Pesan Penting Bulan Karunia : Ability Not Disability

ilustrasi
Oleh : Agung Wibawanto
 
Disabilitas sering disandingkan bagi mereka yang tidak memiliki kelengkapan anggota tubuh dan fungsinya layaknya manusia normal. Namun jika diistilahkan, disabilitas atau disability (bhs Inggris) artinya 'tidak mampu' atau ketidakmampuan. Benarkah penggunaan sebutan tersebut? Tidak mampu apa? Apakah kemudian orang normal mampu melakukan semuanya?
Mari kita lihat, tidak perlu jauh-jauh. Banyak hal yang tidak mampu saya lakukan. Saya tidak mampu bernyanyi dengan bagus, tidak mampu menari, tidak mampu melukis, bahkan kadang tidak mampu menahan emosi. Akuilah. Saya juga pernah menipu, berbohong, dan berlaku curang. Saya suka mengeluh, tidak sabaran, tidak ikhlas, atau kadang tidak mau tahu kepada orang lain.
Padahal saya manusia normal. Saya memiliki atau tidak kekurangan fungsi anggota tubuh. Lantas apakah saya berkemampuan? Apakah saya ability dan mereka yang kurang normal menjadi disability? Tidak semua hal mampu dilakukan oleh manusia super sekali pun. Hanya Allah SWT yang Maha Sempurna. Orang tidak normal memiliki keterbatasan namun mereka bukan berarti tidak mampu.
Banyak hal yang justru mampu mereka lakukan namun tidak bisa dilakukan manusia normal. Lihat kembali video opening ceremony Asian Paragames, tahun 2018 lalu. Seorang bocah bernama Bulan Karunia Rudianti (11 th saat itu), mampu menjadi inspirasi sekaligus memotivasi banyak orang, bahkan dunia. Bahwa setiap orang diberikan Tuhan dan memiliki karunianya masing-masing.
Atas itu pula, Bulan dan teman-temannya selalu merasa bersyukur, bergembira dan penuh semangat dalam meraih cita-citanya. Apa yang kurang dari itu? Atau adakah standar yang lebih dari itu agar bisa dikatakan berkemampuan? Banyak pula kini manusia normal yang justru kerap mengeluh dan marah kepada keadaan. Tidak mau berjuang dan berusaha keras. Manusia normal itu sesungguhnya lemah dan tidak mampu.
Pikirkan, apakah kita lebih bisa bertahan (survive) saat tidak punya apa-apa atau saat kita punya segalanya? Ya, saat tidak memiliki apa-apa. Pada saat seperti itu kita mampu bertahan bahkan berjuang agar terpenuhi kebutuhan. Sedangkan saat kita miliki segalanya, kita hanya menghabiskannya saja. Tidak perlu lagi survive.
Itulah kita manusia yang merasa normal dan lebih baik ketimbang yang tidak normal. Tanpa sadar kita memandang 'miring' kepada mereka yang tidak normal, padahal mereka tidak mengeluh bahkan tidak minta dikasihani. Pesan dari Bulan dkk pada video tersebut sangat jelas bahwa mereka merasa mampu. Sama dengan manusia lainnya.
Yang mereka inginkan hanya give them a chance. Beri mereka ruang dan kesempatan. Akui keberadaan mereka dan respek. Karena tidak ada manusia yang lebih hebat daripada manusia lainnya selain akhlak mereka dan peran mereka atas orang lain di sekeliling mereka. Apa guna kita lengkap anggota badan, mampu secara ekonomi, tinggi derajatnya, namun memiliki akhlak buruk dan tidak mempunyai peran positif (pengaruh baik) kepada orang banyak?
Jika dipikir secara logis, kita sudah diberi anugrah anggota tubuh yang lengkap dan berfungsi. Namun kadang itu pun seperti tidak cukup. Tidak disyukuri di saat kita mendapat musibah atau pun dalam keadaan papa. Jika sudah begitu dan kita merasa kalah dengan mereka yang kurang normal namun gembira dan penuh semangat menghadapi hidup, maka dipastikan kita lah yang bodoh. (Awib)
 
Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto
Thursday, September 24, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: