Perpanjang SIM Buat Apa?

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat

Sejak punya SIM ketika masuk usia 17, SIM saya tidak pernah diperpanjang. Segitu-segitu juga, tidak pernah tambah panjang. Sim A dan B ukurannya tidak pernah berubah.

Lagian kalau diperpanjang, nanti malah nggak masuk dompet, jadi ribet bawanya kemana-mana. Kalau panjang bertambah, lebar bertambah, lama-lama lebarnya kayak kertas coblosan pemilu.

Betapa ribetnya hidup ini.

Saya setuju SIM tidak usah pakai acara diperpanjang. Tapi pendapatan negara lewat jalur SIM boleh saja tetap berjalan. Zaman sekarang kan apa-apa sudah online. Bayar online saja.

Nanti pak polisi kalau ngecek SIM kita, cukup pakai hp discan, terus keluar deh datanya. Misalnya nunggak gitu belum bayar pajak SIM, ya ditilang saja. Tilangnya otomatis online juga. Dan bayar tilangnya ya bayar online juga. 
bisa diupdate online sama polisi di jalanan.

Bukan ke pengadilan apalagi ke pak polisi. Praktis banget sih logikanya. Anak-anak jago koding juga bisa ngerjain kayak gitu. Sederhana sekali teknologi itu, kalau mau.

Kalau nonton film holywood, kits jadi iri. 
Polisi dgn mudah bisa cek rekordnya, udah berapa kali sering kena tilang, malah pernah ditangkap masuk penjara apa nggak, semua ada datanya.

Saya membayangkan disini juga bisa kayak gitu. Jadi nanti di data kita ada rekordnya, misalnya pernah nabrak tukang bakso berapa kali, nyerempet bajaj seberapa sering, pernah nggak diseruduk angkot, berapa kali naikkan motor ke trotoar, apa pernah masuk jalur trans Jakarta, atau masuk jalan satu arah ngelawan arus. Semua ada datanya, kalau perlu ada jepretan fotonya.

Semua data online bisa diakses dan diupdate, termasuk urusan denda. Teknologinya murah sih sebenarnya. Yang mahal kan birokrasinya.

Lucunya disini urusan kayak gitu kok buat bahan kampanye? Hehe ya kreatif sih

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Monday, April 15, 2019 - 08:00
Kategori Rubrik: