Perubahan dan Hakuna Matata

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Yang datang sesudahnya, sering dinilai tak lebih indah dari yang kemudian. Contoh nasib film The Lion King 2019, yang dinilai tak lebih memukau dibanding film ‘aselinya’ yang juga diproduksi Disney pada 1994. 

Bagaimana membandingkan karya dengan karakter media yang berbeda, teknologi classic 2D dengan teknologi sinematografi virtual? Teknologi ini, jauh lebih hyper-realis bahkan dibanding film animasi 3D The Jungle Book (2016), dengan sutradara Jon Favreau, yang kemudian juga menangani TLK 2019 ini. 

 

Ada lompatan lebih jauh dibanding TLK 1994, yang bukan sekedar jarak waktu 25 tahun. Photorealistic computer-generated animation, yang dipakai TLK 2019, merupakan teknologi yang bisa menghasilkan gambar lebih dramatis daripada yang dihasilkan National Geographic. 

David Stephan, seorang animator TLK 1994, mengritik keras TLK 2019 sebagai sesuatu yang menyedihkan. Pendapatnya sama dengan 13 animator penggarap TLK 1994, yang sebelumnya berdiskusi menyikapi TLK 2019 itu. Kebanyakan animator lainnya memilih no comment bahkan tak berminat menonton versi live-action tersebut. 

"Sangat sedih pemegang saham menentukan film yang harus dibuat dan mengatakan di depan kita: Kami sekarang hanya ingin menghasilkan uang. Itu menyedihkan sebagai seorang seniman dan dari sebuah studio yang didirikan berdasarkan orisinalitas," tuturnya sembari menyebut TLK 2019 murahan sekali. Bahkan dikatakan; kru orisinal versi 2D TLK 1994 membenci versi 3D itu. Para kritikus film AS, mengamini hal itu, dan (biasa) diikuti kritikus film di Indonesia. 

Padahal, tak adil membandingkan keduanya, karena karakter media berbeda. Sebagaimana tak adil membandingkan penghasilan kedua film itu. Kenyataannya, TLK 2019 berhasil meraup pendapatan 1 miliar dolar AS di seluruh dunia, dalam waktu kurang dari tiga minggu penayangan di bioskop. TLK 2019 berhasil menyusul ketiga film Disney lainnya (Avengers: Endgame, Captain Marvel, dan Aladdin), dalam kategori film terlaris tahun 2019.

Jadi, perubahan sebagaimana kata John F. Kennedy, mantan Presiden AS, sesuatu yang niscaya. Tak bisa ditolak, tapi juga mengundang musuh. Siapa musuhnya? Mereka yang persepsinya tak berkembang, karena perspektifnya difrozen dalam kacamata kuda. 

Demikian umumnya pula, ketika kita menyikapi perubahan. Termasuk menyikapi ekspresi generasi muda, generasi milenial abad ini. Entah itu bernama Jokowisme, Ahokisme, hingga munculnya Nadiem Makarim, Anggie Yudistia, Billy Mambrasar, dsb. Lha wong istilah darah saja, tafsirannya ke mana-mana. Ideologi, nasionalisme, bahkan agamaisme. Hingga perlu maki-maki go to hell karena dianggap durhaka. 

Hanya karena manusia lebih suka melihat ‘perilaku’ daripada mendengarkan 'isi omongan'. Begitulah dan begitupun. Namun mereka yang adaptif dan akseleratif, mantranya hanya satu; hakuna matata! Karena masa depan tak pernah dikuasai mereka yang marah-marah mulu!

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Saturday, November 30, 2019 - 13:00
Kategori Rubrik: