Permusuhan Pada Fitrah Manusia

ilustrasi

Oleh : Uju Zubaedi

Sejak awal manusia ditempatkan di bumi, Allah telah menginstal pada mereka sifat "saling bermusuhan" terkait TEMPAT TINGGAL (menetap) dan KESENANGAN yg Allah sediakan di bumi bagi mereka. Maka seiring perkembangan populasi manusia terjadilah fenomena REBUTAN terkait tempat tinggal dan kesenangan tsb.

.. وَقُلۡنَا ٱهۡبِطُواْ بَعۡضُكُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوّٞۖ وَلَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُسۡتَقَرّٞ وَمَتَٰعٌ إِلَىٰ حِينٖ
..Dan Kami katakan : “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu di bumi ada tempat tinggal dan kesenangan sampai waktu tertentu.” (Al-Baqarah : 36)

Bersamaan dg itu, Allah menyetting (fitrah) manusia sebagai makhluq berakal budi dan berperadaban yg tumbuh dari masa ke masa ke arah yg lebih baik, lebih maju, lebih lembut, lebih ramah, lebih beradab, lebih menyenangkan dst..

Maka dlm perjalanan jaman, kata "bermusuhan" itu pun berkembang pada konotasi yg positif/beradab yaitu, persaingan, kompetisi, berlomba dst.. dalam mengukuhkan dan membangun "mustaqor" (tempat tinggal yg tetap - kampung halaman - negara) dan "mataa'un ilaa hiin" (kesenangan selama hidup - kesejahteraan ekonomi dan budaya).

Pada masa tertentu (atas ilmu dan kebijakan-Nya), sebagai menyempurnakan nikmat dan karuniaNya bagi manusia, Allah menurunkan petunjuk DARINYA (Islam) sebagai penetralisir PERMUSUHAN dan mengeliminasi rasa takut, resah gelisah yg merupakan efek PERMUSUHAN tsb, berganti dg kehidupan yg bernuansa persaudaraan dan KASIH SAYANG

 

قُلۡنَا ٱهۡبِطُواْ مِنۡهَا جَمِيعٗاۖ فَإِمَّا يَأۡتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدٗى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ
Kami katakan : “Turunlah kamu semua darinya. Manakala benar2 datang kepadamu petunjuk dariKu, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak pula mereka resah gelisah.” (Al-Baqarah : 38)

... وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا ...
..., dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulunya bermusuhan, lalu Allah mempertautkan hatimu, sehingga karena nikmat-Nya kamu jadi bersaudara, ... (Ali 'Imran : 103)

Allah menurunkan agamaNya (Islam) TIDAK untuk memperebutkan apapun di bumi ini, bukan pula untuk mengintervensi urusan "tempat tinggal" dan "kesenangan" yg merupakan fasilitas asasi dari Allah untuk manusia. Tabiat "berebut" (berkompetisi) sudah Allah instal sebagai fitrah manusia, terkait "tempat tinggal" dan "kesenangan" (politik dan ekonomi/budaya), bukan digerakkan/didorong dg AJARAN yg diturunkan (agama). Islam diturunkan untuk mengontrol dan sebagai penyeimbang naluri berkompetisi pada fitrah manusia untuk mewujudkan KEDAMAIAN di dunia dan meraih KESELAMATAN di akhirat.

Oleh sebab itu, perbedaan agama atau keyakinan pada manusia sejatinya tidak berefek persaingan, kompetisi apalagi bermusuhan. Islam mengajak pada segala perbedaan agama atau keyakinan untuk berjalan pada prinsip :
لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ
Bagimu agamamu, bagiku agamaku.”

... لَنَآ أَعۡمَٰلُنَا وَلَكُمۡ أَعۡمَٰلُكُمۡ ..
... Bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu, .. (Al-Baqarah : 139)

... ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ إِنَّا عَٰمِلُونَ
.. “Berbuatlah pada posisimu, kami pun berbuat juga (pada posisi kami). (Hud : 121)

Maka tak perlu diragukan lagi bahwa mereka yg mendengung2kan permusuhan dan kebencian atas nama "iman", "Islam" atau "akidah", atau juga menyerukan untuk merebut, menuntut atau memaksakan sesuatu atas nama "menegakkan agama" (iqomuddin), merekalah para penjual agama untuk kepentingan dunia berupa (penguasaan) atas tempat tinggal (wilayah) dan kesenangan hidup (مُسۡتَقَرّٞ وَمَتَٰعٌ ).. Pada dasarnya, mereka ingin menggusur kembali peradaban manusia pada jaman primitif, jaman pra Agama Allah, dimana permusuhan, perebutan kekuasaan dan kesenangan mengejawantah (izhhar) dlm format primitif pra peradaban.

Dengan kata lain, mereka berpikiran dan berperilaku MENYIMPANG (FASIQ) dari fitrah Allah dan petunjukNya. Allah mengkategorikan mereka sebagai "syarrul bariyyah" (produk buruk/cacat) atau "'amalun ghoeru sholih" (pekerjaan [hasil kerja] gak bener... Maka..:

فَحَسۡبُهُۥ جَهَنَّمُۖ ..
Kepantasan baginya adalah JAHANNAM

 

Sumber : Status Facebook Uju Zubaedi

Tuesday, October 15, 2019 - 12:15
Kategori Rubrik: