Perilaku "Lucu" Para Pemimpi Surga

ilustrasi

Oleh : Uju Zubaedi

Untuk memahami judul di atas kita cermati dulu analogi sbb.
Setiap lembaga pendidikan pasti menyediakan/menjanjikan IJAZAH bagi para siswa/mahasiswanya.
Untuk bisa memperoleh IJAZAH tsb setiap siswa/mahasiswa harus belajar dg sungguh2, tetap jadi mahasiswa/pelajar sampai TAMAT, dan harus lulus UJIAN..

Pada setiap UJIAN ada tiga jenis lembaran/paket terkait ujian tsb, yaitu

1. Lembaran/naskah SOAL UJIAN untuk dikerjakan/dijawab. 
Naskah soal ujian ini pasti berbeda untuk masing2 jenis dan tingkat pendidikan dan pasti berganti/berubah pada setiap angkatannya.

2. Lembaran PETUNJUK dalam membuat/menyusun jawaban.
Materi PETUNJUK ini bisa saja sama untuk setiap jenis dan tingkatan, bahkan dari angkatan ke angkatan.

3. Lembar KERJA/JAWABAN untuk dibuat oleh para teruji lalu diserahkan ke pihak penguji.

Semua pasti paham untuk apa dan bagaimana menyikapi ke3 paket tsb. Tapi sekedar untuk membuat analogi, ada 4 TIPE sikap dan perilaku dalam menempuh ujian, misalnya (imajiner) seperti berikut.

TIPE (A)
Lembar petunjuk dibaca, dipahami dan diperhatikan/dipedomani sebagaimana mestinya, lalu setiap butiran soal dibaca dan dipahami dg baik, kemudian peserta ujian berpikir memeras otak membuat jawaban (karya) yg ia tuangkan pada lembar jawaban. Lembar karya/jawaban itulah yg disodorkan ke pihak penguji untuk mendapat NILAI.

Begitulah normalnya setiap menjalani ujian. Para peserta ujian tinggal menunggu keputusan apakah di lulus ujian atau gagal.

TIPE (B)
Ada peserta yg tidak mendapat (membaca) petunjuk, dia langsung membaca setiap butiran soal lalu membuat karya (jawaban). Meski ada kemungkinan ia luput memenuhi beberapa ketentuan karena tidak nembaca petunjuk, tapi ia masih punya "karya" yg bisa disodorkan dan dinilai.

Sangat lain halnya jika yg dilakukan malah sbb:

TIPE (C)
Lembar soal tidak dibaca dg cermat n serius, sekedar dilihat2 tanpa dipahami, sedangkan lembar petunjuk dibaca berulang kali, bahkan sampai hapal. Kemudian membuat karya (jawaban) berupa wacana/narasi mengomentari dan menyatakan bagaimana kepahamannya akan petunjuk2 tsb. BUKAN menjawab soal2 yg ada. Maka dapat dipastikan bahwa "karya" (jawaban) yg dibuat lalu diserahkan ke pihak penguji samasekali tidak berkorelai dg soal2 yg seharusnya dijawab, maka tidak mungkin ada nilai yg bisa dia harapkan.

Dan akan lebih lucu lagi ketika terjadi fenomena berikut :

Dan akan lebih lucu lagi ketika terjadi fenomena berikut :

TIPE (D)
Segolongan peserta ada yg mendapat informasi bahwa para senior pendahulu mereka, angkatan awal2 dari almamaternya itu telah lulus dg nilai yg sangat baik, dan sekarang sudah jadi orang2 sukses. Karena diapun ingin seperti mereka, maka dia mencari tahu bagaimana karya ("jawaban") para pendahulunya itu. Karya para pendahulu itulah yg ia kopi dan bawa ke ruang ujian, lalu dia kopas pada lembar karya miliknya, kemudian dengan bangga dan pede disodorkan ke pihak penguji. Sedangkan lembar soal dan petunjuk yg ada samasekali tidak dipedulikan, karena mereka merasa telah bisa berkarya (melakukan) hal yg sama dg orang2 yg yg telah sukses itu....
Bisa dibayangkan bagaimana sikap/reaksi para penguji..

Sekali lagi, narasi di atas dibuat untuk analogi, terkait segugus petunjuk dari Allah bahwasanya :

Allah menyediakan/menjanjikan surga bagi orang2 yg betaqwa (3 : 15)

Orang2 yg bertaqwa (MUTTAQIN) itu terdiri dari orang2 beriman yg takut masuk neraka (3 : 16), dan mereka memiliki karakter :

SABAR, istiqomah dlm KEBENARAN, konsisten dlm KETAATAN, rela BERKORBAN, dan siap DIKOREKSI (terbuka untuk perbaikan). (3 : 17).

Karekter tsb merupakan "standard" untuk bisa meraih kualifikasi sebagai "produk unggul" (khoerul bariyyah) dan tergolong orang2 yg BERIMAN dan AMAL SOLEH (98 : 7,8)

Ketaqwaan itu harus BENAR dan LEGAL (haqqo tuqootihi) dg memenuhui semua syarat dan "rukun" taqwa, antara lain (sebagai syarat) : tetap dalam Islam (Muslim) sampai mati (3 : 102)

Untuk membuktikan terpenuhinya semua syarat dan ketentuan tsb diatas dan layak mendapat surga, semua harus menempuh dan LULUS UJIAN (2 : 214, 3 : 142)

Terkait UJIAN untuk bisa mendapat SURGA itulah narasi ttg ujiannya para pelajar/mahasiswa tsb diatas dapat dijadikan alalogi, karena banyak sisi kesamaan antara keduanya. Antara lain ada 3 titik substansial yaitu :

1. Paket materi ("soal") ujian.
2. Paket PETUNJUK dalam menempuh ujian.
3. KARYA para teruji (peminat surga) sebagai "jawaban" atas soal2 ujian tsb.

Pertanyaannya : 
1. Apa (yg mana) yg merupakan "soal ujian" dari Allah yg dijawab/direpons dg karya soleh..?
2. Adakah (apa) petunjtuk dari Allah dalam mengerjakan soal2 ujian tsb.
3. Bagaimana jawaban (respon) dari para peminat surga itu sendiri..?

Tentang "materi ujian" Allah menerangkan sbb.

إِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَى ٱلۡأَرۡضِ زِينَةٗ لَّهَا لِنَبۡلُوَهُمۡ أَيُّهُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗا
Sesungguhnya Kami jadikan apa yang (ada/terjadi) di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk MENGUJI mereka, siapa di antara mereka yang terbaik amal (karya)-nya.. (Al-Kahfi : 7).

Apa yg ada dan terjadi di muka bumi yg Allah sebut "perhiasan" berupa dinamika dan romantika kehidupan bumi itulah yg jadikan "ALAT UJI" menantang karya terbaik manusia.

Lebih rinci dan konkrit ttg alat uji tsb :

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ
Dan sungguh Kami MENGUJI kalian dengan suatu rasa takut, rasa lapar, kurang harta, jiwa, dan buah-buahan... Kabar gembiralah bagi orang2 yang sabar. (Al-Baqarah : 155)

Materi ujian dari Allah itu : 
Rasa takut (rendahnya rasa aman tentram) 
Rasa lapar (rendahnya tk kesejahteraan)
Kekurangan harta (kemiskinan)
Kekurangan jiwa (kebodohan/rendahnya sumber daya manusia)
Kekurangan buah2an (kurangnya sumber daya alam).

Itulah "paket soal" alias Materi2 UJIAN dari Allah selaras dg AGENDA UTAMA ROBBANI yaitu : 
Menyejahterakan manusia dari rasa lapar ( أَطۡعَمَهُم مِّن جُوعٖ )
Mewujudkan rasa aman dari rasa takut ( وَءَامَنَهُم مِّنۡ خَوۡفِۭ )

Materi UJIAN tsb itulah yg harus dihadapi ("dijawab") manusia dg perjuangan (JIHAD) dan SABAR. 
Jihad di jalan Allah itu tentunya ikut terlibat berjuang dalam proses terwujudnya AGENDA ALLAH bukan berjuang demi mimpi dan ambisi sekelompok orang dalam kegelapan. 
SABAR itu tabah, berani dan rela menerima kenyataan dg terus berjuang menampilkan karya terbaik ( أَحۡسَنُ عَمَلٗا ) untuk meraih kenyataan yg lebih baik. Bukan mengeluh, menggerutu, protes dan menyalahkan orang lain.
Tanpa JIHAD dan SABAR menjalani ujian dari Allah tersebut, jangan mimpi meraih surga.

أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَعۡلَمِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ مِنكُمۡ وَيَعۡلَمَ ٱلصَّٰبِرِينَ
Apakah kamu kira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang2 yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata pula orang2 yang sabar. (Ali 'Imran : 142)

Adapun PETUNJUK untuk menjalani ujian tersebut tak lain adalah Al-Quran,

Al Quran itu BUKAN SOAL UJIAN, melainkan PETUNJUK dan PENJELASAN dalam memahami soal2 ujian tsb, dan memberi arahan/panduan dalam membuat jawaban.

Yg namanya soal ujian itu beraura "sangar", sarat dg tuntutan, kesulitan yg bikin lelah dan mumet kepala. Sedangkan yg namanya petunjuk itu ramah dan bersahabat, menolong, membantu, meringankan, memberi solusi, dst.
Bayak sekali pernyataan dan penegasan dari Allah terkait Alquran, bahwa Alquran itu PETUNJUK yg beraura ramah dan bersahabat, a.l :

.... هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ .....
.... sebagai PETUNJUK bagi manusia dan PENJELASAN2 mengenai petunjuk tsb....(Albaqarah : 185) 
... وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكُمۡ نُورٗا مُّبِينٗا
.... dan telah Kami turunkan kepadamu CAHAYA TERANG BENDERANG (Al-Qur'an). (An-Nisa' : 174)

... وَنَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ تِبۡيَٰنٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ وَبُشۡرَىٰ لِلۡمُسۡلِمِينَ
..... Dan Kami telah menurunkan Alkitab (Al-Qur'an) kepadamu sebagai PENJELASAN atas SEGALA SESUATU, sebagai PETUNJUK, serta RAHMAT dan kabar GEMBIRA bagi Muslimin... (An-Nahl : 89)

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ....
Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an (sesuatu) yang merupakan penawar (pemberi solusi) dan rahmat bagi orang yang beriman, ... (Al-Isro : 82)

مَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لِتَشۡقَىٰٓ * إِلَّا تَذۡكِرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰ
Tidaklah Kami turunkan Al-Qur'an ini kepadamu untuk membuatmu susah, melainkan sebagai pelajaran (tadzkiroh) bagi yang merasa takut. (Tha-Ha : 2, 3)

... وَمَا جَعَلَ عَلَيۡكُمۡ فِي ٱلدِّينِ مِنۡ حَرَجٖۚ ...
.... dan Dia tidak menjadikan untukmu dalam agama ini sesuatupun yg menyulitkan (bikin ribet) ... (Al-Hajj : 78)

Begitu terang dan jelasnya keterangan dari Allah terkait petunjukNya itu. Dan HANYA yg dari Allah sajalah yg merupakan petunjuk, bukan dari siapapun selain Allah..

.... إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلۡهُدَىٰۗ وَلَئِنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم بَعۡدَ ٱلَّذِي جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٍ
..... “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yg sebenarnya) petunjuk.” Dan jika kamu mengikuti keinginan mereka (yg menjajakan "petunjuk"lain) setelah ilmu (kebenaran) datang kepadamu, tidak ada bagimu seorangpun pelindung dan penolong dari Allah. (Al-Baqarah : 120).

Dalam menyikapi dan menempuh ujian dari Allah untuk KESELAMATAN di akhirat dan mendapatkan surga, berbagai tipe perilaku manusia ternyata sangat analog dg tipe2 perilaku para teruji sebagaimana paparan diatas, dg 4 variasi tipikal perilaku, yaitu tipe A, B, C dan D.

Nyaris tidak ada yg analog dg TIPE (A), yg sebenarnya harus begitu.

Adapun orang2 diluar Islam (non Muslim) yg tidak menganut (berpetunjuk) Alquran, dan Muslimin yg tidak terlalu serius (fanatik) dg Alquran, mereka analog dg TIPE (B). Mereka menampilkan jawaban tanpa mengikuti petunjuk. Mungkin banyak salah di sana-sini, tapi mereka masih punya karya yg layak dinilai.

Tapi kebanyakan kaum Muslimin yg "kental" dg agamanya, mereka analog dg TIPE (C). Di mata mereka Alquran itu masih merupakan paket yg "terembunyi di kedalaman, gelap dan misterius", sangar tapi sakral. Maka mereka sangat butuh dan bergantung pada petunjuk2 lain dari selain Allah, antara lain hadits nabi dan ajaran2 para ulama yg mereka sebut "ulumuddin", untuk "menerangi" Alquran. Tapi malah aura "sangar" dan kegelapan semakin menjadi2, padahal sebagian terbesar potensi dan energi yg mereka miliki terkuras untuk itu. Seperti yg Allah gambarkan sebagai kaum yg diamanati Al Kitab tapi dicampakkan, malah jadi seperti keledai dg berbagai kitab tebal2 yg membebaninya, menguras tenaganya, membuatnya terengah2 lemot dan kepayahan.

Fenomena payah di kegelapan itu mendorong segolongan orang terjebak pada perilaku TIPE (D), extrimis - radikalis - teroris, yg mirip2 zombi dan vampir di filem2 horor. Memang Allah telah mengingatkan bahwa salah2 perlakuan, Alquran itu bisa membuat "orang mati bisa bicara".... hiiiyy.. (Ar-Ro'd : 31)

Sumber : Status Facebook Uju Zubaedi

Tuesday, July 9, 2019 - 12:15
Kategori Rubrik: