Perlambatan Ekonomi Tak Pengaruhi Industri Manufaktur Babel

Ilustrasi

RedaksiIndonesia – Pemerintah terus menggenjot pertumbuhan berbagai industri. Tantangannya cukup besar karena pertumbuhan ekonomi dunia melambat. Di Indonesia tidak semua industri seret, seperti manufaktur cukup positif. Seperti yang ditunjukkan produksi industri manufaktur besar dan sedang di Provinsi Bangka Belitung triwulan III (Juli-September) 2015 naik sebesar 6,55 persen dibanding triwulan II/2015. Naiknya produksi industri manufaktur besar dan sedang pada triwulan III/2015 terutama disebabkan oleh jenis industri makanan yang naik sebesar 6,92 persen. Diurutan berikutnya, industri karet, barang dari karet dan plastik naik sebesar 3,36 persen, sedangkan industri logam dasar turun sebesar 3,27 persen.

Secara nasional pada triwulan III/2015 pertumbuhan industri manufaktur besar dan sedang juga mengalami kenaikan sebesar 1,04 persen terhadap triwulan II/2015. Untuk , pertumbuhan produksi industri mikro dan kecil (IMK) triwulan III/2015 di Babel mengalami penurunan sebesar 6,52 persen terhadap triwulan II/2015. Penurunan itu terutama diakibatkan oleh industri barang galian bukan logam sebesar 25,52 persen dan industri dari kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur) serta barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya yang turun sebesar 24,70 persen.

Sektor industri mempunyai peranan penting dalam pembangunan nasional maupun regional. Nilai tambah yang dihasilkan dari sektor tersebut mempunyai kontribusi yang besar terhadap naik turunnya pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Sumber data yang digunakan dalam melihat kinerja IMK adalah hasil survei industri mikro dan kecil yang dilakukan seara rutin setiap triwulan pada beberapa perusahaan di Babel. Pemerintah daerah perlu turun tangan sehingga beban industri tidak makin berat.

Intervensi pemerintah tidak harus berupa suntikan modal melainkan bisa dalam beragam bentuk lain. Sebut misalnya insentif, pengurangan pajak, pembebasan biaya ekspor dan lainnya. Pemerintah membutuhkan dukungan di daerah sebab ada 600 kabupaten/kota se Indonesia yang harus diurus. Kepala daerah dalam mencari solusi tidak harus mengandalkan pusat sebab bisa jadi kebijakan pusat tidak sesuai kondisi daerah masing-masing.

Menjadi tanggungjawab pemerintah mengetahui potensi wilayahnya. Tanpa ada inovasi maka keunggulan tidak berdampak signifikan. Disisi lain, 2016 MEA akan diluncurkan dan industri harus bisa bersaing dengan produksi luar negeri. Kualitas sering menjadi kata kunci utama dalam persaingan industri global. Tanpa keunggulan komparatif, Indonesia akan sulit bersaing atau malah menjadi konsumen produksi dari Negara lain. (Diolah dari Antara)

Thursday, November 5, 2015 - 23:30
Kategori Rubrik: