Persekusi Lagi, Islam yang Mana?

Ilustrasi

Oleh : Chitra Retna

Kemarin pagi baca berita kejadian persekusi sepasang kekasih di Cikupa Tangerang, rasanya hari itu saya hancur. Lebur. Nangis sendiri dan marah-marah. Beda bentuk, tapi sama persis dengan kejadian pembakaran bapak yang dituduh maling amplifier masjid dulu. Sama-sama pembunuhan, hanya yang ini pembunuhan psikologis. Bagaimana mungkin atas nama Islam, mereka menuduh seseorang, menghakiminya, dan masih atas nama Islam mereka memilih bentuk penghakiman yang biadab. Islam yang mana? Dengarkan komentar-komentar orang di sekitar kejadian itu, betapa biadab. Mereka menuduh si mbak tidak menjaga ‘hijabnya’, tanpa bukti, lalu mereka malah merenggut lepas semua hijab-hijab si mbak? Mengaraknya di muka publik? Merekam dan memviralkan? Buat selfie? Ibu-ibu disekitarnya juga ikut-ikutan? Islam yang mana..

Mereka para laki-laki yang sok suci jadi hakim tapi sebenernya taking advantage dan sexually bullying seorang perempuan muda tidak berdaya, rasanya pengen meledak. Itu nafsu biadab, cuma pinjam nama agama.

*ya Allah, hati hancur

I wish I was there. Saya akan lepas kerudung saya untuk menutupi si mbak. Dan pasang badan menghadapi orang-orang brutal itu. Hijab saya bukan pada selembar kerudung. Hijab itu ada pada sikap kita.

..lalu dimana suara mereka-mereka yang kemarin ribut dengan penistaan agama? Ini sungguh-sungguh bentuk penistaan agama di depan mata. Mana suara PKS. 212. Mana pula suara MUI. Muhammadiyah. NU.

Polisi Alhamdulillah bergerak cepat menangkap pelaku. Tapi sungguh, tidak cukup. Masyarakat yang lagi dimabuk identitas agama (bukannya laku norma agama) dan merasa bisa jadi hakim mobokrasi karena kekuatan jumlah, sungguh perlu rambu-rambu yang ketat.

1. Pemerintah perlu mendokumentasikan apa sanksi hukum pelaku-pelaku persekusi, menyebarkannya termasuk lewat RT-RW, sebagai bagian edukasi warga tentang apa itu persekusi dan apa sanksi hukum tegas tentang persekusi. Juga lewat masjid-masjid dan tokoh agama.

2. Organisasi-organisasi Islam harus mengeluarkan pernyatan sikap mereka. Menyebarkan lewat jaringan di lapangan. Memasang (lagi) standar nilai komunal bahwa persekusi, atas nama apapun terlebih atas nama agama, adalah tidak benar.

3. Kita bisa bantu dengan mengkampanyekan: no persekusi, dalam bentuk apapun.

Simpan standar moral Anda untuk Anda sendiri, tapi jangan pernah berpikir Anda punya hak menghakimi orang lain menggunakan standar moral Anda. 

Sumber : Status Facebook Chitra Retna

 

Tuesday, November 14, 2017 - 20:45
Kategori Rubrik: