Pers Di Era Medsos

ilustrasi

Oleh : Matt Bento

Seorang fotografer di sebuah media mengeluh. Side job nya makin sepi, nyaris menghilang. Dengan berkembangnya teknologi fotografi, hampir semua orang bisa memotret. Tidak perlu peralatan fotografi yang mahal, beragam aksesoris dan memerlukan tas besar untuk membawanya. Kini alat memotret cukup dibawa di saku.

Alat itu juga multifungsi: Bisa untuk menelepon, mengedit, mengirim, mengupload dan menyimpan. Namanya handphone (telepon genggam). Hasil pemotretan dengan telepon genggam kadang jauh lebih bagus dibandingkan dengan hasil pemotretan dengan kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex) yang salah setting, atau karena fotografernya tidak menguasai teknik fotografi, atau tidak menguasai menu gear yang dimilikinya.

Kalau punya kamera DSLR lalu semuanya disetel auto, mulai dari kecepatan, WB, atau hanya mengandalkan bukaan kecil supaya tetap fokus, asal terang, ya mending pake HP aja. Apalagi jika lensa pendukung HP untuk pengambilan jarak jauh dikembangkan makin sempurna.

Tentu saja banyak kelebihan yang dimiliki kamera DSLR. Tapi itu hanya berguna bagi orang yang menguasai fotografi.

Ketika meliput FFAP di Pnom Penh, Kamboja, saya satu kamar dengan seorang mantan fotografer asal Surabaya. Karena dia tidak punya isteri, anak-anaknya sudah mentas semua, dia punya tabungan dan usaha yang mendatangkan duit, dia sering bepergian ke berbagai belahan dunia. Hobi memotretnya masih dijalankan.

"Tapi sekarang saya hanya memotret pake ini," katanya sambil menunjukan telepon genggamnya.

Begitu pula bagi wartawan tulis. Tidak perlu sekolah jurnalistik atau memahami teknik menulis atau Kode Etik Jurnalistik, semua orang bisa jadi wartawan. Seorang terkenal yang cuma menulis masalah pribadinya di medsos, jauh lebih menarik bagi pembacanya dibandingkan hasil tulisan wartawan di media resmi yang punya badan hukum dan terverifikasi di Dewan Pers.

Akhir-akhir ini kita melihat fenomena, banyak tulisan di media massa -- terutama tulisan dari ranah hiburan -- cuma mengutip dari medsos. Alurnya seperti ini: Ada artis curhat, menyampaikan sesuatu atau sekedar nampang di medsos, kemudian isi capture di medsosnya itu dikutip oleh media resmi, bahkan yang sudah punya nama, mungkin medianya sudah terverifikasi di Dewan Pers dan wartawannya rame-rame -- seperti orang pergi besanan -- ikut Uji Kompetensi Wartawan.

Mengapa media resmi jadi ngutip isi medsos selebritis, bahkan sampai memasukan komentar-komentar nitizen segala? Karena dengan kemudahan membuat postingan di medsos, seleb merasa kabar tentang dirinya bisa diketahui oleh masyarakat atau penggemarnya. Seleb sekarang merasa tidak butuh lagi media, kecuali untuk kepentingan promosi. Lalu demi kepentingan isi media, media resmi pun mengutip medsos.

Berbanding terbalik dengan gambaran di atas, semangat insan pers untuk mengokohkan keberadaannya makin kuat. Masing-masing kelompok melakukan konsolidasi, membentuk organisasi pers berbadan hukum. Ada organisasi kewartawanan lama yang dulu hanya beranggotakan wartawan media cetak saja, lalu menerima wartawan dari semua media; ada kelompok jurnalis yang anggotanya hanya bekerja di televisi saja; belakangan ada organisasi wartawan yang hanya menghimpun media online saja; dan baru saja lahir organisasi untuk yang bermain video saja (mungkin anggotanya para youtuber atau vlogger).

Ketika perusahaan pers makin tidak mampu menggaji wartawan, jumlah wartawan terus meningkat. Saya banyak mengenal teman-teman yang dulu bekerja di perusahaan pers, di production house, bukan sebagai wartawan, kini memegang Kartu Pers, menjadi wartawan. Membuat media online semudah membalikkan tangan. Asal punya duit dan tidak perlu verifikasi. Bagaimana mereka mengisi konten medianya? Tinggal copas.

Sebaliknya banyak yang dulu berprofesi wartawan, kini beralih menjadi pengusaha, pedagang atau bergerak di bidang jasa, tetapi tetap bangga disebut wartawan.

Saya setuju dengan rekan saya Isson Khairul yang bersama rekan-rekannya baru saja membentuk Sekber Wartawan Indonesia (SWI). Apalagi tujuannya untuk mengembalikan harkat dan martabat wartawan, meningkatkan skill, memberikan konten kredibel dan lain sebagainya yang terdengar sangat mulia.

Semoga sahabat Isson Khairul dan rekan-rekannya di SWI senantiasa punya energi di tengah kekuasaan medsos dan para pengusaha pers yang sudah banyak menarik diri.

Seperti tulisan di T'Shrit teman-teman alumni STP / IISIP, "Pers Tidak Ada Matinya". Buat media pers kalau tidak terbit istilahnya; Tutup! Pelakunya: Tutup usia, bukan mati!

Sumber : Status facebook Matt Bento

 
 
Saturday, August 8, 2020 - 19:30
Kategori Rubrik: