Pergeseran Makna Mati

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Tahun 80an, sejumlah tim kesehatan dari Jakarta dikirim ke NTB. Mereka ingin menurunkan angka rata-rata kematian penduduk di sana. Misi tim ini ditentang oleh para ulama. Mereka tidak setuju dengan apa yang akan dilakukan oleh tim ini. Bagi para ulama "kematian adalah takdir, tidak bisa diturunkan".

Anggota tim pusing. Mereka melakukan itu di lain tempat dan nggak masalah. Di seluruh dunia tim-tim kesehatan diturunkan untuk menurunkan tingkat rata-rata kematian. 

Lalu dicarilah cara bagaimana membuat para ulama itu bisa menerima rencana mereka. Digantilah misi program, yaitu 'meningkatkan angka rata-rata umur hidup penduduk'.

Ternyata dengan istilah itu para ulama tidak lagi menentang.
Meskpun secara prinsip sama, namun penggunaan kata 'kematian' cukup sensitif.
program-program kesehatan umumnya memperbaiki gizi, mencegah penyakit menular, meningkatkan imunisasi tubuh dsb. Muaranya adalah meningkatkan tingkat hidup atau mengurangi tingkat kematian.

Kita semua umumnya percaya lahir, mati, jodoh dan rezeki adalah takdir. Kalau sudah tiba saatnya mati, tidak ada siapapun yang bisa menunda.Kalau sudah jodoh, nggak lari kemana. Kalau bukan rezeki, ya susah ditangkap.
Tapi ilmu pengetahuan dan teknologi diam-diam sebenarnya tidak percaya mati itu takdir. Dahlan Iskan dengan cangkok hatinya sukses memperpanjang hidupnya.

Abad 15, 16, 17 para pengarung samudera dari Eropa akan kehilangan separuh anggotanya ketika menempuh pelayaran jarak jauh. Mereka mati di tengah jalan karena penyakit scurvy atau kudis. Gejalanya berupa radang gusi, gigi rontok, demam, kulit infeksi dsb. Penyakit ini dikenal sebagai penyakit kudis di Indonesia. Kita tidak mengalaminya. Tapi di abad-abad lalu ini termasuk pembunuh berbahaya di kalangan pelayar.

Tahun 1747 seorang ahli kesehatan James Lind dari Britain, mencoba beberapa grup pelayaran diberi buah jeruk dan yang lain tidak. Grup tanpa jeruk akan kehilangan satu per satu anggotanya karena serangan penyakit scurvy. Yang makan jeruk selamat. Kebiasaan para pelaut saat itu berbekal roti dan dendeng saja. Asupan vitamin kurang. Itulah penyebab penyakit scurvy yang mematikan. Angkatan laut kerajaan Inggris tidak percaya temuan Lind. Tapi James Cook percaya.

James Cook saat memimpin armada pelayarannya menaklukan Tasmania, New Zealand dan Australia 1768, memenuhi kapalnya dengan buah dan sayur ketika berlabuh. Anggota timnya rajin makan jeruk terutama dan sayuran lain. Penyakit kudis/scurvy bisa dihindari. Tingkat kematian turun drastis. Kutukan kematian karena penyakit scurvy hilang gara-gara ditemukan obat penangkal berupa vitamin C dalam buah-buahan.

Di masa depan, puluhan tahun atau ratusan tahun dari sekarang, mungkin cara memandang kematian akan berbeda. Saat ini kita percaya dengan sepenuhnya kematian tidak bisa dilawan. Para ilmuwanpun nggak berani bilang tidak.

Apa yang terjadi jika kemudian ada teknologi penumbuh sel, pengganti sel, lalu organ tubuh bisa diperbaiki atau dicangkok? Nafas diperpanjang? Ya kematian menurut definisi ilmu adalah tidak berfungsinya anggota tubuh secara teknis, biologis dan psikologis. Bisa nggak organ-organ ciptaan manusia menggantikan fungsi-fungsi ini?
Mari menjaga akal dan budi kita meski beda jalur.

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Wednesday, February 6, 2019 - 09:30
Kategori Rubrik: