Pertanggungjawaban Sejarah Pilihan Manusia

Oleh : Jlitheng Suparman

Bhisma sangat mahsyur dengan kisahnya yang rela membuang peluang tahta demi membahagiakan orang tua. Bahkan agar ayahandanya, Prabu Sentanu, terlaksana niatnya mempersunting Dewi Durgandini ia rela bersumpah 'brahmacarya' atau 'wadat', tidak hendak beristri atawa berhubungan dengan perempuan selama hidup. Dengan maksud sebagai jaminan atas permintaan Durgandini yang mau diperistri dengan Prabu Sentanu dengan syarat keturunannya kelak yang harus menjadi raja Hastina.

Durgandini kemudian benar-benar menjadi permaisuri raja Sentanu, berputera dua: Citragada dan Wicitrawirya. Kebaikan budi Dewabrata tak pernah henti. Olehnya kedua saudara tirinya itu dicarikan pasangan hidup melalui sebuah sayembara yang memperebutkan tiga perempuan cantik dari negeri Kasipura, Amba, Ambika dan Ambalika.

Peristiwa demi peristiwa terus berlangsung. Dewi Amba tewas di ujung panah Dewabrata yang enggan memperistrinya karena brahmacari. Citragada dan Wicitrawirya gugur sebelum naik tahta dan membuahkan keturunan dengan pasangan masing-masing. Ambisi Durgandini agar keturunannya kelak yang bertahta di Hastina. tak terhenti dengan kematian kedua putranya. Ia masih punya satu putera hasil hubungannya dengan Palasara, yakni Abiasa. Anak lelakinya yang hidup dipertapaan bersama ayahandanya itu diundang ke kerajaan dipaksa agar membuahi para mantan istri saudara tirinya. Dari itu lahirlah Destarastra, Pandu, dan Yamawidura yang bonus Abiasa berhubungan dengan salah satu dayang Hastina.

Kehidupan penuh paradoks. Bhisma, keluhuran budi yang berbuah malapetaka. Keinginan berbakti dan membahagiakan orang tua sungguh pekerti yang luhur-mulia. Tak dapat disangkal bahwa tindakan Bhisma merupakan perbuatan baik. Namun kebaikannya ternyata demi menopang nafsu Sentanu dan ambisi Durgandini. Benarlah ajaran filosofi Jawa, kebaikan pun adalah nafsu. Di sini tiga dari empat warna nafsu, berkelindan. Putih (mutmainah), kuning (Sufiah) dan hitam (aluamah). Karma dari ketiganya kelak berupa "Bharatayuda". Maka Bhisma yang sudah brahmacarya, mesthinya mundur dari urusan keduniawian, namun tetap melangkah ke medan tempur Kurukasetra. Tiada lain, dalam kesadaran terdalamnya ia harus mempertanggungjawabkan sejarah pilihannya, harus mau ikut menanggung beban karma.

Hakdesssss... ‪#‎Kampret_ngrasaniwayang‬ ** (ak)

Sumber : facebook Jlitheng Suparman

Friday, July 1, 2016 - 11:30
Kategori Rubrik: