Perkosaan di Era Modern

Oleh : Erizeli Jely Bandaro

Ada seorang istri yang terpaksa bekerja keras demi keluarganya karena sang suami terlalu banyak rencana malas berbuat dan terlalu yakin untuk bekerja ala kadarnya demi agama yang dia yakini. Tapi kebutuhan hidup yang terus merangkak naik, sang ibu tidak bisa berdiam diri. Ibu yang berjuang demi anak anak yang lahir dari rahimnya kadang harus mendapat fitnah dan memang mengandung resiko terkena fitnah. Biasanya apabila suami tidak bisa memahami ini maka hanya masalah waktu rumah tangga akan hancur.Suami dapat dengan tanpa beban menginggalkan istri yang harus menanggung beban anak anaknya...

Seorang teman seniman di China mengatakan kepada saya bahwa di era modern, pemerkosaan terjadi secara massive dan permissive. Tidak dilakukan dengan pedang terhunus atau pestol tapi dengan uang, magice word, malfunction religion, culture ..dan selalu terjadi dengan air mata tanpa suara. Hukum manusia tidak menjangkau ini.. tanpa disadari banyak terjadi pemerkosaan melalui soft power ketika pria dengan alasan firman Allah melakukan poligami padahal istrinya masih mampu secara psikis dan phisik memenuhi libidonya. Di luar ,pria menggunakan uang memaksa wanita yang dalam kemiskinan melayani libidonya di barak pelacuran. Para pria menggunakan magic world untuk melampiaskan libidonya kepada pacarnya.

Karenanya sudah saatnya pemahaman agama terhadap wanita bukan wahana memuaskan tapi sarana pelangkap bagi pria untuk menemaninya mengarungi hidup yang kadang tidak ramah. Pria harus memahami wanita untuk mengerti kekurangannya tanpa harus memanjakannya kelebihannya namun selalu menjaganya dari segala fitnah. Membuat dia nyaman dan merasa terlindungi dari rasa kawatir dengan menghapus airmatanya dikala gundah...selalu ada untuk wanita. Bukankah kehormatan pria terletak bagaimana dia memperlakukan istrinya.** (ak)

Sumber : facebook Erizeli Jely Bandaro

Thursday, May 5, 2016 - 06:30
Kategori Rubrik: