Perlukah Bersujud Pada Vagina?

Oleh : Aan Anshori

Serentetan peristiwa pemerkosaan memilukan menghiasi wajah media massa dalam sebulan terakhir ini. Awalnya dipicu oleh tragisnya YY, gadis 14 tahun di Bengkulu yang diperkosa massal kemudian dibunuh oleh 14 pria.

Yang tak kalah brutal mengoyak kewarasan publik adalah takdir yang menimpa EF, seorang karyawati di Tangerang. Ia tidak hanya diperkosa, namun kematiannya diakhiri dengan menancapnya gagang pacul di vagina gadis itu.

Menurut foto rongent yang beredar di jejaring sosial, gagang alat yang kerap digunakan sebagai simbol kerja keras dan perlawanan itu melesak jauh hingga paru-parunya.

Ya, para pembunuh EF senyatanya telah “bekerja keras” merepresi secara destruktif apa yang menurut mereka perlu dilawan; ketidaktundukan perempuan.

Namun kenapa harus vagina? Jawaban sederhananya bisa disampaikan dengan mengajukan pertanyaan balik: Adakah simbol lain yang berderajat lebih tinggi ketimbang organ vital?

Vagina — begitu juga penis dan anus — merupakan bagian tubuh yang punya makna sosiologis melebih organ lainnya. Di sanalah sentrum kehormatan seseorang diletakkan — baik dalam aspek biologis, psikologis, maupun sosiologis.

Zaman dulu, cara efektif melucuti kejantanan laki-laki adalah dengan mengebirinya. Kemaluan mereka dipotong secara paksa agar pemiliknya menanggung derita fisik maupun batin. Praktik ini sering dilakukan terhadap penduduk yang kalah perang.

Juga terdapat cara lain yang lebih ampuh untuk merenggut kehormatan laki-laki, yakni melalui pemerkosaan anal secara demonstratif di depan umum, persis seperti kejadian yang menimpa warga Nabi Luth. Anal rape dalam tradisi kuno —sebagaimana pernah disampaikan Donaldson — dianggap sebagai the ultimate humiliation over man.

Sebangun dengan penis dan anus, keberadaan vagina dalam konstelasi ini kurang lebih sama meskipun harus diakui keberadaan organ intim ini bersifat paradoksal. Belahan di antara dua paha ini dipuja sedemikian rupa oleh masyarakat kala itu sebagai simbol kesuburan, kekuatan, dan kesucian.

Sebelum Kekristenan hadir, kuasa vagina begitu agung. Saat itu gambar perempuan dengan organ intimnya mudah ditemukan di rumah maupun bangunan di wilayah Eropa. Gambar tersebut dipercayai secara magis berfungsi sebagai jimat penolak setan dan kematian. Penggambaran serupa juga kerap terpasang di sawah dan ladang untuk tujuan kesuburan.

Namun saat Kekristenan muncul — dan kemudian diwarisi oleh agama sesudahnya, agama ini berperan penting mengubah pandangan ini dengan cara memperkenalkan konsep malu.

Vagina dan organ intim lainnya tentu saja dijadikan sasaran utama dalam proyek rasa malu ini. Oleh Tertullianus, sosok penting dalam Kekristenan awal, vagina dianggap sebagai gate of hell, yang oleh karenanya harus dijaga supaya setan tidak keluar darinya.

\Dari sini selanjutnya terjadi konsolidasi wacana seputar mitos tentang kesucian. Perempuan yang sukses menjaga “gerbang”-nya dianggap merepresentasi kesucian. Sebagai dampaknya, selama abad pertengahan, vagina merupakan sasaran empuk penyiksaan untuk mendapatkan pengakuan perempuan saat diinterogasi.

Setiap jawaban yang diragukan kesuciannya (baca: kejujurannya), para interogator berhak menyodokkan besi ke kelamin perempuan yang diinterogasi —tentu saja dengan dorongan kekecewaan karena merasa dibohongi.

Cara penyiksaan mengerikan semacam ini barangkali mengingatkan kita perihal kepedihan yang dialami banyak perempuan tertuduh sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Lima puluhan tahun yang lalu, tidak sedikit dari mereka yang vaginanya dibakar, ditusuk aneka benda padat, hingga disetrum. Bahkan, ada yang dipotong untuk dijadikan souvenir. Memalukan.

Model penghinaan terhadap vagina seperti ini juga menimpa ratusan perempuan Tionghoa ketika pecah kerusuhan awal reformasi di Jakarta, Medan dan Surabaya. Catatan Tim Relawan untuk Kemanusiaan serta Tim Gabungan Pencari Fakta Peristiwa Mei mengkonfirmasi hal tersebut.

Namun demikian, destruksi vaginal paling mengerikan dalam sejarah Indonesia barangkali yang dialami oleh Marsinah. Pada tahun 1994 pahlawan buruh asal Nganjuk ini meregang nyawa setelah mengalami siksaan hebat. Menurut berita, kemaluan buruh PT CPS ini dimasuki oleh kayu. Namun saya sendiri lebih memercayai pendapat ahli forensik kenamaan Indonesia alm. Dr. Mun’im.

Dalam persidangan kasus tersebut, Mun’im secara mengejutkan menolak skenario kayu dan vagina. "Luka Marsinah hanya di sekitar labia minora sebesar 3 sentimeter," ujar Mun'im.

“Luka itu bukan karena benda tumpul melainkan peluru yang ditembakkan. Ini hanya bisa disebabkan oleh proyektil yang melenting," kata ahli forensik itu sebagaimana dikutip Tempo.

Dalam situasi di mana gerakan perempuan telah menunjukkan ke-progresivitas-nya, banyak kalangan terheran dengan merebaknya kasus pemerkosaan. Saya sendiri tidak cukup terkejut mengingat arogansi laki-laki terhadap vagina tidaklah sedikitpun terkurangi oleh sistem pendidikan kita.

Lihatlah, lingkungan kita secara umum masih terbelenggu oleh berbagai mitos bodoh perempuan, misalnya, “perempuan yang berpakaian provokatif, boleh dilecehkan”. Mitos ini secara mencengangkan biasanya dilanjutkan dengan nasihat, "Oleh karenanya, jangan umbar auratmu. Pilihlah bahan pakaian yg tidak menerawang dan ketat”.

Sangat sedikit dari kita sanggup kritis menantang telikungan mesra nasihat ini. Padahal di dalamnya sangat tampak sembulan nalar jahiliyah yang intimidatif bagi perempuan. Ya, jahiliyah sebab nasihat tersebut sama sekali tidak berintensi mendidik pelaku kekerasan dan malah justru menumpahkan kesalahan terhadap pemilik vagina. Ini persis seperti bebalnya kita menyalahkan korban pencurian sandal hanya karena ia tidak merantainya saat beribadah.

Nasihat tersebut juga bernuansa intimidatif — seperti gaya Orde Baru milik Soeharto — oleh karena menempatkan pemilik vagina sebagai obyek yang wajib memanggul ketakutan atas situasi ini.

Harus kita akui, represifitas terhadap perempuan agar membungkus tubuhnya rapat-rapat tidak cukup imbang dibarengi dengan seruan sungguh-sungguh bagi lelaki untuk tidak mudah menodai kehormatan perempuan.

Benar, terdapat ajaran penting untuk menghormati perempuan, akan tetapi hal itu sering dipahami dalam konteks yang sangat spesifik, yakni kepada ibu — kaitannya dengan siapa yang perlu dimuliakan antara ibu dan bapak.

Terhadap perempuan yang meski telah berpakaian sopan, ada kesan kuat keluhuran budi pekertinya masih ditentukan apakah ia mau membungkus rapat tubuhnya atau tidak. Hijab/jilbab dijadikan semacam benchmark untuk menakar kualitas keislaman seseorang.

Saya sangat khawatir nalar di atas tadi semakin mengukuhkan kesesatan pikir menyangkut perempuan dan caranya berbusana.

Bersujud pada vagina adalah ajakan serius kepada bangsa ini agar menyadari betapa tidak adilnya pikiran kita pada tubuh perempuan. Ketidakadilan tersebut pada gilirannya menyebabkan rentetan kekejian terhadap ratusan perempuan Tionghoa dan tertuduh Gerwani, Marsinah, YY, EF, dan korban lain yang masih takut bersuara.** (ak)

 Sumber :Rappler.com

 

Friday, June 3, 2016 - 09:15
Kategori Rubrik: