Perkawinan Bersyarat Ala Titik Soeharto

ilustrasi

Oleh : Rudi S Kamri

"Kalau Pak Prabowo Subianto terpilih jadi Presiden RI, saya akan mendampingi beliau sebagai Ibu Negara", begitulah kira-kira yang dikatakan oleh Titiek Soeharto di depan media beberapa hari lalu.

Saya tidak tahu bagaimana respons Prabowo terhadap ujaran mantan istrinya itu. Tapi andai saja saya jadi Prabowo sudah pasti akan saya tolak mentah-mentah tawaran bersyarat dari Titiek Soeharto tersebut. Bagaimana mungkin kesakralan perkawinan dibuat menjadi komoditas politik 5 tahunan ?

Makna yang bisa ditangkap dari ujaran Titiek Soeharto tersebut adalah, kalau Prabowo kalah (lagi dan lagi), dia berarti ogah balikan dengan mantan suaminya. Begitu kan ?

Titiek Soeharto hanya sedang bermasturbasi untuk menjadi penghuni Istana Negara lagi. Menurut saya sejatinya dia tidak serius mau kembali ke pelukan mantan suaminya, dia hanya sedang berhalusinasi dan berangan- angan ingin menjadi "the first lady". Angan- angan yang insyaallah tidak akan terealisasi.

Kalau Titiek Soeharto adalah perempuan yang bermartabat, tentunya keinginan untuk kembali ke pelukan mantan suaminya tidak harus ada embel-embel politisasi. Seharusnya dia menerima apapun keadaan dari bapak dari anak tunggalnya. Seekstrim apapun kondisinya dia harus tulus menerima. Entah laki-laki itu seorang temperamental atau konon burungnya sudah layu atau sudah hilang terbang kemanapun, dia harus menerima apa adanya. Termasuk menerima seorang Prabowo dengan hutang Rp 7,6 Triliun.

Kehormatan seorang laki-laki yang konon "lebih TNI daripada TNI" ini sedang dipertaruhkan. Dan sebagai sesama laki-laki saya mendukung penuh apabila Prabowo berani menolak dengan tegas proposal "Perkawinan Artificial" versi Titiek Soeharto ini. Pertanyaannya apakah seorang Prabowo punya keberanian ? Dimana saat ini dia juga sedang membutuhkan dukungan logistik dari klan keluarga Cendana. Hmmmm...... entahlah.

Tapi apapun yang terjadi, Titiek Soeharto telah mempertontonkan kepada masyarakat Indonesia sebuah tindakan yang tidak layak untuk dicontoh. Kehormatan wanita yang seharusnya mengabdikan dirinya untuk suami dan anak tunggalnya seakan tergerus oleh nafsu kekuasaan yang tidak realistis.

Untung dulu saya tidak jadi melamarnya 

Salam SATU Indonesia,
Sumber : Status Facebook Rudi S Kamri

Friday, April 5, 2019 - 08:15
Kategori Rubrik: