Perlawanan Tanpa Batas

Oleh: Felix Irianto Winardi

 

Pada tanggal 28 Desember 2019, DW.com merilis berita hasil survey YouGov. AS di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump telah kehilangan kepercayaan dari para responden. Survey itu juga menempatkan Trump sebagai orang yang paling berbahaya. 41% responden menempatkan Trump sebagai orang yang paling berbahaya. Di tempat kedua Kim Jong Un terpaut jauh di belakang dengan 17%, diikuti oleh Vladimir Putin dan Ayatollah Ali Khamenei dengan 8%. Di tempat terkahir, atau yang dianggap paling tidak berbahaya adalah Presiden Cina Xi Jinping dengan 7%(1). Serangan mematikan tak jauh dari bandara Bagdad pada tanggal 3 Januari 2020 kemarin, yang menewaskan Let. Jend. Qassem Soleimani, komandan al-Quds(2), membenarkan kekawatiran rakyat Jerman responden survey itu. Donald Trump memang tak ubahnya bak sianida.

QS merupakan sosok kharismatis ditakuti lawan disegani kawan dan dicintai banyak orang. Gugurnya QS menyisakan kepedihan mendalam bukan hanya bagi Iran tetapi juga bagi banyak kalangan di belahan dunia lain. Sang Jendral memiliki hubungan baik bukan hanya di Timur Tengah, tetapi juga di Amerika Latin, Afrika dan juga Asia. Maka wajar jika pembunuhan terhadap QS juga menimbulkan ketegangan sampai ke wilayah Amerika Latin(3)

 

Para Hawkish berharap Iran akan segera membalas serangan brutal itu dg membabi-buta. Mereka akan kecewa. Iran tau dan sadar betul arah provokasi itu. Karena pemimpin tertinggi Iran bukan kelas teri seperti Trump. Justru jam2 mendatang dunia akan menyaksikan bangsat yang sebenarnya. Saya yakin petinggi-petinggi Iran akan menunjukkan kelasnya sebagai bangsa yang berbudi luhur.

Trump memprovoke dg kejam dan brutal sekedar untuk memuaskan kelompok tertentu, sambil menunjukkan keberanian dia dalam rangka pilpres mendatang. Tapi presiden AS itu tidak punya solusi selanjutnya. Sementara Iran sudah sejak lama mempersiapkan kemungkinan terburuk. Iran tidak akan pernah masuk dalam jebakan Betmen.
Kepanikan justru melanda Israel dan Eropa. Mereka melihat Iran sama seperti mereka melihat diri sendiri, penuh kebencian dan dendam. Mereka sama sekali tidak mengenal spiritualitas yg membimbing para pemimpin dan rakyat Iran.

Pertanyaannya: Akankah tewasnya QS akan memancing kemarahan tak terkendali sehingga menjerumuskan umat manusia dalam WWIII? Saya yakin tidak. Iran tidak akan terprovokasi oleh serangan brutal itu. Iran sungguh sadar ke mana arah provokasi orang-orang gila haus darah itu. Tetapi bukan berarti tidak akan ada tindakan sama sekali. Ada beberapa kemungkinan yang akan dilakukan untuk menekan AS.

Pertama dengan mendorong Irak untuk mengusir seluruh personil militer AS yang telah 17 tahun menguasai Irak. Tetapi ini akan sulit dilakukan mengingat banyak petinggi Irak “berhutang budi” pada AS. Kecuali jika pemimpin spiritual Irak, Ayatulloh Sistani menyerukan perlawanan terbuka. Tapi ini pun kiranya tidak akan terjadi karena ulama tersebut telah mengeluarkan seruan “untuk menahan diri” pada semua pihak yang terlibat.
Kemungkinan ke dua yang relatif lebih mudah dan murah adalah dengan mengganggu “halaman belakang” AS yaitu negara-negara Amerika Latin dan karibia, seperti Venezuela. Venezuela, Mexico, Bolivia dan Kuba secara tradisional mempunyai buhungan erat dengan Iran melalui QS. Besar kemungkinan “kerjasama” Iran-Venezuela akan segera mencapai intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam rangka ini Kuba tentu akan dengan senang hati mendukung.
Di kawasan TimTeng sendiri AS masih akan terus menghadapi kesulitan dengan Suriah dan Hisbulloh Libanon. Kedua pihak ini tentu akan dengan gembira meningkatkan perlawanannya terhadap AS dengan dukungan Rusia dan Tiongkok dengan satu dan lain cara.

Kemungkinan ketiga. Iran akan memperketan pengawasan atas selat Hormuz dan mengganggu tanker-tanker minyak milik sekutu AS. Ini akan sangat merepotkan AS. Sementara itu Eropa sendiri tidak satu suara dengan AS dalam kasus Iran(5). AS tetap tidak akan mendapat dukungan penuh dari Eropa.

Gugurnya QS memberi pelajaran tersendiri bagi seluruh rakyat Iran dan juga resistensia, bahwa AS akan melakukan apapun untuk menghantam petinggi atau tokoh-tokoh berpengaruh di resistensia, karena kebijakan AS di TimTeng hanya 2 yang terkait erat satu dan yang lainnya: memastikan bahwa zionis-Israel tetap berjaya apapun resikonya dan mempertahankan/meningkatkan penguasaan atas wilayah demi SDA dan kepentingan ekonomis. Jadi semua negara dan kelompok yang berkoalisi dalam resistensia harus tahu betul bahwa tidak bisa mengharapkan AS dan Barat n geng nya, akan berlaku sebagai gentlemen, karena meraka merupakan manusia-manusia biadab tanpa kehormatan. Mereka tak lebih dari anjing geladak kurus kurapan tanpa adab, tanpa kasih.

Sekali lagi gugurnya QS menjadi duka mendalam bagi banyak negara dan kelompok perlawanan. Kemartiran QS akan membangkitkan dendam-dendam pribadi yang akan melahirkan “lone-wolf” tanpa koordinasi, tanpa takut dan siap untuk mengorbankan diri. Ini lah yang paling berbahaya dan hampir tidak mungkin terdeteksi, karena sama sekali tidak ada kaitan satu dan yang lainnya, dan tanpa komando. Mereka hanya disatukan oleh “rasa mencari keadilan” yang sama. Dengan kemajuan teknologi seperti saat ini, serangan sporadis mereka akan sangat merusak dan mematikan.
Kiranya tindakan brutal AS itu akan semakin mempererat persatuan dan persaudaraan antar umat baik di Timur Tengah maupun di bagian lain bumi ini, sehingga semakin memecahkan saraf sadar akan bahaya laten AS. Ini yang mungkin sama sekali dilusr perhitungan Trump.

Siapa yang diuntungkan dengan gugurnya QS?
Pertama tentu saja Trump secara pribadi. Keberhasilannya membunuh QS memberi keuntungan ganda bagi Trump pribadi:
- Menunjukkan keberaniannya demi kepentingan mendongkrak kredibilitasnya menjelang pilpres mendatang
- Trump telah memuaskan pendukung utama Zionis yang telah membelanya mati-matian terkait dengan usaha penggulingannya(4) dan dengan begitu support “paket lengkap” dari pro-Zionis tetap akan lancar
- Mengalihkan perhatian publik atas issu pencopotannya dari kursi kepresidenan.

Israel merupakan pihak lain yang diuntungkan. QS merupakan tokoh tidak banyak bicara dengan kharisma luar biasa. Absennya sang Jendral tentu akan sedikit mengendorkan saraf Israel, walau untuk sejenak. Bagaimana pun kepentingan Israel sebagai sekutu utama AS akan menjadi salah satu target sangat sexy bagi “the Lone Wolf”.
Selamat malam, selamat beristirahat. Damai Tuhan selalu bersama Anda semua.

#SaveHumanity
#ASbgst
#DamaidiBumi

1. https://www.dw.com/…/orang-jerman-anggap-donald-…/a-51810965
2. https://www.rt.com/…/477420-moment-us-strike-soleimani-vid…/
3. https://www.diariolasamericas.com/…/iran-podria-utilizar-ve…
4. https://www.christiantoday.com/…/nearly-200-evan…/133909.htm
5. https://www.cufi.org/us-envoy-urges-germany-dont-fund-iran…/.

 

(Sumber: Facebook Felix Irianto Winardi)

Monday, January 6, 2020 - 14:15
Kategori Rubrik: