Pilih Pemimpin yang Militan, Jangan Roman Picisan

Dalam KBBI, arti Militan adalah bersemangat tinggi, penuh gairah,serta penuh pengabdian. Picisan adalah uang ketip/sen atau cerita-cerita bermutu rendah.

Dalam kasus kepemimpinan di Indonesia, dan merujuk kepada tingkat militansi pemimpin nasional dalam hal ini presiden, terlihat dan terukur, dari mulai Soekarno, kemudian Soeharto, SBY dan sekarang Djoko Widodo. Bukan mengabaikan Habibie, Gusdur, dan Megawati, namun karenausia kepemimpinan mereka relatif pendek dan banyak diganggu, sehingga outputnya tak maksimal.

I SEDANG DISATRONI ORANG BERAKHLAK KELAS MURAHAN. CUMA MENANG DIPENAMPILAN, PINTER NGOMONG UNTUK DAGELAN, DIA PIKIR NEGERI INI BUTUH STAND UP COMEDY.

 

Jokowi, walau terus diriwu'i, dimaki-maki dalam dosis tinggi dan kadang sampai seperti kesurupan, dipaksa disampaikan, padahal semua cuma isapan jempol orang yg " dodol ". dalam tulisan saya sebelumnya, untung Jokowi bukan tipe manusia berangasan, emosian, bermulut enteng, kebayang negeri yg khatulistiwa yg indah sejak bernama Nusantara, cuma mau dijadikan ajang sepak terjang orang-orang " MURAH " yg mengemas dirinya dengan bak Arjuna berkuku Gatot Kaca, tapi yg keluar cuma bicara, tak bisa kerja, kerja nyatanya hanya untuk dirinya dan para kroni untuk memperkaya diri, mencuri, bagi-bagi, diri dikerukupi emosi tinggi makin menjadi-jadi, prilakunya menjadi PERI-DIBUMI.

Jokowi, iya Jokowi. Manusia berdedikasi tinggi, militansinya tidak usah diragukan lagi, karena ia telah selesai dengan dirinya sendiri. Dia tidak butuh penampilan, dia tidak butuh jabatan, dia tidak butuh pengakuan, yg dia minta cuma KEWARASAN dari orang-orang yg terus menyerangnya untuk melihat hasil kerjanya, dari gesturnya dia cuma meminta, kalau mau menilai orang berkacalah dicermin jangan memaksa berkaca dengan kaca mata kuda. Manusia yg telah melalui tempaan dalam kesulitan hidup di Bantaran Kali ini, tidak usah diajari untuk menjaga dirinya agar terus bijaksana, dia tau dan faham, ingat "faham" bukan sekedar mengerti, dia "menyimak", madrasah keluarga sejak kecil, dituturi oleh orang tua yg bisa meemberi tauladan, Hidup harus punya kontribusi terhadap alam dan lingkungan, itulah pesan ringan yg mendalam dari seorang Bapak Notomiharjo, seorang pedagang kayu bakar yg membakar semangat hidup anak-anaknya dengan berbuat, peduli dan jujur menjalani hidup.

Hari ini pada headline Jawa Pos menampilkan hasil survey terbaru elektabilitas Jokowi, ada yg 50,9 % ada yg 44,5 %, rawan buat petahana. Ukuran elektabilitas selalu diributkan menjadi angka dewa seolah itu menjadi tujuan sebuah perjalanan menuju perubahan, dimana negeri ini lama dihempas-hempaskan oleh para durjana berkelakuan setan. Media kadang cuma menampilkan headline, kurang membantu untuk menyuarakan hasil kerja nyata yg outputnya untuk bangsa yg nyaris porak-poranda setelah dibegal oleh pemimpin berpenampilan santun, runtun, tak taunya penyamun.

Dedikasi, integritas, militansi, itulah yg ada pada Jokowi, kita tau hasilnya dicoba dikaburkan oleh para pemangsa dengan moral rendah yg dipaksa untuk diterima, mereka lupa kita punya mata hati, bukan sekedar memata-matai untuk modal caci maki. Mereka lupa Jokowi tidak sendiri, Jokowi sekarang bersama KITA, KAMI, ANDA, DAN SELURUH ORANG-ORANG YG CINTA NEGERI. Bukan manusia bermental pencuri berpenampilan santri.

KITA HARUS TEGAK BERDIRI JANGAN IKUT JADI BANCI. KITA BERPIJAK PADA KARYA BESAR JOKOWI BUKAN KARYA MURAH PARA GALI. BANGKITLAH ANAK MUDA KARENA NEGERI IN

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Tuesday, October 24, 2017 - 00:15
Kategori Rubrik: