Perppu Untuk Kemaslahatan Indonesia

Ilustrasi

Oleh : Muhammad Salman Alfaridy

Upaya menggugat eksistensi NKRI sebagai konsensus yang berharga mati, Pancasila sebagai hal final dan kebhinekaan sebagai keniscayaan dlm kehidupan berbangsa dan bernegara, bukanlah hal baru di negeri ini.

DI-TII (Darul Islam), PKI dan PRRI adalah contoh sejarah kelam upaya inkonstitusi kaum minoritas untuk merebut kendali negeri dan menggugat konsensus para pendiri bangsa ini. Namun akhirnya mampu ditumpas oleh penguasa pada masanya demi menjaga kemaslahatan rakyat dan bangsa.

Dan kini yg terbaru yaitu HTI. 
Bagaimana minoritas mampu merebut kendali di negeri ini? Tentu tidak ada cara kecuali lain selain dengan cara trik dan intrik politik. Karena hanya dengan ikhtiar politik lah, benar jadi salah, salah jadi benar; kalah jadi menang dan menang jadi kalah.

Jika pada era lama cara politik paling efektif adalah dengan menggunakan kekuatan senjata (militer), maka kini dimana undang undang sdh melarang rakyat dipersenjatai, cara paling efektif adalah menggunakan media massa sebagai peluru, media sosial sebagai bayonet AK serta aksi demo atas nama 'Islam' dan hak 'berdemokrasi' sebagai bom yang bisa menghancurkan negara.

Dalam istilah konstitusi, inilah yg disebut dengan soft treason atau pengkhianatan, kudeta dan makar secara halus. Manakala dalam Islam gerakan politik inkonstitusional itu disebut dengan istilah "bughot" dimana mayoritas ulama salaf menyatakan mutlak haram.

Pelaku bughot disebut sebagai 'baghin' yang dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan dengan pelacur (agama). Kenapa? Karena dalam sejarah Islam para pelaku makar memang selalu menggunakan agama sebagai kedok dan senjata, ego keislaman sebagai spirit gerakan dan kebencian atas nama agama sebagai semangat melakukan perlawanan.

Maka wajar jika Sayidina Abu Bakar, Sayidina Umar, Usman b. Affan, Sayidina Ali hingga para penguasa setelahnya selalu tegas untuk menumpas para 'baghin' yang telah melacurkan agama itu secara tanpa ampun meski mereka berdalih tengah berjuang di atas agama dan membela Islam. Sayidina Umar pun berkata;

إني أنزلت نفسي على الراعية بمنزلة الوالي على الأولاد
"Saya menempatkan diri saya sebagai penguasa itu seperti kedudukan seorang wali di depan anak anaknya".

Jika baik maka kewajiban wali untuk memperlakukan anak dengan baik. Namun jika anaknya bandel dan nakal maka sudah menjadi hak wali untuk memukul agar jera.

Imam Syafi'i pun membuat kaidah ushuliyah fiqhiyah;

تصرف الإمام على الراعية منوط بالمصلحة
"Otoritas penguasa dalam menjalankan roda kekuasaan terhadap rakyat itu harus didasarkan kepada prinsip kemaslahatan sosial"

Seiring dgn finalnya 'nation state' (negara bangsa) sebagai konsensus dunia serta lunturnya ideologi politik lama seperti sosialis komunis sebagai spirit politik, maka sentimen agama adalah ruh yang tetap paling mujarab untuk menggerakkan massa demi memuaskan syahwat politik untuk berkuasa dan spirit perlawanan para 'baghin' yg tdk ingin negeri ini damai.

Lihatlah, bukankah kini ego keislaman dan sentimen agama benar benar dijadikan ruh itu utk melakukan perlawanan dan makar? Meski mereka selalu berkoar demi membela Islam, Al Qur'an dan ajaran syariat, namun nyatanya mereka justru mengobrak abrik kedamaian sosial dan konsensus negara yang kini sudah mapan.

NKRI digugat dengan khilafah, Pancasila dimandat untuk diganti dengan syariah, kebhinekaan yang indah menjadi warna Indonesia pun dicemari dengan agitasi pengkafiran secara sepihak dan searah. Karena nyatanya mereka yang selama ini getol menyuarakan takfir kpd orang kafir kini justru berangkulan membela orang kafir, hanya karena alasan balas jasa dan solidaritas.

Rakyat kecil pun dibodohi dengan doktrin agama yg menyesatkan namun dikesankan sebagai hal yang paling benar. 
Ummat pun disentuh emosi dan sentimennya seakan mereka kini tengah terancam oleh pemimpinnya sendiri dari kalangan ulama su' dan rezim penguasa melalui media sosial. Seakan hanya para 'baghin' itulah yg berhak mengklaim tafsir Al Qur'an dan ajaran Rasul yang paling benar untuk menentukan sorga dan neraka .

jangan sampai mrka yang tdk mengerti arti perjuangan para pahlawan dan pendiri bangsa Indonesia ini secara tanpa sadar menjadikan negeri ini di ambang kehancuran dengan atas nama agama.

Bahkan bila perlu jika memang mereka terbukti merusak keharmonisan sosial dan mengancam eksistensi NKRI, Pancasila dan kebhinekaan maka wajib bagi negara dan penguasa di negeri ini utk mengenyahkan.

Demi slogan khilafah, Ujaran kebencian atas nama agama dianggap pahala. Fitnah politik keji asal berbumbu Islam dianggap sorga,Apa begitu Islam yang benar?

Maka bagi siapapun yang peduli kepada kemaslahatan negeri ini, mari berdiri tegak di bawah konstitusi bersama NU dan kyai NU untuk menjaga kedamaian negeri ini. Karena hanya NU dan Kyai sepuh NU yang paling komitmen, mengerti dan peduli dgn kemaslahatan negeri "seribu wali" ini.

Bukankah kita selama ini bisa khusyuk beribadah karena berdiri di bumi NKRI? Maka jika tidak mau Pancasila dan NKRI silahkan enyah dari negeri ini..

Salam Islam Nusantara

~ SRUPUUUUUUT,,,, Monggo di raup semoga bermanfaat ~

Sumber : Status Facebook Muhammad Salman Alfarisy

Saturday, March 17, 2018 - 21:45
Kategori Rubrik: