Pesan Terselubung Aksi Damai 212

Oleh : Taufiqurrahman Al Azizy

Terpaksa saya berpikir keras untuk mencari pesan-pesan apa yang hendak disampaikan melalui demonstrasi yang dibungkus dengan judul “Aksi Damai Bela Islam” Jilid 3 212 . Jujur, kepala ini rasanya mau pecah sebab nalar saya mendadak bengkok apabila saya terus mengikuti pola pikir Habib Rizieq, Imam Besar FPI.

Dalam banyak kesempatan, dilansir media pula, Habib Rizieq menyatakan, “Tujuannya tetap sama, tahan Ahok. Aksi bela Islam I tujuannya tahan Ahok, aksi bela Islam kedua tujuannya tahan Ahok, aksi bela Islam 3 tujuannya tahan Ahok.”

Tujuannya adalah tahan Ahok, tetapi bentuk aksi berbelok menjadi serupa kegiatan ibadah, maka di sinilah nalar saya menjadi bengkok.

Saya harus menerima fakta bahwa aksi 212 ini telah melibatkan kaum muslim dari berbagai daerah. Ciamis, Bogor, Bandung, Banten, dan lain-lain bergabung menjadi satu di bawah komando GNPF MUI. Saya baca media bahwa KH Abdullah Gymnastiar (AA Gym) mengerahkan 10ribu santrinya untuk menjadi tim kebersihan dalam aksi. Tetapi saya baca pula bahwa PB NU menyerukan agar warga NU tidak terlibat dalam aksi.

Dicermati dari sini, aksi 212—sebagaimana pula aksi 411—tidak bisa dianggap sebagai aksi yang mewakili kaum muslim di negeri ini secara keseluruhan.  Dengan demikian, jika aksi 212 ini mengatasnamakan Islam dam kaum muslim, sesungguhnya tertolak oleh fakta bahwa tidak semua muslim sependapat dengan aksi tersebut di samping pula keseluruhan muslim di negeri ini jauh lebih banyak yang tak ikut.

Mencermati keadaan yang demikian, saya menemukan setidak-tidaknya ada dua pesan yang hendak disampaikan melalui aksi 212. Pertama, pesan politis. Pesan ini berupa tuntutan agar Ahok ditahan. Tak penting apakah bungkus aksi berupa kegiatan ibadah atau orasi, pesan agar Ahok ditahan adalah pesan yang selama ini memang terus diteriakkan oleh Imam Besar FPI.

Tuntutan agar Ahok ditahan bisa dipahami dalam dua konteks. Pertama, meminta agar Ahok ditahan sekarang juga sebab statusnya telah ditetapkan sebagai tersangka. Dalam konteks ini, makna “ditahan” berarti Ahok seharusnya tak bebas, tak hanya dicegah untuk tidak keluar negeri, tetapi ditangkap hingga waktu digelarnya sidang pengadilan. Kedua, meminta agar Ahok dipenjara. Dalam konteks ini, targetnya adalah Ahok bersalah, Ahok dihukum, dan Ahok dipenjara.

Follow Qureta Now!

Konteks pertama, tak mungkin dicapai. Setidak-tidaknya sampai tulisan ini saya buat, Ahok masih “bebas”. Ahok tidak ditahan. Ahok masih bisa melakukan haknya sebagai warga negara sekaligus sebagai calon gubernur untuk berkampanye. Bagaimana dengan konteks kedua? Di sinilah kekhawatiran saya muncul.

Jika anda merasa bahwa anda benar dan hukum seharusnya sejalan dengan kebenaran yang anda pahami, tentu rasa keadilan akan anda dapatkan. Sebaliknya, apa yang akan terjadi apabila anda merasa benar, sedangkan hukum menyatakan sebaliknya?

Konkritnya: Seandainya nanti Ahok diputus tidak bersalah oleh sidang pengadilan, sedangkan anda selama ini menganggap Ahok telah menista agama, Ahok bersalah, dan Ahok pantas dipenjara, apa yang akan anda lakukan?

Kembali pada pesan pertama, aksi 212 adalah upaya “kekuatan sipil” yang tengah melakukan pressure untuk mencapai tujuannya, yakni penahanan Ahok. Jika selama ini kita berteriak agar persoalan hukum jangan diintervensi, aksi 212 justru menunjukkan intervensi itu sendiri.

Pesan kedua adalah “show of force”. Mempertontonkan kekuatan. Bahwa kaum muslim itu kuat. Kaum muslim itu bersatu. Kaum muslim itu tak akan tinggal diam pabila ada pihak-pihak tertentu hendak “bermacam-macam” dengan Islam. Jangan kau hina Islam, sebab kau akan berhadapan dengan kaum muslim. Jangan kau cela al-Qur’an, sebab kau akan menghadapi kekuatan kaum muslimin. Jangan kau hina ulama, sebab kau akan berlawanan dengan kaum muslim!

Dunia akan melihat hal itu. Linimasa akan menyebarkan jalannya aksi, pertunjukan ribuan atau ratusan ribu kaum muslim yang berkumpul dalam satu tempat akan menjadi trending topic tingkat dunia. Foto-foto aksi mungkin akan sampai di meja Donald Trump, Vladimir Putin, Benjamin Netanyahu, dan Xi Jinping!

Maka, jangan lukai Islam. Jangan nodai kesucian kitab al-Qur’an. Awas kau, PKI: Jangan macam-macam. Tidak ada tempat bagi komunisme di negeri ini. Wahai, kaum liberal: Jangan kalian rusak akidah kaum muslim dengan liberalisme yang kalian anut. Mari kembali pada al-Qur’an dan Sunnah. Hidup NKRI!!

Sampai di sini, saya mengelus dada. Mendadak sesak nafas saya. Islam dan kaum muslim di Indonesia itu “khas”. Kita mudah digerakkan bahkan oleh hal-hal yang belum tentu benar, hal-hal yang belum jelas, hal-hal yang masih tampak “subhat”. Tak salah jika ada yang berpendapat bahwa sebagian dari kita ini menjadi muslim “sumbu pendek”—sedikit saja dijilat api, meledak.

Aksi 212 adalah momentum. Positifnya, semangat bela Islam tertampakkan ke permukaan. Di saat kaum muslim lain “sibuk” dengan urusannya masing-masing, “tidur” dengan persoalan yang melibatkan “kemuliaan” Islam, masih ada muslim yang “bangun”, muslim yang “sadar”, muslim yang menampakkan “pembelaan” di muka umum.

Orang-orang kemudian akan berpikir: Momentum yang demikian ini patut untuk terus dijaga. Patut untuk dipelihara. Aksi-aksi damai seperti ini harus terus digalakkan. Suara-suara muslim harus terus diteriakkan. Mari kita aksi lagi!

Tetapi, apakah persoalannya sesederhana itu? Tentu, tidak! Seperti telah saya singgung pada tulisan sebelumnya: Ada banyak kepentingan yang bermain. Islam bukan Jakarta, dan Jakarta tengah bergulat dengan dirinya sendiri. Kaum muslim di negeri ini pun terkotak-kotak, sebagaimana pula terkotak-kotaknya para ulama. Islam satu, kitab sucinya juga satu, tetapi kaum muslim berbeda-beda.

Dan yang berbeda-beda ini, memiliki kepentingan sendiri-sendiri pula. Tak masalah jika kepentingannya sama, yakni bagaimana menjadikan ruh (substansi) Islam sebagai dasar dan semangat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Masalahnya, ada yang nuntut tegakknya Khilafah Islamiyah di negeri ini, tetapi lebih banyak yang menolaknya. Ada yang mengamalkan tahlilan dan ziarah kubur, ada pula yang antipati dan menyesatkannya.

Akhirnya, saya membayangkan seperti ini: Jika saya bisa mengumpulkan 100ribu kaum muslim di Monas, hari Jumat, lebaran kuda, dan saya memimpin 100ribu ummat Islam ini untuk membaca bersama-bersama kitab Dalail al-Khoirot, apakah anda akan menganggap saya sesat dan pantas masuk neraka?**

Sumber : qureta.com

Monday, December 5, 2016 - 06:30
Kategori Rubrik: