Perlukah Puasa Medsos untuk Politik

Oleh: Henry Subiakto

Semua pemilik akun di FB, pada dasarnya telah menyerahkan data pribadi dan data perseorangannya secara sukarela. Karena saat membuat akun telah "menyetujui" bhw semua pesan komunikasi dan aktivitas pribadinya terekam dan teranalisis secara digital oleh FB. Jadi FB itu praktis menguasai data pribadi dan perseorangan dari 2 milyar lebih penduduk dunia yg punya akun di FB. Kumpulan data itulah yg dipakai FB dan pihak ketiga untuk bisnis mereka, terkait politik maupun ekonomi yg berbasis big data dan profiling.

Cambridge Analytica salah satu pihak ketiga, mengambil data dari FB utk kepentingan politik kliennya di beberapa negara. Sebagai konsultan politik yg dibayar mahal, Cambridge menggunakan data FB untuk aktivitas "Dark and Dirty Politics". Salah satunya menurut Chistopher Wylie (wistle blower skandal ini) dipakai utk memenangkan Donald Trump di AS th 2016.

 

 

Dengan mengolah 71 juta lebih data pribadi termasuk di dalamnya menyangkut kepribadian, kesukaan, hingga orientasi politik para calon pemilih ini "digarap" dlm waktu lama. Cara kerja Cambridge Analytic, dilandasi dg asumsi bahwa utk mengubah politik, harus diubah dulu "budayanya". Karena politik mengalir lewat budaya. Untuk mengubah budaya, pertama tama harus diubah juga masyarakatnya. Untuk mengubah masyarakat, hancurkan dulu nilai nilai kearifan yg mengintegrasikan mereka, setelahnya jadikan masyarakat baru sesuai visi yg diinginkan.

Dilakukanlah operasi psikologi (Psyops) untuk mempengaruhi emosi, mengaduk semangat identitas, memotivasi utk mengalahkan lawan, dengan memberikan alasan objektif. Setiap target diperlakukan sebagai person politik berdasarkan psikologinya.

Setelah itu tim kreatif, designer, fotografer, videografer membuat content yg akan dikirim ke target atau calon pemilih, lewat berbagai saluran digital (medsos), tak hanya FB. Konten itu mencampurkan fakta dan opini, hoax, fake news, dan lain lain yg diarahkan sesuai visi mereka. Diciptakanlah situs, blog, akun, buzzer dan content apapun untuk membenarkan visi, sekaligus agar target mudah mengakses dan mengklik, hingga masuk dalam konstruksi yg dibangun secara psikologis. Jadi setiap target yg dipilih berdasar data itu, diperlakukan secara personal yg selalu "dibisiki", dikelilingi pesan pesan agar terbangun emosinya sesuai visi politik yg diarah.

Cara ini terbukti berhasil memenangkan Trump di AS, juga memenangkan pendukung Brexit di UK. Trump yg cenderung dinilai "Rasis" dan kasar, justru comply dg "White Supremacy", "First America" dan melihat diluar itu adalah ancaman. Mayoritas Kulit putih AS dibangkitkan kesadaran identitas dan prasangkanya. Mereka dikembalikan untuk bermimpi serba super dengan ras kulit putih yg dominan. Hal itu dilakukan sembari menghancurkan lawan dengan berbagai hoax dan fitnah. Maka Trump pun menang.

Apakah politik di Indonesia juga sudah ada yg menggunakan konsultasi Cambrigde Analitica? Ini pertanyaan serius yg perlu jawaban berdasar penyelidikan yg berwenang. Tapi berdasar besarnya kebocoran data pengguna FB dr Indonesia hanya sekitar sejuta, besar kemungkinan data ini hanya dipakai untuk politik di tingkat Propinsi atau Pilkada. Cuma dimana terjadinya, ini belum ada bukti yg jelas. Untuk kedepan Pilpres 2019 harus dijaga jangan sampai ada cara cara yg sama dg yg terjadi di AS maupun UK. Bangsa Indonesia harus menolak dan melawan, penggunaan situs abal abal, hoax dan provokasi politik Identitas.

Kalau perlu kita anjurkan rakyat Indonesia untuk puasa medsos hingga Pilpres 2019, artinya dalam orientasi politik jangan menggunakan referensi dari medsos termasuk FB, yg memang rentan dari rekayasa pihak tertentu. Sebaiknya ambil informasi dari media konvensional yg objektif, sudah memiliki reputasi serta bisa dimintai pertanggung jawaban. Kalau mau lebih akurat bisa melihat kondisi nyata, apa yg tampak, apa yg dirasakan dan apa yg dialami. Medsos cukup diperlakukan sbg sarana berkumpul dan mencari hiburan, tapi bukan utk persoalan politik.

Apakah Anda setuju dan merasa bahwa di negeri ini, strategi Cambridge Analitica sebenarnya sudah ada tanda tandanya yg kita rasakan? Jika memang demikian kita memang harus menolaknya, sekaligus mengusutnya. Mari kita diskusi.

 

(Sumber: Facebook Henri Subiakto)

Monday, April 9, 2018 - 23:15
Kategori Rubrik: