Peruri, Kenapa Harus Ahok?

ilustrasi
Oleh : Karto Bugel
 
Sepertinya, Ahok moment perlahan tapi pasti akan mulai menjadi bagian atmosfir kehidupan kita bersama.
Kritis ide dengan bingar suara yang terkadang membuat para disasar punya telinga memerah, jelas akan membuat tuaian riuh jawab.
Marah dan kemudian cacian China hingga kafir, tak pelak bakal bersliweran dalam bising ruang kita hidup.
Ahok is back?
Gugatan tak biasa demi Pertamina yang dianggap telah jauh melenceng terdengar dan kita kembali dibuat sibuk ingin tahu, kemana ini semua akan berjalan. Hanya keributan semata hingga riak dan buih adalah hasil akhir dituai, atau jernih air didapat?
Siapa tak tau Pertamina? Oase duit tak pernah kering hingga ribut dan munafik diperjual belikan demi nikmat disana? Ladang berbagi sebagai tujuan bagi politisi mencapai kata sepakat demi damai?
Itu surga Indonesia dituju.
Paperless kembali dilontarkan Ahok sang Komut yang sengaja disusupkan oleh Presiden pada BUMN gemuk itu. Bukan ide baru, sejak 2013 sudah pernah digaungkan.
Penghematan adalah apa yang sekilas langsung memberi dampak positif. Berapa uang negara demi belanja barang polutif dan ketinggalan jaman itu akan dapat langsung dihemat? Berapa banyak space dan ruang tiba-tiba dapat dikurangi?
Namun, sesuatu yang jauh lebih besar sedang diarah. Korupsi ducegat. Potensi orang untuk kong kalikong hingga menjarah duit negara dapat diminimalisir dengan sistem yang diharapkan lebih transparan dengan kontrol lebih mudah.
Bukan tentang niat baik membuat Pertamina lebih maju kita berbicara, namun efek suara keras tentang sistem paperless itu kini turut bergema menciptakan ruang baru perdebatan.
"Itu sama aja udah dapet Pertamina enggak mau kerja lagi, tidur sepuluh tahun , jadi ular sanca, ular piton saya bilang."
Itu adalah kalimat Ahok saat mendapat angka Rp 500 miliar sebagai harga yang harus ditebus atas proyek digitalisasi yang ingin dibelinya. Anak perusahaan Peruri pemilik bisnis itu menawarkan harga yang dianggap keterlaluan.
“Itu kan enggak masuk akal seperti ini, Anda Peruri sudah dapat Rp 10 miliar, Rp 20 miliar sudah bagus."
Ahok ingin menerapkan sistem tandatangan digital yang segera harus diwujudkan pada masa pandemi ini.
Alasan bahwa pada era pandemi semua orang harus bekerja dari rumah, dan di sisi lain, perusahaan seperti Pertamina harus tetap jalan, maka prinsip tanda tangan digital seperti itulah apa yang menjadi urgensi Ahok.
Saat ini, anak usaha Peruri adalah pemegang izin atas digital security. Siapa saja yang ingin mengamankan digital code-nya, dapat membeli atau berhubungan dengan Peruri. Otentifikasi, adalah tentang lembaga yang melegalisasinya.
Peruri memiliki software otentifikasi itu sekaligus memiliki izin sebagai lembaga yang memegang digital security.
Dalam hal otentifikasi itu Peruri memberikan password kepada setiap pejabat yang terkait dengan tanda tangan tersebut.
Rp 500 miliar, itulah angka yang ditawarkan kepada Ahok.
Sepertinya, tak ada yang harus dibuat jadi ribut bukan?
Demikianlah tanya jawab saya ketika diskusi atas pstingan teman terkait hal ini.
Saya : "Tampaknya, bila 500M yg hrs dibayar ke Peruri dan dia ngedumel, Ahok offside. Atau dia mo sindir siapa knp jadi semahal itu?"
Taman : "Ini kan projects Pertamina yang vendornya Peruri. Berarti ada transaksi diantara mereka. Yang disenggol Ahok karena ada potensi tidak fair dalam transaksi tersebut. Merugikan keuangan negara."
Saya : " Ada jalan lain supaya tidak heboh. Ahok bisa bisikin Menkominfo utk atur ulang perizinan digital security yg dimonopoli oleh Peruri. Kecuali dia mmg mo buang sign agar semua org tahu ada monopoli shg harganya jd suka2. Tp bkn wilayah dia juga kan klo obok2 peruri?"
Teman : "Apapun dibelakang semua ini, rasanya tipis kemungkinan tanpa restu Jokowi. Karena dalam amatanku, hanya Jokowi yang bisa mengendalikan Ahok."
Saya : "Tadinya sy mo tulis bisik2 ke Jkw, tp akan terlihat 'bentar2 koq ke Jkw!' maka trus sy tulis Menkominfo."
"Yg tunjuk anak perusahaan peruri itu, menkominfo bkn? Menkominfo anak buah langsung Jkw bkn? Jd klo seumpama hal spt ini Jkw yang minta, agar Ahok yg omong misalnya, bukankah blunder? Trus apa tujuannya?"
"Ahok bilang harga 500M yg dipatok peruri kemahalan atas program yg akan dia beli.
Apa sih sesnsi dari mahal dan murah?"
"Namanya pedagang, klo bs jual lbh mahal, adakah yg salah? Apalagi bila cm dia satu2nya yg punya barang itu kan?"
"Ada hal aneh yg hrs kt cermati. Namun bila ngedumelnya soal peruri yg kebangetan jualan itu barang, harusnya, ga usah dibeli."
"Bahwa itu sangat dibutuhkan dan ga ada otoritas yg menjual selain peruri misalnya, omong ke menkominfo dan atau ke presiden saja dong!"
"Pasti ada maksud?"
"Ga tau deh klo setiap ada maksud, harus dengan heboh dibuat. Masih kurangkah negri ini brisik dan gaduh?"
Teman : "Kita tunggu saja lanjutnya Mbah. Masih banyak pertanyaan yang sulit dijawab."
*
Jangankan kepada Ahok, kepada para plin plan tak konsisten hobi cabut pernyataan seperti mereka yang ingkar jalan kaki Jakarta Jogja, terjun dari monas, borong mobil Esemka hingga potong kemaluan saja kita harus tetap berprasangka baik bukan?
Demikianlah Ahok, tak selamanya apa yang menjadi ucapannya selalu benar bukan? Dan untuk saat ini kita harus tetap berprasangka baik.
Bukankah pada kasus ini apa yang tampak adalah tentang bisnis biasa?
Seharusnya, semua terserah pada Pertamina apakah menerima tawaran itu, menawar lebih murah atau bahkan menolak. Peruri juga memiliki hak untuk meminta harga tinggi.
Apakah kalau Peruri menawarkan harga terlalu amat sangat ketinggian misalnya, lantas kita berterjemah "wah...,ada bau korupsi."?
Bahwa hanya anak usaha Peruri itu yang mendapat izin menjual aplikasi hebat tersebut dan sedangkan Peruri sebagai induk memiliki izin untuk security printing, harusnya tak terkait langsung.
Bahwa ada sesuatu dibalik semua ucapannya, hanya Ahoklah yang mengerti apa maksud semuanya.
Secara sederhana, bila masalahnya adalah harga yang terlalu mahal yang ditawarkan Peruri, pantaskah segala jenis nama ular diucapkan demi sekedar protes?
Bukankah ada aplikasi tanda tangan digital di smartphone kekinian? Bila hanya masalah harga menjadi masalah, bukankah ada DocuSign, juga SignEasy yang gratis?
Seharusnya ini dijelaskan. Tapi bila heboh adalah apa itu baik, ya monggo. Diluar sana memang banyak yang senang heboh.
Saya pribadi senang Ahok yang nyablak apa adanya, apalagi bila terkait pada mereka yang korup dan tak tahu malu, makian Ahok justru terdengar merdu di telinga.
Namun ketika materi seolah menggantung, meski berharap ada niat baik disana dan tapi tak terbaca, seharusnya dibuat benderang.
Ada celah bakal tercipta bagi buih akan dibuat oleh mereka yang menunggu Ahok bersalah hanya sebagai demi kekeruhan.
Alangkah baiknya bila buih yang ada itu hanya akibat dari proses air jernih yang akan tercipta nantinya.
.
.
.
RAHAYU
Sumber : Status Facebook Karto Bugel
Wednesday, September 23, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: