Peta Para Penebar Hoax

Ilustrasi
Oleh : Rijal Mumazziq
 
--- Anda bisa saja cerdas di bidang akademis, alim di bidang agama, tapi itu tidak cukup untuk menyelamatkan anda dari tsunami informasi yang berbasis kepalsuan. Butuh daya kritis yang diimbangi dengan kemampuan menahan diri untuk tidak menyebarkan informasi yang belum tentu teruji validitasnya. Hoax bisa saja melambungkan popularitasmu dalam sekejap mata, namun di sisi lain juga bisa meruntuhkan reputasimu.
 
--- Di Dunia nyata maupun dunia maya, anda akan menjumpai saudara-saudara kita yang kemenyek. Selalu menanyakan “mana dalilnya?” Tapi ketika disodori hoax “agama”, langsung saja memencet tombol share. Jika ditanya, valid kah informasi yang disebarkan? Jawabnya, entahlah, saya hanya menyebarkan. Wooooo!
 
--- Di antara ciri khas hoax: (1) too good to be true alias terlalu sempurna untuk jadi kenyataan; (2) too bad to be true alias terlalu mengerikan untuk jadi kenyataan. Kalau anda pernah menonton video ikan pari berwajah mirip manusia yang diiringi dengan suara lantunan ayat al-Qur’an, kemudian disertai dengan keterangan bahwa ini adalah wujud anak parempuan yang dikutuk menjadi ikan pari karena durhaka kepada ibunya, maka berarti anda seusia dengan saya, hahahaha. Sebab, video ini nongol di era awal hape berkamera-video dirilis. Kalau video ini benar, saya ingin menelusuri alamat si ibu sekaligus bertanya, “Kenapa sih bu, anaknya nggak dikutuk menjadi ikan Arwana saja, kan harganya mahal, lumayan buat menebus penderitaan ibu, daripada dikutuk jadi ikan pari yang di Surabaya berakhir di warung sambel penyetan?” wkwkwkw
 
--- Di antara ciri hoax yang beredar via broadcast, menggunakan (1) Kalimat bombastis, sugestif, dan heboh, misalnya “Awas, 7 juta tuyul beranak pinak menjelang lebaran. Waspadalah. Sebarkan!”
 
(2) Mencatut lembaga terkenal, misalnya, “NASA menengarai ada asteroid coklat yang akan menghantam ladang gandum dan jadilah Koko Krunch! Viralkan, raih amal sholeh dengan menyebarkan informasi ini. Takjiiil, eh takbiiiir!"
(3) Penelitian palsu. Misalnya, “Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Profesor Zlatan Ibrahimovic menemukan fakta, bahwa setelah berjongkok selama 15 menit, manusia bisa mengalami kesemutan, anehnya semut tidak bisa mengalami kemanusiaan. Sungguh, penelitian yang mencengangkan dokter di Barat. Fakta ini sengaja ditutup-tutupi oleh pihak Barat agar umat Islam bla…bla…bla…! Sebarkan, raih amal soleh dengan berbagi informasi gendeng seperti ini!”
 
--- Begitu canggihnya kemasan hoax hari ini, dusta bisa dikemas sangat menarik hingga penyebarnya merasa berjuang, padahal hanya berjualan. Di fesbuk juga banyak informasi editan mengenai bencana alam hingga lafal Allah di awan, di pijaran lava, dan sebagainya. Tujuannya, untuk membuktikan kebesaran Allah. Halah, ayolah kawanku, Allah Mahabesar, tidak butuh editan photoshopmu untuk membuktikan keagunganNya.
 
--- Dulu pernah adik kelas saya memposting isu penculikan anak lengkap dengan info mutilasi, yang menurutnya, terjadi di daerah Sidoarjo. Sahabatnya menanggapinya dengan komentar yang tak kalah seru, bahwa kejadian mutilasi ini juga ada di tetangga desanya. Keduanya terlibat percakapan seru, yang sebatas saya tahu, berbasis pada kebohongan yang mereka percayai dan mereka perbincangkan. Sama-sama berbohong agar terlihat paling update info. Saya mencoba masuk ke kolom komentar FB, lalu memintanya agar besok mengantarkan saya ke TKP, sebuah desa yang dia sebut barusan. "Tolong antarkan saya ke desa tersebut mas, karena saya akan menyantap daging hasil mutilasi tadi."
 
Saya diblokir! Wkwkwkwkw
 
Mengapa saya katakan bahwa perbincangan di atas berbasis pada kebohongan? Sebab di zaman ketika media membanjir sedemikian rupa, penculikan yang terjadi akan diliput media, lengkap dengan kronologi peristiwa dan KETERANGAN DARI APARAT KEPOLISIAN sebagai pihak yang berwenang menangani perkara kriminal. Apabila terjadi di sebuah daerah, tentu peristiwa kriminal akan diliput sedemikian rupa, khususnya di media-media mainstream. Jika di Sidoarjo, sebagaimana yang diperbincangkan sahabat saya di atas, tentu Jawa Pos, minimal Radar Sidoarjo dan kantor berita online berbasis lokalitas, akan memblow-upnya gede-gedean. Lha kalau hanya beredar via WA, apalagi disertai gambar dan video mutilasi (yang kalau tidak salah terjadi di penjara Brasil beberapa tahun silam), bisa dipastikan itu hoax.
 
--- Akhirnya, kredibilitas kita tergantung pada apa yang kita perbuat. Ketika langsung menuliskan kabar maupun membagikan berita yang nggak jelas validitasnya, baik via fesbuk, wa, maupun sms, lama kelamaan orang juga nggak percaya terhadap apa yang kita sampaikan. "Cukuplah seseorang dikatakan BERDUSTA, jika ia menceritakan SETIAP yang dia dengar.” ini dawuhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lho. Kalau sekarang ya cukuplah seseorang dikatakan nggedabrus alias ngapusi jika dia menceritakan apa yang dia baca di WA, fesbuk, atau internet, lalu menyebarkannya padahal belum tentu terbukti kebenarannya.
 
--- Saya jadi ingat salah satu episode Upin Ipin di saat mereka mementaskan sebuah lakon sandiwara "Penggembala dan Serigala". Seorang anak menggembala domba di atas bukit, dia iseng berteriak minta tolong karena ada serigala datang. Para petani tergopoh-gopoh mau menolongnya. Ternyata anak ini hanya iseng, tak ada serigala. Dia kemudian mengulangi ulah isengnya, dan saat petani datang, dia hanya terbahak-bahak melihat ulah konyolnya. Para petani dongkol, merasa dikerjai. Hingga akhirnya ketika serigala benar benar datang dan si penggembala berteriak minta tolong, para petani sudah tidak lagi mempercayainya. Dia terlalu sering berbohong sehingga kebenaran yang disampaikan pun akhirnya dianggap bualan belaka. Ini adalah salah satu episode terbaik "Upin Upin".
 
Tahukah anda siapa pemeran Penggembala Nakal di sandiwara panggung itu? Dialah Jarjit Singh, sahabat saya. Ho ho ho.....Ayahnya dengan bangga datang menonton dan menampilkan raut muka bahagia melihat penampilan putranya.
 
Dari ulasan di atas, pertanyaan pentingnya: berapa ukuran sepatu ayahnya Jarjit?
 
Dua tiga makan mie gelas
Hindari nyebar kabar nggak jelas
Ho ho ho...
 
Wallahu A’lam Bisshawab
---
Beberapa poin yang saya sampaikan dalam Materi “Cerdas dan Kritis dalam Bermedsos” yang disampaikan dalam Ramadhan Camp Remaja Masjid Al-Akbar Surabaya (MAS), Sabtu, 11 Ramadan 1439 H/26 Mei 2018.
 
Sumber : Status Facebook Rijal Mumazziq
Saturday, June 2, 2018 - 13:45
Kategori Rubrik: