Pilihan Prabowo Membuat Umat Sakit Hati, Mereka Iri dengan Jokowi

Oleh : Ali Winata

Keputusan Prabowo Subianto yang menggandeng Sandiaga Uno menjadi cawapresnya memang sangat mengejutkan dan diluar dugaan. Karena sampai dengan H-3 nama yang mencuat kuat adalah Ustadz Abdul Somad. Nama UAS direkomendasikan oleh Ijtima Ulama dan bahkan mendapat restu langsung dari Habib Rizieq Syihab yang ada di Arab sana.

Banyak pendukung Prabowo yang merasa kecewa dengan keputusan politik ini, yang mengabaikan rekomendasi Ijtima Ulama. Apalagi dibalik majunya Sandiaga sebagai cawapres, ada cerita tak sedap mengenai mahar 1T yang dibagi ke PAN dan PKS.

PA 212 mungkin adalah pihak yang paling merasa kecewa terhadap Prabowo, karena perjuangan mereka mendorong salah satu dari UAS dan Salim Segaf menjadi cawapres gagal. Padahal mereka telah mengintimidasi Prabowo dengan mengatakan bahwa hasil Ijtima Ulama adalah "keinginan Allah". Jadi mengabaikan rekomendasi Ijtima Ulama adalah melanggar keinginan Allah.

(Jangan tertawa, mereka memang begitu, suka membawa bawa Allah mereka ikut berpolitik).

Pendukung Prabowo yang basisnya anggota HTI FPI dan ormas ormas Islam lainnya, yang selalu mendefinisikan diri mereka sebagai "umat" juga banyak yang kecewa dengan penunjukan Sandiaga. Umat sakit hati, mereka iri dengan Jokowi, yang selalu diframing oleh mereka sebagai anti Islam justru menggandeng ulama sebagai cawapresnya. Sedangkan Prabowo yang dianggap satu kubu perjuangan dengan umat, justru memilih Sandiaga yang bukan ulama, melainkan pengusaha.

Umat yang selama ini berada dibelakang Prabowo merasa mati gaya melihat Ma'ruf Amin berada di kubu Jokowi. Ma'ruf Amin pernah berada di kubu mereka, bahkan fatwa MUI produknya Ma'ruf Amin jugalah yang dikawal GNPF MUI untuk menjatuhkan Ahok melalui gerakan 212. Tak mungkin mereka berani menyebut Ma'ruf Amin sebagai PKI atau anti Islam.

Sentimen kekecewaan umat kepada Prabowo ini terus meluas sejak pasangan Prabowo Sandiaga dideklarasikan. Umat merasa bingung serta dilematis melihat fakta bahwa ternyata Jokowi lebih memuliakan ulama dan mempercayai ulama sebagai cawapresnya. Sementara Prabowo justru tunduk kepada kekuatan uang (money talk) yang dimiliki oleh Sandiaga.

Umat juga kecewa kepada PKS yang dianggap bersih dan dicitrakan sebagai partainya Allah, justru santer diberitakan bahwa mereka bisa "dibeli" seharga 500 milyar untuk mendukung Sandiaga menjadi cawapresnya Prabowo. PKS gagal perjuangkan 2 nama hasil rekomendasi Ijtima Ulama akibat deal politik yang dikotori dengan permainan uang.

 

Sumber : facebook Ali Winata

Friday, August 10, 2018 - 09:30
Kategori Rubrik: