Perempuan Pendobrak

Ilustrasi

Oleh : Chitra Retna

Hari ini hari Kartini ya, malah lupa . Sejarah kita sebenarnya juga menyimpan banyak tokoh perempuan lain yang menarik untuk digali, seperti Rahmah El Yunusiyah (Sumbar), Soendari something yang muncul sekilas dalam cerita Minke di tetralogi Bumi Manusia, dan masih banyak lagi tokoh perempuan-perempuan dari tlatah tegar yang terpendam dalam sejarah. Termasuk mbok-mbok penjual batik atau buruh pabrik gula di pelosok sana.

Hari ini menemukan foto menarik yang mengingatkan esensi dari Kartini ataupun figur perempuan-perempuan diatas. Tiga perempuan di panggung nasional ini seakan mencerminkan satu grup karakter perempuan yang unik: tegar, mandiri, gak klemak klemek dan berani menentang arus mainstream. Saya ingin mengkontraskannya dengan satu group lain warisan orde Baru: group ‘ibu’. State ibuism, demikian sebuah analisa menggambarkan mereka.

Ibu-ibu berambut disasak tinggi, yang kadang ketinggian status mereka membuat anak buahnya membahasakan tanpa menyebut nama, cukup dengan: ‘ibu’, semua paham siapa yang dimaksud. Mereka membawakan sebuah socially constructed tentang peran perempuan. Somehow menariknya group ‘ibu’ ini masih menetes dalam bentuk group kepala-kepala daerah perempuan yang lalu punya penampakan hampir mirip: berjilbab, cantik putih menor dengan dandanan tebal, tapi sayangnya (menyebalkannya) kebanyakan terjerat korupsi. Bupati Rina di Kukar, Ratu Atut di Banten, bupati Sri Hartini di Klaten, dan deretan panjang lainnya. (Why their appearance can be so similar sih?)

Pelan-pelan struktur budaya feodal ala orde baru dengan state ibuism-nya didobrak oleh perempuan-perempuan anti mainstream bertato di kaki macam ibu susi ini.

Selamat hari mendobrak, siapapun dan dimanapun Anda berada

Sumber : Status Facebook Chitra Retna

Sunday, April 22, 2018 - 14:30
Kategori Rubrik: