Pilih Kemajuan Seperti China Atau Pakistan?

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Bupati Masfuk dari Lamongan beberapa tahun lalu meminta pemuda pemuda Lamongan “Kalau kalian ingin maju, belajarlah Bahasa Mandarin, bukan belajar Bahasa Arab”. Terdengar aneh mungkin di kalangan kaum santri Lamongan. Namun itulah visi kemajuan Masfuk yang seorang pengusaha sebagai bupati yang merubah Lamongan dari daerah minus menjadi seperti sekarang. Beberapa tahun kemudian terbukti China menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia. Menguasai bahasa Mandarin akan memicu keuntungan ekonomi.
Bupati Masfuk berpikir realistis meskipun tidak populer idenya.

Cukup mengejutkan apa yang terjadi di China belakangan ini. Buku sejarah dunia yang diajarkan di sekolah menengah di Shanghai, yang kemudian diajarkan di sekolah-sekolah seluruh China, diubah isinya. Buku sejarah tidak lagi bercerita tentang dinasti-dinasti dan peperangan atau partai komunis dengan revolusinya. Sejarah dunia yang diajarkan kepada anak-anak sekolah fokus pada gagasan tentang pertumbuhan ekonomi, perdagangan luar negeri, penemuan teknologi, inovasi, harmoni sosial, keberagaman budaya. Gambar-gambar tentang JP Morgan, Bill Gates, Bursa saham New York, satelit ruang angkasa AS, kereta api cepat Jepang, lebih ditonjolkan. Bahkan sosialisme hanya dibahas dalam satu bab buku pelajaran sejarah SMA. Visi kemajuan China tergambar dari apa yang diajarkan di sekolah. Itulah kurikulum pendidikan bervisi masa depan. Kini semua sudah terbukti China menjadi adi daya baru.

Sementara di Pakistan sebanyak 1,5 juta murid belajar di lebih dari 13000 madrasah. Mereka tidak diajari pendidikan umum yang membekali mereka untuk memasuki arus besar perkembangan dunia dan berkompetisi dengan anak-anak dari negara lain untuk berebut peluang kerja. Bahkan Supreme Court mereka mencatat bahwa di madrasah itu tidak ada pelajaran bahasa Inggris, Pakistan atau Urdu dalam kurikulumnya. Lulusan madrasah ini tidak bisa berbuat banyak untuk menggerakkan ekonomi atau membantu hidup mereka di dunia ini kecuali membangun mesjid. Yang tergambar setelah lulus adalah menjadi pejuang atau jihad. Nggak tahu jihad macam apa. Pakistan contoh negara berbasis agama yang isinya rebutan kekuasaan, bom meletus, kekerasa, nggak beranjak maju. Kishore Mahbubani menulis dalam bukunya, The New Asian Hemisphere: The Irresistible Shift of Global Power to the East. Dia seorang profesor di NUS, Singapura.

Membaca fakta ini, saya sedikit khawatir menemukan fakta di sekolah-sekolah kita. Ada kemiripan juga dengan Pakistan. Dari penelitian lembaga penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang menemukan lebih dari 40% guru agama di Indonesia berpendapat bahwa belajar ilmu pengetahuan tidak penting, yang penting adalah ilmu agama. Mudah-mudahan hasil survei tsb.tidak benar-benar menggambarkan fakta di kalangan guru.
Kalau itu yang terjadi, maka masa depan anak-anak kita bakal suram. Mereka tidak siap menghadapi kompetisi di dunia nyata. Mereka justru akan diajari oleh gurunya untuk meninggalkan urusan dunia yang harus dihadapi dengan ilmu pengetahuan. 

Belajar agama tentu tidak salah, tetapi menafikan ilmu pengetahuan jelas bertolak belakang dengan semangat belajar agama. Sedangkan ajaran agama memberi tempat yang mulia bagi pembelajar ilmu.
Ya kondisi kurikulum kita lebih baik dari Pakistan....tapi gurunya perlu juga mengubah cara berpikirnya, kita hidup di dunia..wujud dunia saat ini adalah hasil oleh pikir dan olah laku manusia yang memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tuhan memang Maha Kuasa tetapi Tuhan mewakilkan kepada manusia (khalifah di bumi) yang punya akal budi untuk mengurus dunia ini...bukan untuk mengurus akherat.

Ketika pengaruh China melanda hampir semua aspek kehidupan sampai ke semua penjuru bumi, sebagian kita protes. Tetapi justru kita tidak menyiapkan langkah-langkah yang jelas untuk menghadapi geliat China ini. Kalau pengaruh kemajuan China dihadapi dengan memikirkan akherat, pasti kita ajan makin takluk.

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Monday, May 20, 2019 - 09:30
Kategori Rubrik: