Pertarungan Gibran dan Kaesang

Oleh; Sunardian Wirodono

 

Pertarungan Gibran vs Kaesang, jauh lebih dahsyat daripada kontestasi Jokowi vs Prabowo. Padahal, sebelum punya Sang Pisang, Kaesang diam-diam marketer Gibran kelas pro-bono.

Dua anak Jokowi ini, bisa dipastikan produk keluarga biasa saja. Kalau ada yang bilang pemilih Jokowi kelas pendidikan rendah, memang kenapa? Kalau jumlah pemilihnya 50% lebih bijimana?

 

 

Halah, coba balik ke soal utama: Anak-anak Jokowi, sangat beda karakter dengan anak para presiden sebelumnya. Kalau pun ada yang agak bengal, mungkin Inayah Wahid anak Gus Dur, meski anak itu kini masuk kelas selebritas.

Ketakjaiman Gibran dan Kaesang memang nyebelin. Baik mereka yang suka ngurusin orang lain atau suka nggendutin. Pecah kongsi antara Gibran-Kaesang setelah si bungsu punya usaha sendiri. Mereka terlibat twit-war, perang meme, melibatkan jutaan tukang kompor.

Mereka terlibat “persaingan bisnis’ seru. Ketika Gibran mengiklankan produk baru, Kaesang langsung nyaut; “Moh. Beli sang pisang saja!” Sebaliknya ketika Kaesang mempromosikan jualan favoritnya, dengan plesetan “Pisang Favorit: Pisang on 7”, Gibran dengan sengit menyahut; “Ra lucu!”

Twit-war itu tak hanya melibatkan orang dalam. Netizen turut meramaikan. Setelah mendapat balasan postingannya dinilai nggak lucu, Kaesang merengek; "Kamu gak mendukung adik laki tersayangmu," netizen nimbung: @rizkatri18: "Ayo berantem, saya tidak suka kalian akur mas", atau: @Melanylanyny: "sudah-sudah, jangan berteman". Ada juga yang melapor ke presiden; @imanrherhe: "@jokowi pak ank mu gelut...."

Ketika Kaesang habis operasi Lasik, dan tak lagi berkacamata, ada netizen berkomentar wajah Gibran jadi mirip Kaesang. Kaesang tidak terima wajahnya dimirip-miripin kakaknya. "Enak aja, saya gak mau disamain," tulisnya. Padahal, maksudnya, Gibran mirip Kaesang itu turun kelas!

Keluarga Jokowi mempunyai selera humor baik. Itu pertanda mereka matang, tanggap dan tangguh menghadapi segala kemungkinan. Termasuk caci-maki orang tak jelas apa sangkut-pautnya.

Coba bayangkan, dalam film ‘Tengok Toko Sebelah”, Kaesang jadi chameo, perannya sebagai sopir taksi. Dalam sebuah adegan, taksi yang dikendarai Kaesang bikin macet jalanan. Seorang pengemudi motor memakinya: “Emang negara ini punya bapak lo?” Cut To: Wajah Kaesang yang culun melengos ke arah pemakinya.

Yang nangkep humor itu, pasti langsung ngakak. Sebagai anak presiden, tentu banyak cobaan. Dalam sebuah kesempatan, Fahri Hamzah berinteraksi dengan Gibran. Dimoderatori host, Fahri minta apa saran Gibran pada Jokowi (selaku Presiden) dan apa kritiknya buat Fahri?

Karena acara live, Gibran menjawab dengan gaya khas, tak terduga, "Saran saya buat Pak Fahri, ya lanjutin terus seperti itu, kan Pak Fahri seperti itu, ya lanjutin terus seperti itu, trus aja," kata Gibran mantap.

Ketika ditanya apakah pernah ‘bete’ mendengar kritikan Fahri untuk ayahnya? "Jarang dengerin juga sebenernya," ujar Gibran sambil tertawa, dan disambut tawa seisi studio. Gibran malah meminta agar FH tak berhenti mengritik. Karena, “kalau nggak mengkritik ya bukan Pak Fahri Hamzah,..."

Ratna Sarumpaet pernah via akun twiter (4/2016), mempertanyakan keangkuhan putra Presiden Jokowi dengan mengomentari sebuah link berita tentang putra Presiden Jokowi, yang dinilai tak punya empati (pada rakyat yang terkena kasus PHK).

Sebetulnya, berita tersebut hoax. Bukan dari Gibran, tapi berita provokasi mengatasnamakan putra presiden. Kita tahu, bagaimana Ratna bukan? Tanpa ngecek kiri-kanan, langsung hajar. “KEANGKUHAN ANAK Pak @jokowi INI KOK LIAR BETUL?” tulis Ratna sambil membagikan berita tentang akun @GibranRakabumi.

Menanggapi hal itu, meski Ratna ngawur, apakah Gibran marah? Tidak. Adiknya, Kaesang, yang menjawab tuitan itu; “Mohon maaf ya ibu, abang saya emang liar. Kalo malem bisa berubah jadi serigala kayak yang di sinetron,” tulis @kaesangp membalas kicauan Ratna.

Kaesang kadang iseng dengan postingan ngawur. Mungkin dia kesal juga, bukan hanya jadi korban meme, tapi jadi sasaran caci-maki orang-orang yang tak dikenal. Pernah ada makian untuk Kaesang; “Anak Presiden koq TOLOL YA??? Ckckckck… Enak banget lagi ngomongnya kalo protes di dor. Oh, mau jadi orang arrogant mungkin ya, karena merasa Anak Presiden. Tolong Pak @jokowi anak nya dididik lagi. Kasihan saya lihatnya.”

Melalui akun instagramnya, Kaesang menjawab, “iya saya emang tolol dan arogan kok mbak/mas. Saya nanti minta bapak saya untuk ngedidik saya lagi. Soalnya saya juga kasian liat diri saya sendiri.”

Lucu-lucu keluarga Jokowi, tak dapat dipungkiti bagian dari revolusi mental. Presiden bukan lagi sesuatu yang garang, sebagaimana jaman Soeharto atau SBY, yang selalu tampak angker. Pidato di depan anak TK di Istana, SBY bisa menghardik anak-anak kecil agar tidak berisik.

Kursi kepresidenan, pada masanya kelak, bukan sesuatu yang sakral-sakral banget. Buat apa sakral kalau hanya untuk menimbun kekayaan pribadi, atau korupsi? Gaya jaim keluarga presiden sebelum-sebelumnya, membuat jarak itu nyata.

Di jaman Jokowi, netizen bisa menghina-dina anak presiden, seperti yang dilakukan netizen Bambang Widodo, “Kacang apa yang dekat dengan presiden? Kacang Pangarep!”

Itu sebabnya Kaesang bisa juga bikin meme memanfaatkan posisi bapaknya, tentang sebuah kisah inspiratif, seorang penjual pisang bisa bertemu Presiden.

Apakah mereka berpendidikan rendah? Gibran dan Kaesang lulusan luar negeri. Apa itu jaminan? Tidak, sebagaimana para pembenci Jokowi, yang juga suka meledek Jokowi tak pernah kuliah di UGM. Tapi selera humor keluarga Jokowi, menunjukkan kelas mereka lebih baik dari para pengritiknya.

Atau dagelan lain yang boring dari Kaesang; “Menurut riset yang saya lakukan, kalau mau bikin telor goreng kita butuh telor.” Hadeh, kita? Elu aja kale! Atau masih mau bersambung?

 

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)

Saturday, November 17, 2018 - 08:30
Kategori Rubrik: