Persamaan Klepon dan Covid

ilustrasi

Oleh : Atoillah Isvandiary

Disclaimer: Ini cuma status pansos ya, ngikut tren aja, jadi boleh di skip aja, hehehe...

Tapi begini, kalo dipaksa disama-samakan, memang ada kesamaan antara kasus klepon ini dengan kasus covid. Tentu bukan di bidang medisnya lah. Tapi tentang viralnya di sosial media.

Kita bahas klepon dulu.

Dari segi konten jelas kampanye "klepon tidak islami, kurma itu Islami" itu konyol. Tapi jujur, cenderung mencurigakan.

Oke lah, di dunia ini memang ada orang yang, dari agama manapun, saking religiusnya hingga sampai tidak rasional. Kebetulan, karena di Indonesia ini mayoritas muslim, kesannya kelompok itu paling banyak adalah orang muslim. Tapi di negara lain dengan pemeluk mayoritas agama lain, kita juga akan menjumpai hal yang sama. Bukan pembelaan atau sebaliknya, memojokkan, tapi ini sekedar masukan: di abad digital ini, religiusitas ternyata harus lebih kritis.

Jadi, yang saya sebut mencurigakan tadi adalah, saya pikir konten yang membandingkan ke Islami -an klepon dengan kurma, padahal di daerah Gempol Pasuruan berjejer jejer penjual klepon di pinggir jalan dan nama kleponnya sama semua: klepon wahyu, sebenarnya adalah konten yang, kalau nggak satire, guyon, ya fitnah.

Dan bener, akhirnya situs Turn Back Hoax menemukan bahwa nama maupun toko Abu Ikhwan Aziz yang memosting cuitan itu tidak ditemukan di dunia nyata, justru cuitan ini ditemukan di-posting pertama kali oleh seorang buzzer di era pilpres lalu ( https://www.facebook.com/TurnBackHoax/posts/3330772426975264 ).

Lalu, mengapa saya bandingkan isu klepon ini dengan covid?

Ya, persamaan dengan covid ada di banyak konten berita media sosialnya yang, kalau nggak satire, guyon, ya fitnah. Kasus terakhir di Surabaya misalnya, atau di daerah daerah lain juga, seorang yang -awalnya sih berbau fitnah- mencuitkan tuduhan bahwa Rumah Sakit mengambil keuntungan ratusan juta dengan meng covid-kan bapaknya, setelah akhirnya diancam akan dilanjutkan ke ranah hukum, baru bilang kalau cuitannya itu cuma guyon.

Padahal, sama seperti cuitan soal klepon tadi yang sudah terlanjur bikin stigma dan fitnah pada kelompok kelompok yang mungkin nggak ada sangkut pautnya, postingan fitnahnya ini juga sudah bikin stigma negatif masyarakat pada rumah sakit dan nakes yang nggak bisa dihapus dengan kata-kata: "maaf, cuma guyon" saja.

Itu baru cuitan orang awam, lha ... Bagaimana kalau yang menyebarkan dugaan berbau fitnah itu seorang politisi yang bahkan tak pernah bilang "maaf, cuma guyon"? Apa nggak tambah parah tuh, efek merusaknya pada stigma rumah sakit dan nakes di masyarakat?

Belum lagi isu isu viral lain tentang covid yang beredar di youtube, whatsapp, facebook, dan lain-lain yang, sama seperti isu klepon ini, banyak yang awalnya dilempar ke medsos oleh entah siapa dan untuk tujuan apa, walaupun kadang nyatut nama seseorang juga. Mulai dari bahwa covid ini adalah konspirasi, covid ini flu biasa, covid ini bisnis nakes, hingga hoaks-hoaks terkait pengobatan covid.

Walaupun ada juga isu covid yang awalnya jelas disebarkan oleh orang yang jelas identitasnya, misalnya youtuber, pemusik, mantan menteri, selebgram, pebisnis, yang, semua benang merahnya kayaknya sama: pansos juga.

Itu yang di medsos. Bagaimana dengan yang di dunia nyata?

Kurang lebih ada yang sama. Misalnya, isu tentang pasien yang di-covid-kan, hingga berujung pada perampasan jenazah covid-19 dan penganiayaan petugas pemulasaran jenazah. dari sebagian besar kasus, ketika akhirnya petugas keamanan dan kepolisian turun tangan, banyak di antaranya provokatornya justru bukan pihak keluarga jenazah, bahkan orang yang berasal dari luar daerah.

Bedanya, isu klepon ini paling-paling cuma berujung pada rundungan, dan paling secepat viralnya termogun yang katanya merusak otak itu. Sedangkan isu covid ini berujung lebih fatal dan semakin memperberat upaya pengendalian covid-19 ini.

Btw, kalau dilihat lihat, bentuk klepon kok sama sama ada mahkotanya ya di selubung nya. Mirip virus Corona. Jangan-jangan ini tanda viralnya isu agama klepon ini bagian dari konspirasi.

Sumber : Status Facebook Atoillah Isvandiary

Thursday, July 23, 2020 - 19:30
Kategori Rubrik: