Perempuan yang Menari

ilustrasi
Oleh : Bambang N Karim
Salah satu kesukaan saya dalam travelling adalah bertamu ke rumah suku-suku tertentu. Saya senang kalau diundang dan bisa menghadiri pesta perkawinan di suatu suku. Hal itu merupakan tambahan wawasan budaya. Pernah saat saya di Turkey, saya diundang menghadiri pesta dan makan di suatu keluarga Kurdi. Sungguh berkesan dan saya ingat sampai hari ini.
Pada suatu saat Saya dan beberapa teman diundang menghadiri pesta sunatan di suatu suku. Perayaan Sunatan adalah seperti perayaan aqil balik - masa dimana seorang anak laki-laki menjadi dewasa dan harus bisa bertanggung-jawab atas perbuatannya. Perayaan ini mungkin seperti perayaan Bar Mitzvah dalam budaya Yahudi.
Pesta berlangsung meriah, dan tibalah saat joget. Musik dangdut diputar dengan volume keras memekakkan telinga. Anak-anak muda berhamburan berjoget. Saya dan beberapa teman (laki-laki dan perempuan) ikut serta. Sungguh asik dan menyenangkan. Dut tak gendang Dut...
Kemudian ada dua remaja perempuan masuk ke arena, ikut berjoget. Suasana menjadi tambah ramai dan menyenangkan.
Tiba-tiba datang seorang Ibu Tua dan seperti mencaci remaja perempuan itu. Plak! Ia menampar pipi remaja itu dan kemudian menyeret perempuan itu keluar dari arena. Kami kaget dengan apa yang terjadi, tetapi hal itu tidak menghalangi kami untuk terus berjoget.
Setelah acara selesai, kami diberi tahu bahwa Ibu Tua itu adalah Nenek remaja putri itu yang melarang Si Remaja untuk turut serta dalam kesenangan itu. Alasannya karena hal itu merupakan tabu (pamali) bagi perempuan, perempuan itu dianggap sebagai "perempuan nakal" yang akan menurunkan harga diri perempuan.
Kami kaget. Seriously?
Kami berusaha mencari reasoning tentang kejadian itu. Jadi kalau perempuan tidak boleh ikut joget? Mengapa? Mengapa semua hal harus mengandung konteks sexual? Apakah perempuan yang menari, berjoget, bersuka-cita itu melanggar hukum? Apakah perempuan yang berjoget, memakai twerking sekalipun artinya adalah sedang menggiur orang untuk melakukan aktivitas sexual?
Kemarin saya melihat banyak orang berkomentar melecehkan video Ibu-ibu yang sedang berjoget dan mabuk di suatu pesta. Setting video itu seperti di Indonesia Timur di suatu tempat dimana perempuan tidak memakai jilbab dan perayaan pesta dilengkapi dengan konsumsi alkohol. Komentar yang dilontarkan sangat abusive terhadap perempuan-perempuan itu sekolah-olah mereka melakukan suatu perbuatan nista (hanya karena mereka perempuan).
Saya berpikir, apa jadinya kalau subject di video itu laki-laki yang sedang berjoget (dan mabuk). Apa perlakuan akan sama? Saya ragu. Sama-sama mabuk, tetapi kalau yang mabuk adalah perempuan, maka akan terjadi kecaman yang berbeda.
Di tengah-tengah usaha persamaan hak, rupanya masih terjadi suatu catatan dan caveat apabila yang melakukan adalah perempuan. Yang lebih tragis banyak dari pengecam itu adalah perempuan juga.
Sumber : Status Facebook Bambang N Karim
Saturday, March 6, 2021 - 11:45
Kategori Rubrik: