Perempuan dan Kebencian

Ilustrasi
Oleh : Maria Fauzia
 
Saya tidak hendak menggenalisir bahwa ada diantara kami, kaum perempuan,  yang kerap kali bahkan tak jeda untuk menebarkan virus kebencian. Terhadap apapun, kebencian terhadap pemerintah,  lawan politik,  ajaran keagamaan yang dianggap tidak sesuai dengan yang dianut, bahkan yang cukup menyedihkan ia kerapkali bersua dengan narasi yg tidak elok untuk dibaca. Yang paling saya sayangkan,  bahwa dia adalah seorang ibu. 
.
Baiklah, saya paham, mungkin mereka merasa punya hak untuk bersuara, yang dijamin negara ini oleh undang undang. Tapi hey, tak pernahkan mereka ini mengaca atau sejenak merenung, atas ucapan, tulisan, ejekan, yang sarat akan kebencian di laman mereka yang dibaca banyak orang? Saya sebut kebencian, karena tak ada tawaran solusi yg diwacanakan. Saya sebut kebencian, karena hanya berisi cacian yang keras, ejekan yang tak berisi, dan nonsense. 
.
Kebencian paling mudah disulut untuk meletupkan aksi aksi radikal. Sikap keras, tanpa kompromi, dan merasa paling benar. Mereka ini yang dengan mudah digerakkan, dicuci otak, untuk melakukan hal2 yang lebih keras. Kebencian adalah sikap awal menuju aksi aksi radikal, yang dan pada akhirnyanya akan berujung kedalam sebuah aksi terorisme. Jangan anggap remeh kebencian wahai Ibu, dan siapapun anda yang menginginkan kedamaian. 
Ah, banyak luka di hari ini, yg bertepatan dengan Hari Ibu Internasional. Yang terbaru, tentu saja pelaku bom di Surabaya juga seorang perempuan. Sangat disayangkan. Bagi teroris, perempuan kerapkali digunakan sebagai alat teror untuk penyemangat teroris laki-laki untuk berani melakukan amaliyah termasuk bom bunuh diri. Mereka dijadikan pelecut semangat 'jihad' bagi yang lain. 
 
Kita perempuan, kaum ibu, harus memutus rantai ini. Memutus tali kebencian yang awalnya dianggap biasa2 saja, di media media sosial. Kita tentu saja tak ingin jika kebencian ini akan membentuk sikap dan pola pikir anak-anak di kemudian hari. Anak2 membaca narasi kebencian yang anda anda semua tuliskan, dan kemudian mengadopsinya dengan olah pikir mereka. Hasilnya, bisa berbeda. Bahkan tak jarang jauh lebih berbahaya. Belajar agama tanpa membenci mereka yang berbeda. Belajar agama tanpa merasa paling benar. 
 
Sekali lagi, Selamat Hari Ibu, untuk para Ibu. Anak kita bukanlah saja yang kita besarkan lewat rahim2 kita, anak kita adalah mereka yang lahir diatas bangsa ini, tanah ini, negri ini, Indonesia. 
 
#ibucintanegri
#ibukunciperdamaian
 
Sumber : Status Facebook Maria Fauzia
Sunday, May 13, 2018 - 12:30
Kategori Rubrik: