Pilih Orang Baik Atau Penjahat

Oleh: Sunardian Wirodhono

 

Presiden yang kuat dan integrated seperti Jokowi, belum bisa jadi jaminan. Eksekutif butuh dukungan kerjasama legislatif dan judikatif. Bukan untuk satu suara dalam kepentingan pragmatis, melainkan bekerja dalam proporsi masing-masing, demi kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur. 

Parlemen yang kuat dan benar, adalah pilar penting negara bangsa. Kebrengsekan parlemen selama ini, akan makin merajalela jika rakyat justeru membiarkan. Apatisme rakyat akan membuat lembaga ini makin tak terkontrol. Sungguh berbahaya, karena Parlemen bukan hanya soal pengawasan, melainkan pembuatan UU, rekrutmen pimpinan lembaga tinggi negara seperti MK, MA, KPK, Kapolri, Panglima TNI dan komisi-komisi negara, RAPBN, Utang Luar Negeri, harus melalui persetujuannya. 

 

Kembali mengutip omongan Abraham Lincoln, para pemilik suara adalah yang sebenarnya menentukan arah bangsa dan negara ini. Apalagi sekarang diadakan Pemilu Serentak. Bukan hanya Presiden, tapi juga memilih wakil rakyat di DPD, DPR dan DPRD. Dalam sehari janji perubahan ada di tangan rakyat sepenuhnya.

Maka sangat disayangkan, jika sebal dengan kualitas parlemen justeru cuek-bebek. Jika mau membantu Jokowi, selain memilih sebagai presiden, pilih caleg yang partainya berada dalam koalisi Jokowi. Setidaknya itu akan membuat sinergi Jokowi dengan parlemen lebih baik. Atau coblos caleg yang fresh, bukan nama lama yang kita sudah tahu keburukannya.

Vox populi vox deo. Suara rakyat suara Tuhan, di situ konteksnya. Rakyat yang menentukan, bukan politikus. Menurut de Gaulle, Presiden Perancis dulu, politik urusan yang terlalu serius untuk ditangani para politisi. 

Menurut orang pinter, paling kurang dua pertiga kemalangan kita berasal dari kebodohan, kebencian, disamping para motivator atau hakim penentu kebencian dan kebodohan itu, ditambah idealisme, dogmatisme, dan penyepuhan label atas nama agama atau politik. Perhatikan mereka mencampuradukkan agama dan politik, seperti acap disuarakan Amien Rais, Rizieq Shihab, atau Neno Warisman. Alat apa yang bisa dipakai mengukur, bahwa orang-orang itu mendapat mandat Tuhan? Iman, atau keyakinan? Kalau kita tidak yakin, ‘gimana?

Bila kita secara buta menerima sebuah agama, apalagi masuk dalam sistem politik, kita menjadi robot. Kehilangan daya kritis. Mereka yang mengatakan agama tak ada urusan dengan politik, kata Mahatma Gandhi, tidak tahu apa itu agama. Karena bukan hanya menjadi alat legitimasi, agama juga dipakai mendelegitimasi, bahkan memfitnah sekali pun. Benjamin Whichcote mengatakan; di antara politisi, penghargaan terhadap agama membawa keuntungan, tapi di dalam politik, prinsip agama itu menyulitkan. Sistem kepercayaan yang monolitik, bertentangan dengan prinsip demokrasi yang egaliter.

Semuanya tentu berpulang pada rakyat, pemegang kedaulatan, yang empunya peluru perubahan di atas kertas itu. Milih orang baik, atau penjahat yang berkedok malaikat. | 

 

Sumber: facebook @sunardianwirodono

Wednesday, April 3, 2019 - 02:15
Kategori Rubrik: