Pertemuan AHY dan Jokowi

Oleh: Saiful Huda EMS

 

Apa yang dilakukan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dengan berkunjung ke Istana Negara dan makan siang bersama Presiden Jokowi dan putranya Gibran Rakabuming adalah teladan politik yang baik sekaligus koreksi dari perangai politik ayahnya sendiri, yakni SBY yang semakin hari semakin kehilangan nalar sehatnya, juga kehilangan rasa tanggung jawabnya untuk turut meredakan panasnya suhu politik di tanah air.

Prilaku politik yang indah dan luwes seperti yang ditunjukkan oleh AHY ini hanya bisa muncul dari pribadi yang sudah mengalami proses pencerahan, sudah memahami dengan benar tujuan berpolitik yakni untuk terciptanya kehidupan bangsa atau masyarakat yang lebih baik, dan bukan untuk pencapaian kekuasaan diri sendiri saja dengan tanpa kejelasan manfaat bagi masyarakatnya, serta tentu saja hanya bisa dilakukan oleh sebuah pribadi yang tidak membawa beban dosa dari perjalanan politik sebelumnya yang pernah diembannya.

 

 

SBY sangat mungkin membawa beban berat dosa-dosa politik dari masa lalunya, terlebih setelah SBY menjabat posisi presiden selama dua periode, namun dosa politik SBY ini tidak bisa begitu saja dibebankan pada putra sulungnya, yakni AHY selama tiada satupun bukti yang menjurus padanya (AHY), kecuali Edhi Baskoro (Ibas) putra kedua SBY yang ditengarai telah turut serta terlibat dalam kasus korupsi Hambalang, misalnya. Mungkin karena SBY yang memikul dosa-dosa hukum dan politik yang sangat berat itulah, perangai politik SBY setelah ia turun tahta menjadi sering nampak janggal, kaku bahkan kerap terkesan irasional tidak seperti putra sulungnya yang kian hari kian nampak dewasa dalam berpolitik.

Pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya ternyata hanya berlaku bagi orang seperti Gibran dan ayahnya, yakni Jokowi yang sama-sama mempunyai karakter elegan, ramah, cerdas dan bersahaja. Namun pepatah itu nampaknya tidak berlaku bagi AHY dan ayahnya, yakni SBY. AHY itu nerimo, luwes, murah senyum, responsif, dan cepat tanggap menghadapi situasi dengan tetap tenang, namun SBY itu muna, kaku, kasar, pendendam dan tidak sabaran serta sangat ambisius.

Munculnya politisi-politisi muda dan berbakat seperti Jokowi, Ahok dan AHY ini menjadi semacam angin segar dunia perpolitikan Indonesia. Mereka bertiga semoga bisa menjadi pembaharu bagi politisi-politisi lama yang seharusnya sudah dikandangkan seperti dua purnawirawan jenderal kancil pilek yang beberapa waktu lalu bertemu, dan membuat pernyataan-pernyataan miring, aneh dan irasional. Mosok Jokowi yang sipil, krempeng, tidak pernah jadi ketua umum partai politik, tidak mempunyai senjata, tidak menguasai parlemen dlsb. dibilang diktator? Ono-ono wae Ye...ye...Wo...wo...Oh ya, masih suka makan nasi goreng atau lebih suka goreng isue politik?...(SHE).

Bandung, 10 Agustus 2017.

Sumber: Facebook Saiful Huda Ems (SHE)

Friday, August 11, 2017 - 10:45
Kategori Rubrik: