Pertama Kali Memecat Orang

ilustrasi

Oleh : Mimi Hilzah

Sudah berapa orang yang Papi pecat sejak jadi atasan?

(Senyum dikulum) Berapa, ya? Tiga puluhan mungkin...

Yang pertama masih ingat siapa orangnya?

Hmm... masih...

Rasanya bagaimana?

(Cengengesan) Yaaa... begitulah... Kawan sendiri. Sempat musuhan. Tapi sekarang dia hebat, lho. Sudah dapat jabatan juga di tempat dia bekerja...

Gitu, ya? Aku tadi habis pecat orang. Sampai muntah-muntah anaknya....

***

Hari seperti hari Sabtu kemarin itu adalah hari yang tidak pernah saya inginkan terjadi tapi saya tahu pasti akan datang. Hari di mana kali pertama kau sebagai bos membuat keputusan yang sangat berat semacam memecat karyawanmu.

Maunya saya, semua perempuan yang datang bekerja di dapur ini akan tinggal bekerja untuk masa tahunan. Pun kalau mereka harus berhenti, itu dikarenakan alasan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan di dapur.

Misalnya Masita. Diajak suaminya bergabung di bisnis air kemasan yang konon berkhasiat bagi kesehatan. Keputusan yang bikin saya patah hati meski konon sekarang Masita sudah pulang ke kampungnya mengupayakan hidup entah dengan jalan apa. Lalu Inna yang diminta pulang menemani ibunya yang sudah sepuh sebab kakak perempuannya menikah lagi. Lalu Suha yang harus istirahat yang banyak supaya bisa lebih berpeluang mendapatkan keturunan.

Saya yang dibuat patah hati berkali-kali tapi rasanya itu jauh lebih baik daripada sebaliknya.

Tapi tahun ini saya dituntut mengelola bisnis ini dengan cara yang jauh lebih baik. Bukan lagi sekadar menampung siapa saja perempuan yang butuh pekerjaan, dapur ini sudah sampai pada tingkat di mana segala sesuatunya harus melalui prosedur yang benar. Supaya di depan nanti tidak terlalu banyak hal yang harus saya koreksi dan waktu tidak tersia-siakan.

Sebenarnya bukan pada skill mereka utamanya. Keahlian itu bisa diasah, bakat bisa dikembangkan. Ibaratnya tidak tahu pun, masih bisa diajari dan didampingi sampai pintar. Toh Sumi dan Lina bisa sedemikian cemerlangnya dikarenakan latihan yang tekun. Demikian juga Nia dan Titin bisa tahu banyak hal melalui proses belajar yang panjang.

Entah mengapa dengan Ita saya tidak terlalu menaruh harapan. Sejak sesi wawancara, saya merasa tak perlu mengulik lebih jauh siapa perempuan muda bertubuh mungil ini. Cukup saya tahu ia sepupu Lina dan saya bertanya sekenanya soal keluarganya. Yang saya tangkap, ia tak memiliki motivasi bekerja yang cukup kuat seperti yang lainnya.

Saya memberi satu minggu kesempatan untuk mengenal dapur dan orang-orang yang bekerja di dalamnya. Setelahnya saya menanyakan apa ia bersedia bekerja, ia menjawab iya. Dua minggu kemudian saya menemukan bahwa Ita bukan tipe asisten yang saya cari.

Ia bisa masak, ia bisa mengerjakan hal-hal kecil semacam mengerjakan isian kue. Ia sebenarnya bisa banyak hal tetapi ia lalai dalam sikap. Padahal, sejak kedatangannya entah sudah berapa banyak kali saya menegaskan aturan seperti apa yang kami terapkan di dapur.

•Jujur.
•Sabar.
•Mau bekerja keras.
•Tidak mengeluh.
•Tidak menghitung-hitung pekerjaan.
•Hormat kepada yang tua, menghargai yang muda.
•Sigap membantu siapa saja rekannya yang butuh bantuan.
•Tahu adab, tahu tempat.
•Tidak menggunakan ponsel dan makan saat bekerja.
•Dan lain-lain.

Dari sekian banyak tuntutan di atas, intinya bukan pada persoalan keahlian. Intinya pada sikap-sikap diri, hal-hal yang menurut saya jauh lebih penting untuk dikejar ketimbang hanya jago membuat kue dan membakar. Dengan harapan mereka akan saling menularkan kebiasaan baik. Saling memberi contoh, saling meniru.

Ita datang dengan sikap tubuh yang sedikit jumawa, cara berbicara yang menurut saya terlampau berlebihan. Lalu ada banyak pekerjaan yang ia keluhkan. Ada banyak kondisi yang menurutnya berat untuk ia hadapi. Ia memperlakukan seorang asisten senior lainnya dengan tidak semestinya. Ia dengan santai makan ketika teman lainnya masih bekerja dan fatalnya saya ada di ruang dapur ketika hal tersebut terjadi. Ia sesekali menolak permintaan temannya untuk suatu pekerjaan.

Saya lalu membayangkan seperti apa jadinya jika dapur kembali ke keadaan sangat sibuk. Untuk hari-hari yang sesantai ini saja ia mengeluh, apalagi jika menjelang hari raya? Apalagi jika kami dituntut bekerja dua atau tiga kali lebih keras padahal kami pun sedang menjalankan puasa.

Dan entah mengapa. Saya sulit sekali menolerir siapa saja yang tidak mampu mengedepankan adab. Menurut saya, ada masalah besar di karakter orang-orang yang kesulitan mengutamakan adab dalam berhubungan dengan orang lain. Dan jika sudah menyangkut karakter, tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk memperbaikinya.

Maka saya putuskan sebelum terlalu jauh, ia saya pulangkan.

***

Tapi saya tidak dipecat, kan Bu?

Diberhentikan.

Tapi masih bisa saya bekerja di sini nanti?

Nanti? Mungkin. Kalau kita berjodoh, ya bisa.

Janji ki, Bu... kita tidak boleh cari orang lain. Saya yang kita panggil lagi nanti.

Saya tidak bisa berjanji apa yang tidak bisa saya pastikan.

Tapi saya sudah nyaman sekali di sini....

Oh, iya. Berarti saya memang berhasil membuat sebuah tempat bekerja yang nyaman. Itu memang cita-cita saya.

Tapi saya ndak dipecat kan, Bu?

Diberhentikan. Kamu istirahat dulu.

Sampai kapan, Bu? Saya sangat berharap sama kita... (kalimat ini diulangnya hingga berkali-kali).

Berharap jangan sama manusia. Mana tahu setelah ini kamu dapat pekerjaan yang lebih enak, lebih baik...

Saya tidak mau! Saya cuma mau di sini!

***

Sebenarnya saya memikirkan kemungkinan ini; saya bicara dengan Ita dari hati ke hati lalu saya seperti biasa akan jatuh kasihan dan memberinya kesempatan lagi.

Tapi kemudian ia menangis lengkap dengan suara, seakan kami ini sudah kenal lama sebelumnya. Terisak-isak seperti anak kecil. Minta ijin muntah sebentar lalu balik lagi menangis berulang-ulang dengan sikap merajuk. Pun ketika ia minta saya berjanji, saya mendadak kehilangan mood.

Saya butuh perempuan kuat. Perempuan yang meski datang dari latar belakang yang payah sekalipun tapi tahu cara bersyukur. Yang meski usianya muda tapi tahu membawa diri. Yang meski tidak punya keahlian, tapi memperlihatkan keinginan belajar yang besar.

Ita tidak punya itu semua.

Kasihan, Bu... kata Sumi.

Ya, kasihan... tapi mau diapa. Begini rupanya rasanya menjadi jahat tanpa benar-benar meniatkannya.

Sumber : Status Facebook Mimi Hilzah

Tuesday, July 23, 2019 - 10:30
Kategori Rubrik: