Perkawinan Kaum Radikal dan Teroris

Ilustrasi

Oleh : Alto Luger

Pasca bencana alam di Palu dan Donggala, yang kemudian diikuti oleh penjarahan dan kaburnya ratusan tahanan dari penjara di Palu dan Donggala, beta sudah memperingatkan dalam tulisan tanggal 2 Oktober 2018 (https://www.facebook.com/alto.luger/posts/10217358260170176) akan bahayanya menormalisasi chaos yang terjadi di Palu. Secara spesifik beta menuliskan bahwa: Khusus bagi Sulawesi Tengah, adalah bahaya apabila pemerintah menormalisasi chaos, karena di Poso itu masih ada sel teroris Mujahiddin Indonesia Timur aka kelompok Santoso yang masih aktif. Disamping itu, dengan memanfaatkan chaos, tidak mengherankan kalau mereka akan melakukan reposisi lokasi disaat anggota TNI/Polri dari Poso dikirim ke Palu untuk membantu proses recovery.

Tanggal 20 Oktober, beta kembali mengingatkan bahwa potensi instabilitas itu cukup tinggi karena kedekatan Palu dengan Poso di mana ada sel-sel teroris aktif di sana, khususnya Mujahiddin Indonesia Timur pimpinan Santoso. (https://www.facebook.com/alto.luger/posts/10217504322581645).

Pasca pembakaran bendera organisasi terlarang, HTI, oleh Banser, Jumat kemaren kita melihat bagaimana pendukung-pendukung Khilafah itu secara berani menunjukkan taringnya di Poso dengan menurunkan secara paksa bendera Merah Putih, lambang kedaulatan Negara Indonesia, dan menggantikannya dengan bendera Hitam yang merupakan bendera HTI dengan tulisan yang sama yang ada di bendera Al Qaida maupun Islamic State alias ISIS. Seperti analisis beta sebelumnya, kejadian di Poso ini dimanfaatkan oleh Mujahiddin Indonesia Timur untuk menunjukkan kepada dunia bahwa mereka MASIH AKTIF dan PUNYA BASIS MASSA. Mereka memanfaatkan momen ini dengan mengeluarkan propaganda untuk MENGUNDANG para Mujahidden dan Jihadis dari seluruh dunia untuk datang ke Poso dan memerangi pemerintahan Thogut, yaitu pemerintahan Indonesia.

Nah, para pendukung organisasi terlarang HTI selalu berargumen bahwa HTI tidak pernah melakukan tindak pidana, maupun kekerasan, bahkan teror. Akan tetapi mereka tidak pernah mau mengakui bahwa HTI sebagai gerakan politik itu secara sadar dan terstruktur ingin menggantikan falsafah hidup Indonesia menjadi sistem pemerintahan Khilafah. Jalan politik yang ditempuh oleh HTI inilah yang kemudian beririsan dengan tujuan gerakan-gerakan yang ingin mendirikan Khilafah lainnya, yang mempergunakan teror sebagai senjata mereka mencapai tujuan.

Adalah provokasi HTI yang memberi darah segar bagi Mujahidden Indonesia Timur yang berpusat di Poso untuk mengeluarkan propaganda mereka mengundang para Mujahidden dan Jihadis untuk datang dan berperang di Indonesia.

Adalah provokasi HTI pula yang mengundang dimulainya pembentukkan opini negatif terhadap Banser, termasuk secara sistematis menggerus Islam Nusantara yang selama ini dikampanyekan oleh NU.

Makar itu tidak selalu harus dilakukan dengan penggunaan kekerasan bersenjata. Kalau kaum radikal seperti HTI ini sudah menguasai parlemen dan Angkatan Bersenjata, mengganti Pancasila dan UUD 1945 dan menjadikan Indonesia sebagai Daulah al Islamiya fi Endonusi berbentuk Khilafah itu dengan gampang bisa dilakukan dengan ketokan palu sidang saja. Salam,

#IndonesiaTanahAirBeta

Sumber : Status Facebook Alto Luger

Thursday, November 1, 2018 - 15:15
Kategori Rubrik: