Pesantren dan Sebuah Keterkenangan

Ilustrasi

Oleh : No Name

Di pesantren, kami pernah mengidap gudigen, wudunen, kukulen, kadasen, temumulen, rangen, dan ragam penyakit berakhiran "en" yang tak keren lainnya.

Jika kebetulan kami sedang mencuci, tak jarang - dengan alasan hemat - Rinso pun jadi sabun mandi, malah sak dulit sabun dangdut bisa three in one untuk creambath, hair spa, dan hair mask. "Sing penting mumpluk" adalah prinsip kami.

Jangan tanya urusan makan. Kami biasa tirakat mutih, baik karena sebuah amalan maupun sebab kahanan. Lauk sedikit kedaluarsa yang memunculkan sensasi rasa alami: "kecut", pun masih bisa lancar melintasi kerongkongan kami. Makanan sedikit, kami bisa bersyukur, banyak pun kami tak akan memubazirkan.

Apalagi soal tidur. Cerita bantal kayu, bantal kapas yang penguk dengan selusin tambalan dan khas aroma iler, adalah fakta. Dengkur teman yang sesekali teriring kentut adalah semacam ninabobok. Dan balik dinding pondok putri, menjadi tempat favorit kami dalam melabuhkan safari mimpi-mimpi.

Nyileh ora nembung, adalah hal wajar. Pada semisal sandal, sarung, dan baju. Bukan semisal sempak tentunya. Kitab kuning menyebutnya ghasab, namun kami sendiri lebih merasa itu sebagai bagian dari ukhuwah. Tepatnya rasa saling memiliki.

Utang, adalah tradisi kreatif kamu dalam upaya mempertahankan hidup. Dan ini, masih kami pertahankan dan masih kami lestarikan hingga kini, sebagai semacam leluri bahkan ideologi.

Dan masih banyak lagi keterkenangan-keterkenangan kami akan kisah hayati sebuah ekosistem bernama pesantren.

Sekarang kami sudah hidup di tengah keluarga kecil, di tengah masyarakat, dan di tengah kalian. Mengabdikan diri untuk agama dan negara. Dengan khas ciri kami: sederhana dalam religiusitas yang kental.

Selamat Hari Santri 22 Oktober

Sumber : Status Facebook Awan Kurniawan

Sunday, October 22, 2017 - 20:30
Kategori Rubrik: