Pilih Prabowo Demi Islam?

ilustrasi

 

Oleh : Uju Zubaedi

Mungkin kebanyakan kaum Muslimin tidak bisa menerima karena payah untuk dimengerti, bagaimana mungkin dipilihnya Prabowo jadi presiden itu dengan alasan demi membela dan menyelamatkan Islam.

Memang begitulah adanya, mereka "berjuan" demi "ISLAM", tapi Islam ala mereka yaitu Islam berbasis ideologi hitam yg menganggap semua orang di luar mereka itu KAFIR yg wajib dimusuhi. Tapi bukan Prabowo - Sandi (Prabosan)-nya yg mereka andalkan. Prabosan hanya mereka boncengi untuk ikut merebut kekuasaan. Dengan menangnya 02 mereka akan ikut berkuasa. Mereka itu kelompok Islam di belakang Prabowo, parpolnya : PKS, Ormasnya : FPI, PA-212, ormas hantu : HTI, harokah sirriyyah (bawah tanah) : NII, JI, MMI JAT, JAD, dll..

Menurut "Islam" mereka, jangankan non Muslim, bahkan orang2 Muslim yg tidak mendukung tegaknya "daulah Islam" mereka anggap kafir, halal darahnya (dibunuh) dan halal hartanya. Maka mereka pun tidak peduli ketika teror2 yg mereka anggap aksi "jihad" itu korbannya orang2 Muslim juga.

Memang mereka tidak (belum) berani vokal menyatakan keyakinan mereka itu ke publik dan juga ke kalangan pendukung mereka sendiri yg belum dikader, tapi di kalangan internal kader2 mereka keyakinan seperti diatas itu sudah mendarah daging. Jika ada yg berani melakukan aksi sesuai keyakinan mereka itu (merampok atau memnuh "kafir"), mereka apresiasi dan mereka dukung.

Makanya mereka bersimpati dan mendukung ISIS, bahkan menjadi proxy isis di Indonesia, ketika terjadi aksi2 teroris di negri kita sendiri, mereka tidak pernah mengutuk teroris, tapi malah berempati.. Demikian pula jika ada yg berani dan punya peluang untuk korupsi atau melakukan penipuan, mereka dukung juga karena menurut mereka, harta negara kafir dan dan harta orang2 kafir itu halal. Makanya mereka sangat membenci dan memusuhi KPK dan densus 88.

Jika mereka berhasil menguasai negri kita ini, mereka akan memaksakan apa yg mereka sebut "daulah islam" yg sebenarnya Islam sesat itu. Siapa saja yg menentang halal dibunuh. Jika tidak, maka mereka diwajibkan membayar upeti ("jizyah") secara rutin, atau menjadi budak (hamba sahaya) yg bisa diperjual belikan, dimana sahaya perempuan ("amat") itu tubuh seutuhnya halal bagi siapa saja yg membeli/memilikinya, sebagaimana yg sering kita dengar beritanya, perempuan2 yg dijadikan budak sex tentara ISIS.

Sungguh kebiadaban yg keji dan mengerikan dg label "Islam" dan "bendera tauhid".

Saya mengatakan semua itu bukan sekedar dugaan atau tudingan, tapi saya pernah selama 18 tahun jadi bagian dari mereka, dan menganut ideologi mereka. Bukan sebatas pengikut atau pendukung, tapi termasuk jajaran aparat dan pengajar ("murobbi") dg karir sampai tingkat wilayah (provinsi), sebagai Kepala Bidang Pembinaan ("tarbiyyah"). Pengalaman dibui di masa orba pada 2 tahun pertama dari masa itu tidak nembuat saya kapok lalu mundur, tapi tapi terus akfif bergerak sampai belasan tahun lagi.

Alhamdulillah, akhirnya Allah memberi saya KESADARAN bahwa "Islam" menurut mereka itu adalah apa yg mereka dengar (baca) sebagai kehidupan kaum Muslimin belasan abad lalu (nenek moyang), yg mereka anggap semua itu berdasarkan perintah Allah. Padahal semua itu merupakan produk akal budi (BUDAYA) manusia bidang sosial politik (bukan agama) yg sejatinya bersifat dinamis seiring ruang dan waktu.

Hal tersebut Allah peringatkan dg kalamNya

وَإِذَا فَعَلُواْ فَٰحِشَةٗ قَالُواْ وَجَدۡنَا عَلَيۡهَآ ءَابَآءَنَا وَٱللَّهُ أَمَرَنَا بِهَاۗ قُلۡ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِۖ أَتَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ
Dan ketika mereka melakukan kekejian, mereka berkata, “Kami mendapati nenek moyang kami melakukan yang demikian, dan Allah memerintah kami melakukan itu.” Katakanlah : “Allah tidak pernah memerintahkan perbuatan keji. Mengapa kamu bicara tentang Allah apa yang tidak kamu mengerti?” (Al A'raf : 28)

مَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِهِۦٓ إِلَّآ أَسۡمَآءٗ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٍۚ.....
Apa yang kamu abdikan dirimu kepada selainNya, hanyalah nama2 (istilah) yang kamu buat2, baik oleh kamu sendiri maupun oleh nenek moyangmu. Allah tidak menurunkan suatupun keterangan (argumentasi) tentang itu..... (Yusuf : 40)

Jika ideologi mereka itu memang benar perintah Allah dg bukti2 (dalil) yg sah dari Allah, saya tidak akan merasa terpanggil untuk terjun larut di dalamnya, pasang badan berjihad. Seperti yg pernah saya jalani selama 18 thun ketika saya masih terbelenggu dg pemahaman sesat yg ekstrim dan radikal itu. Siksaan dan penjara pun sudah saya alami dg tidak membuat saya kapok dan mundur di masa itu. Apalagi cuma sekedar pilpres melawan kubu Jokowi sekarang ini.

Tapi saya sudah paham benar bahwa semua itu kepalsuan, sebagaimana Al A'rof :28 dan Yusuf : 40 tsb di atas. Saya sudah mengenal PKS sejak masa embrionya pada awal dekade 80an. Gerakan Ikhwanul Muslimin dg modus kelompok2 "'usroh" membentuk halaqoh2 tarbiyah, disusul munculnya gerakan2 wahabi/salafi yg ektrim dan radikal. Kemudian pasca lengsernya Suharto mereka membentuk diri jadi partai politik, PKS.

PKS dkk itu lebih berbahaya dari DI/TII/NII. Mengapa..?

Karena orang2 NII hanya mendambakan institusi politik yg (mereka anggap) berstatus "NEGARA" untuk mewadahi kemusliman mereka, yg mereka yakini sebagai syarat keabsahan bagi kemusliman mereka itu, dan mereka yakin telah mendapatkan dan menjalaninya. Tapi mereka hidup dalam kandungan NKRI dan tidak mengganggu kehidupan bangsa, baik pada aspek tatanan struktural, sosio kultural maupun keagamaan. Dan karena NII tidak punya WILAYAH KEDAULATAN maka dlm kehidupan bermasyarakat mereka berstatus WNI dan menggunakan KTP, bukan menggunakan "PASPOR NII", maka merekapun tunduk pada hukum dan perundang2an NKRI.

Sedangkan PKS dan kelompok2 puritanis wahabi lainnya, secara massif dan terstruktur mereka melakukan invasi pada semua bidang kehidupan bangsa dan negara. Sejak sistem dan tatanan kenegaraan yg ingin mereka ubah jadi semacam ISIS, yg untuk itu sudah pasti akan menimbulkan kegaduhan, kekacauan, bahkan mungkin derita "perang saudara" yg berujung KEHANCURAN, sampai pada kehidupan sosio kultural (budaya dan adat istiadat). Mereka terus menggerus sendi2 sosial budaya bangsa yg selama ini tumbuh kembang alamiyah selaras FITHRAH dan SUNNATULLAH, mereka giring ke arah budaya (kultural) Arab kuno yg mereka sebut dan propagandakan sebagai budaya "syar'i" ("Islami"), padahal semua itu hanya KEPALSUAN, KEBODOHAN dan PEMBODOHAN.

Pada dasarnya sebagai orang Mukmin kita harus siap dan sabar menghadapi dan menjalani kehidupan macam apapun jika memang itu merupakan tuntutan/arahan petunjuk dari Allah. Akan tetapi inti masalahnya bukan enggan pada kehidupan yg tidak menyenangkan, bukan pula berdasar anggapan bahwa "syari'at Islam" itu tidak cocok untuk bangsa Indonesia yg pluralis multi etnis, melainkan karena semua yg mereka propagandakan sebagai "Islam" dan "syari'ah" dengan slogan "amar makruf nahi munkar" itu tak lebih dari KEPALSUAN ("MUKADZDZIBIIN"). "Islam" yg mereka propagandakan itu hanya menurut pemahaman sesat segolongan tertentu, tak satu butirpun dari semuanya yg bisa mereka buktikan bahwa itu dari Allah. Semua berakhir (mentok) pada "apa yg kami warisi dari nenek moyang" (مَااَلْفَيْنَاعَلَيْهِ اٰبَاءَنَا).

Mengusung kepalsuan (produk palsu) pasti akan mendulang MURKA dan LAKNAT Allah, Pemilik produk (brand) sejatinya Dienul Islam... Inilah yg semua orang Mukmin harus merasa takut. Bukan takut kepada siapapun selain Allah, atau takut menjalani bentuk kehidupan tertentu.

Yg sejatinya ISLAM dari Allah (DIENULLAH) itu SEMPURNA, tidak mengenal kata "tidak cocok" untuk kehidupan manusia kapanpun dimanapun, dg tatanan/struktur sosial politik yg bagaimanapun. Karena semua elemen kehidupan manusia itu bertumbuh kembang secara alamiyah (FITHRAH MANUSIA), tidak ada yg lepas dari bingkai QADAR dan SUNNATULLAH. Sedangkan Dienul Islam itu sendiri Allah menyebutnya sebagai : ..... فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ.... (suatu fitrah Allah dimana Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah tsb . [Ar Rum : 30]), maka tidak ada satupun elemen Dienul Islam yg pengaplikasiannya harus DIPAKSAKAN. Inilah esensi dari : لَآ إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ (Tidak ada pemaksaan dlm Dienullah). Tidak ada yg perlu dipaksakan, karena segalanya selaras dg fithrah manusia.

Allah itu Maha Sempurna, Maha Berilmu, Maha Canggih, Maha Pencipta, yg tak akan pernal gagal dalam penciptaan apapun dan tak akan gagal mewujudkan segala kehendak dan agendaNya. Jangan pernah berpikir bahwa kehidupan manusia yg tercipta ini tidak sesuai dg "desain" (fithrah) yg Allah tetapkan. Adakah kekuatan yg melebihi Tuhan sehingga sanggup menggagalkan agendaNya...?

Maka oleh sebab itu, ideologi hitam yg diusung PKS, HTI dan kelompok2 puritanis wahabi lainnya, tak lebih dari merecoki, mengganggu dan merusak agenda Allah (yg Allah sebut "mufsiduun") yg tak juga mau mendengan dan menyadarinya disebabkan gelap hitam yg menyelimuti.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ قَالُوٓاْ إِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُونَ * أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡمُفۡسِدُونَ وَلَٰكِن لَّا يَشۡعُرُونَ
Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.”
Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah pembuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari. (Al Baqarah : 11,12)

Cermat dan waspadalah selalu untuk tidak terseret pada kegelapan hitam yg tanpa sadar mendulang murka dan laknat Allah..

.... رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا ٱلۡبَلَدَ ءَامِنٗا وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ
....“Tuhan, jadikanlah negeri ini aman sentosa, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala...

Sumber : Status Facebook Uju Zubaedi

Monday, March 25, 2019 - 10:45
Kategori Rubrik: