Perlukah Sekolah?

ilustrasi

Oleh : Hadi Susanto

Panggilannya Cak Bambang Jeger. Rumahnya persis di depan rumah kami di kampung. Kalau malam keliling jualan cilok. Kalau siang servis alat-alat listrik rumahtangga bagi tetangga sekitar. Hampir tidak ada yang tidak bisa diperbaiki.

Cak Bambang hanya tamatan SD. Karena alasan ekonomi. Bukan alasan pilihan sebagaimana Bu Susi Pudjiastuti :P Emaknya buruh tani. Bapaknya sudah pisah sejak Cak Bambang masih bayi. Tapi bagaimana dia bisa jadi mumpuni seperti itu?

Katanya awalnya gara-gara melihat orang-orang ngoprek dan modifikasi radio di zaman 'break-break'an 'rojer, apa bisa dicopy? ganti' tahun 80-an. Dari situ dia tertarik dengan alat-alat elektronik. Belajar sendiri. Hingga jadi seperti sekarang ini.

Pokoknya keahliannya gak kalah sama Tony 'Ironman' Stark lah. Tapi upah sekadarnya saja.

Ibu saya pernah tanya kenapa tidak pasang papan pengumuman sambil pasang tarif. Dia bilang enak begini saja, biar bisa membantu orang lain.

Sekian tahun lalu, beberapa perusahaan besar seperti Google, IBM, Apple, dll, mengumumkan kalau mereka tidak lagi mensyaratkan ijasah sekolah formal dalam perekrutan tenaga kerja mereka.

Dunia heboh. Kita ikut rame. Banyak yang bilang ini waktunya sekolah formal untuk berbenah.

Tapi bagi saya yang dicari perusahaan-perusahan itu 'tidak lebih' dari orang-orang semacam Cak Bambang.

Sebagai guru, bagi saya sekolah tidak wajib. Yang wajib adalah pendidikan. Sekolah hanya salah satu cara mendapatkan pendidikan.

Mungkinkah sekolah formal nanti gulung tikar?

Sekolah formal akan selalu dibutuhkan. Karena tidak semua mau dan mampu belajar sendiri.

***

Akhir-akhir ini, di sekitar waktu pengumuman SBMPTN, semakin banyak orangtua posting keberhasilan putra-putri mereka yang diterima kuliah di kampus negeri walau tanpa SMA/SMK. Lewat homeschooling, terus ke Ujian Kesetaraan Sekolah Paket C.

Saya berharap perkembangan ini bukan karena tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sekolah negeri yang turun, tapi mau masuk sekolah swasta biayanya mahal. Mudah-mudahan yang demikian murni karena adanya pergeserah pandangan masyarakat kelas menengah/atas terhadap bagaimana pengetahuan didapatkan.

***

Pada akhirnya, toga wisuda seharusnya bukan hanya tanda kita selesai sekolah, apalagi simbol kita pernah berpikir. Tapi toga seharusnya pakaian janji kita untuk terus belajar dan terus bermanfaat bagi orang lain, dengan segala keterbatasan yang ada. Dan orang-orang seperti Cak Bambang, mereka lebih dari pantas untuk mengenakan toga.

Colchester (otw ke Indonesia), 19/07/19

Sumber : Status Facebook Hadi Susanto

Friday, July 19, 2019 - 11:30
Kategori Rubrik: