Perusahaan Indonesia Yang Sempat Cicipi Lezatnya Freeport

Ilustrasi

Oleh : Awan Kurniawan

Ironis. Di tengah limpahan emas yang tersimpan di tanah warisan nenek moyangnya, warga Papua kerap merasa terpinggirkan dan hanya mendapatkan remah-remah yang jatuh 'dari meja' jamuan para elit dan pengusaha yang tengah makan besar.

Maka, sejak bertahun-tahun lalu, berbagai konflik terus berlangsung di sekitar tambang Freeport bahkan di tanah Papua. Bahkan, tak jarang konflik itu menumpahkan darah, dan memakan nyawa manusia!

Tambang tembaga dan emas di Papua, tak diragukan lagi menghasilkan uang yang luar biasa besar. Berbagai pihak pun tak henti-henti ingin ikut mencicipinya.

Di masa Orde Baru, Aburizal Bakrie melalui perusahaannya Indocopper dan Bob Hasan melalui Nusamba, sempat menikmati lezatnya uang dari tambang Freeport di Papua melalui saham divestasi. Namun akhirnya semua saham itu kembali jatuh ke tangan Freeport .

Perebutan saham Freeport di Papua berlanjut di era Presiden Jokowi. Sebelum mencapai kata sepakat, proses negosiasi dengan Freeport menempuh jalan panjang dan berliku. Prosesnya berlangsung sulit dan memakan waktu selama 3,5 tahun. Upaya negoisasi, kian ditingkatkan dalam 1,5 tahun terakhir ini.

Hingga akhirnya, negosiasi antara pemerintah dan PT Freeport Indonesia mencapai kata sepakat. Kamis, 12 Juli 2018, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengumumkan ditekennya heads of agreement atau HoA antara PT Indonesia Asaham Aluminium (Inalum) dengan Freeport. Penanda tanganan ini menjadi pertanda beralihnya kepemilikan saham nasional sebesar 51, 2 % saham telah disepakati.

Jokowi menyebut bahwa kesepakatan dengan Freeport adalah lompatan besar. "Ini sebuah lompatan yang kami harapkan akan mendapatkan income yang lebih besar, baik dari pajak, royalti, defiden, dari retribusinya, sehingga nilai tambah komoditas tambang bisa dinikmati oleh kita semua,"

Sumber : Status Facebook Awan Kurniawan

 

Sunday, July 15, 2018 - 14:30
Kategori Rubrik: