastruktur gila-gilaan. Meletakkan dasar pemerataan pembangunan yang berkeadilan sosial. Memang tetap berhutang tapi kan berwujud untuk apa, next otomatis sebagai penggerak ekonomi jangka panjang. 
 
Di tengah jegalan, serangan, fitnah, hoax, dan badai bencana Indonesia digdaya mampu sukseskan even skala internasional. Indonesia  juga terus berperan aktif sebagai pioner perdamaian dunia. Siapa pemimpin yang sanggup merasai penderitaan rakyat? Tentu ia yang terlahir dari rakyat kecil. Merasai rumahnya tergusur. Paham keterbatasan masyarakat tertinggal di Papua yang masih terbelakang dalam kegelapan. Mungkin beliaulah pemimpin terbaik yang hanya Allah turunkan 100 tahun sekali. Apakah anugerah ini kita ingkari?
 
Bagi sebagian rakyat yang tidak tahu bersyukur mungkin iya. Bagi para begundal negeri Jokowi adalah musuh bersama. Bagi kaum bughot dan pembangkang Jokowi adalah malapetaka. Bagi rakyat yang beriman dan waras beliau adalah sosok leader sejati, negarawan,  ksatria pilih tanding, penyabar, dan dicintai rakyatnya. Pilihlah orang kecil yang sanggup memahami penderitaan  orang kecil. 
 
#Kampanyealabakullombok
 
Sumber : Status Facebook Emak Sulastri Widji
Monday, November 19, 2018 - 14:45
Kategori Rubrik: