Perilaku Habaib

ilustrasi

Oleh : Ahmad Tsauri

Itu Habib muda Solo yang bikin video singkat sambil tergopoh-gopoh, "saya berjalan sudah 8 km, beruntung yang terpanggil seperti saya untuk menjemput HR, dan rugi bagi mereka yang tidak terpanggil.

Habib, seperti juga banyak ustadz lainnya yang diam-diam setuju dengan seluruh pemikiran HR; dakwah itu boleh ngumpat sambil caci maki, pemerintah dzalim, Indonesia harus jadi NKRI Bersyariah, boleh menegakan hukum jalanan (main penggal tanpa peradilan), setuju dengan misi ISIS bahkan simpatik dengan perjuangannya, memaklumi penghinaan terhadap individu apalagi ahwal (non Habib).

Jadi hati-hati memilih dai, dengan segala teknik mereka akan menyebarkan radikalisme agama dengan cara yang tidak Anda sadari. Prinsipnya setelah kita tahu ada Habib, Dai, ustadz, simpatik ke kubu sana, tinggalkan. Apalagi sampai datang dan menganggap rugi orang yang tidak melakukan tindakan sepertinya. Karena kebanyakan dari kita tidak bisa memilah mana ajaran agama dan mana pemikiran jahat dari sipenceramah.

Saya pikir-pikir apanya yang rugi kalau tidak ikut jemput HR. Kalau boleh suudzon, dia beruntung mungkin bisa pansos.

Oh ya, sulit memang mempercayai orang seperti HR itu adalah keturunan Nabi Saw. Sulit membayangkan darah Nabi Saw juru islah juru damai pemersatu, mengalir dalam diri seseorang yang melakukan kerusakan yang amat dahsyat.

Kepercayaan kepada Habib itu termasuk kepercayaan kepada yang sangat abstrak, Ghaib, (bukan keimanan kepada yang Ghaib) apa bukti otentik seseorang keturunan Nabi? Nasabnya? Banyak nasab palsu, wajahnya? Semua wajah Arab kurang lebih sama berhidung mancung, perawakan tinggi dst. Itu semua bukan indikator.

Satu-satunya indikator kuat seseorang adalah keturunan سلالة, نسلة، ذرية Nabi Saw (setelah pengakuan dari mereka sendiri) adalah air muka yang menyejukkan dan akhklak mulia yang mempesona. Bagi muslim seperti kita, BPKB nasab seorang Sayid tersambung kepada Rasulullah adalah akhklaknya bukan kertas nasab.

Hanya husnudzan kita, baik sangka, posisitif thinking kita yang menopang kepercayaan kita kepada nasab seseorang, misalnya seseorang mengaku dzuriah Nabi. Dan sulit percaya orang yang gemar sumpah serapah, memaki, mencaci, mengumpat, mengancam, mengalir dalam dirinya darah seorang Nabi yang mulia.

Kita percaya Nabi Saw mempunyai keturunan, dan Nabi mengakui nasabnya dari Sayidah Fathimah, tapi kita tidak punya kewajiban untuk percaya bahwa seseorang benar-benar keturunan Nabi Saw.

Setelah percaya seseorang adalah Habib, kita wajib menghormati, memuliakan tapi untuk mentaati kita ikut panduan al-Quran, hadis, ijma, fatwa dan qaul ulama dari kitab-kitab, kalau tidak sesuai kita tidak wajib taat malah bisa haram untuk taat.

لا طاعة لمخلوق فى معصية الخالق
Tidak ada keharusan taat kepada seseorang (Habib sekalipun) dalam bermaksiat kepada Allah SWT.

Mengumpat orang saat ngaji itu maksiat kepada Allah, memfitnah itu maksiat kepada Allah, mendoakan orang cepat mati apalagi itu presiden adalah maksiat kepada Allah, simpati dan mendukung ISIS itu maksiat kepada Allah.

Jadi kalau Anda percaya HR Habib, hormati tapi jangan taati. Tapi jangan paksakan kepercayaanmu itu kepada orang lain, apalagi memaksa harus ikut mentaati.

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri

Tuesday, November 24, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: