Perempuan

ilustrasi

Oleh : Chitra Retna

Cerita ini saya pinjam dari cerita seorang kakak perempuan sesama organisasi. Mantan wartawan yang lalu menjadi ekonom jebolan perancis. Dan, tetiba suatu sore setahun lalu, hanya dalam waktu beberapa jam, diangkat menjadi komisaris satu bank besar.

Syahdan, lingkar paling dekat Presiden mencari orang yang tepat untuk jabatan 1 kursi komisaris dan 2 kursi eksekutif bank pemerintah. Apa syarat yang diminta Presiden? Satu, semua kandidat harus perempuan. Dua, mereka harus pekerja keras dan gak suka buat keributan.

Atas dasar itulah suatu pagi mbak ini tetiba ditelpon oleh bapak A lingkar terdekat tsb. Untuk posisi komisaris. Telpon lalu diberikan pada pakde, orang nomor satu negeri ini. Mbak, kata pakde, tolong dibantu nggih, mbak orang paling cocok untuk posisi tsb. Oh nggih pak, insya Allah, kata si mbak. Tapi saat telpon dikembalikan pada pak A, mbakku ini nyerocos. Pak, saya tidak kenal bapak lho, saya belum pernah kerja sama bapak, kok bapak pilih saya. Lha justru itu, jawab si bapak, semua orang seakan berlomba-lomba kasih CVnya sama saya, sampeyan sama sekali engga. Justru karena itu, sampeyan orang paling tepat. Tapi pak, mbakku masih nyerocos, saya bukan orang partai, bukan orang politik, saya engga bisa kalau harus macam-macam untuk kepentingan politik. Lha justru itu lagi, lanjut beliau, sampeyan sama sekali bukan orang politik, gak mungkin sampeyan akan tertarik yang aneh-aneh.

Jadilah perempuan tangguh ini, sorenya tetiba mengampu tanggung jawab berat. Seperti 7 perempuan yang harus memilih pimpinan KPK. Perempuan yang harus melawan mafia penangkapan ikan ilegal. Perempuan yang harus menstabilkan keuangan negara. Perempuan yang harus melawan pembalakan hutan. Bagian dari perempuan-perempuan yang ditarungkan di medan berat, dan mereka memenangkan sedepa demi sedepa.

Cerita begini adalah cerita kecil. Tapi memberi harapan, ditengah begitu predatoris, ganas dan biadabnya tanah bernama arena politik itu. Cerita- cerita kecil begini konsisten terjadi disana sini, bagai noktah-noktah kecil yang sambung menyambung membentuk pola. Seperti benih di tanah tandus gersang ganas, menyeruak mencoba menjinakkan tanah yang keras.

Mengingatkan pada sebait puisi Wiji Thukul.

Jika kami bunga
Engkau (kuasa predatoris) adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau (kuasa predatoris) harus hancur!

Selamat hari perempuan, wahai perempuan-perempuan nan tangguh.

Caption: Jokowi bersama 500 perempuan tangguh di bidangnya masing-masing, memperingati Hari Perempuan.

Sumber : Status Facebook Chitra Retna dengan judul asli Perempuan

Friday, March 8, 2019 - 10:45
Kategori Rubrik: