Pertamina Merugi?

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Membaca laporan keuangan Pertamina kurun-kerja semester 1, terdapat 3 faktor utama penyebab kerugian 11 trilyun yang dibusa-busakan para congor kampungan Indonesia.

1. Pendapatan turun dari $25.55B menjadi hanya $20.48B. Ini saja sudah menciptakan potensi rugi sebesar 70 triyun.

Tapi kenapa pendapatan turun, tanya bibir jeber?

Karena permintaan memang turun sejak Februari hingga Mei. Tidak seperti perusahaan oil & gas luar yang mengandalkan pendapatannya dari hasil ekspor, Pertamina masih sebatas jago kandang. Jangankan ekspor, buat memenuhi kebutuhan dalam negeri pun masih belum sanggup sepenuh..

Kebijakan PSBB menyebabkan jumlah mobil yag keluar rumah melorot sampai di bawah dengkul. Penurunan mencapai 50%. Bensin tak seperti beras yang bisa ditimbun saat permintaan berkurang. Kalau pun harga jual diturunkan, Anda sanggup beli sampai berapa ratus liter? Mau disimpan di mana?

Kebijakan Pertamina untuk tidak menurunkan harga jual sudah tepat. Di masa pandemi, permintaan tidak jadi naik karena harga turun. Percuma. Perusahaan pengeboran minyak di US bahkan menawarkan harga negatif untuk menjual hasil produksi. Ada yang beli? Ada. Sedikit banget. Minyak tumpah di sana.

Lagipula, minyak yang diimpor dibeli dengan harga normal. Menjualnya di bawah harga beli bakal mengakibatkan kerugian bertumpuk.

2. Beban Produksi dan lifting meningkat, tapi tak seberapa, cuma $50juta. Yang lumayan besar adalah beban operasional dari $803juta ke 960juta, sekitar Rp. 2.5T. Tapi semua itu masih bisa dikompensasi dengan penurunan biaya penjualan langsung dari $21.98B ke $18.87B, nyaris 45T rupiah. Ini prestasi. Kasih tepuk tangan buat jajaran direksi dan komisaris. Bersikaplah sportif.

Jadi, kalau tak terjadi pandemi, keuntungan Pertamina di semester yang baru lewat bisa jauh melampaui keuntungan di semester I tahun lalu. Pandemi bukan salah Ahok, bukan salah Jokowi. Semua perusahaan migas dunia merugi karena pandemi.

Mau bukti? Lihat laporan terbaru. Dalam 1 bulan terakhir Pertamina mencatat keuntungan. Apa pasal? Karena relaksasi sudah terjadi. Jalanan macet lagi. Kurva permintaan membaik. Sesederhana itu, botol!

Tapi memang, menjadi PR besar bagi semua korporasi untuk merancang postur perusahaan yang kuat dalam berhadapan dengan pandemi atau bencana alam. Perhatikan catatan sejarah: saban abad kita berhadapan dengan pandemi, perang, dan bencana. Tak ada alasan untuk rubuh lagi di musibah berikutnya.

Lain kali, congor onta, baca data sebelum mangap. Gak usah kalian share pernyataan RR dan SD. Mereka ngarti angka-angka yang saya sajikan di atas. Tapi meski ngarti mereka tetap mangap. Itu nasib rakyat Indonesia.

Anda perlu wawancarai Cornelia Agatha: apakah RR masih segagah omongannya?

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Monday, August 31, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: