Pilih Capres Optimis Atau Capres Pesimis?

Ilustrasi

Oleh : Winata Ali

PAK WIDO ;

Nak, Tuhan memberikan kita akal budi supaya kita bisa berikhtiar. Keterbatasan dan kekurangan kita bukanlah garis tangan yang tak bisa diubah dan harus diratapi. Justru itu menjadi tantangan yang harus diatasi, dan membalikkannya dengan prestasi.

Bapak ibumu cuma buruh berpenghasilan pas pasan. Tapi kalau sekedar membiayai kamu lulus SMA kami masih mampu. Belajar yang tekun nak, raihlah nilai yang bagus. Nanti bapak bantu carikan beasiswa, atau kamu daftar ke lembaga pendidikan milik pemerintah yang membebaskan biaya pendidikan melalui ikatan dinas.

Pokoknya hidup harus optimis nak. Bergaul dengan kumpulan orang baik. Jangan terjebak dengan narkoba atau pergaulan bebas. Jangan macam macam ya dengan kehormatanmu. Bukan sekedar soal keperawanan nak, tapi ini menyangkut moralitasmu. Kau jaga baik baik, itu harga dirimu. Rajin rajinlah beribadah, jangan lupa sholat 5 waktu.

Siapa tahu Tuhan memberimu jodoh yang baik, punya penghasilan lumayan dan memberimu kemapanan. Bapak ibu percaya kamu bisa hidup lebih sejahtera dari ortumu yang dua duanya cuma jadi buruh pabrik. Kamu harus optimis nak. Masa depanmu adalah apa yang ada di pikiranmu saat ini. Jika kamu berpikir hal hal yang baik, alam semesta akan meresponnya dan menunjukkan jalannya padamu.

PAK SUBI ;

Takdir memang kejam nak. Kehidupan tak berpihak kepada kita. Sepertinya kemiskinan dan kekurangan digariskan menjadi bagian hidup kita. Makanya kita boleh mengutuki kehidupan ini, dan meratapinya.

Terserah kamu mau jadi apa nak. Peran bapak ibumu cuma melahirkanmu ke dunia ini, memberimu nama, menguruskan akta, mengajari kamu berjalan dan berbicara, juga menetapkan apa agamamu. Yang lain lain silahkan kamu perjuangkan sendiri.

Hidup memang keras dan sulit nak. Entahlah, kenapa bapakmu dilahirkan cuma jadi anak seorang tambal ban. Kenapa bapak tidak terlahir dari rahim seorang saudagar atau bangsawan. Bisa apa seorang tambal ban membesarkan anak anaknya? Jadinya cuma begini saja. Bapakmu cuma jadi tukang parkir.

Kamu mau sekolah terserah, asal cari uang sakumu sendiri. Sana ngamen di traffic light atau apa, biar punya penghasilan. Kalau SPP bapak yang tetap usahakan. Kamu sekolah serius juga percuma, toh bapakmu tak bisa bantu menguliahkan kamu.

Takdir kita memang begini nak. Yang penting kita hidup. Biarkan orang orang kaya itu memandang sebelah mata kepada kita. Memang ini takdir kita. Kita bisa apa? Bisa makan 3x sehari dan atap rumah gak bocor, sudah kebahagiaan bagi orang orang susah seperti kita.

ANDA PILIH CAPRES YANG OPTIMIS DAN BERANI MENGAJUKAN INDONESIA SEBAGAI TUAN RUMAH OLIMPIADE 2032?

ATAU PILIH CAPRES YANG SUKA BERPIKIRAN PESIMIS YANG MERAMALKAN TAHUN 2030 INDONESIA BISA BUBAR ATAU MISKIN PERMANEN?

Sumber : Status Winata Ali

Sunday, September 2, 2018 - 17:15
Kategori Rubrik: