Perempuan Bercadar dan Lagu Para Kafir

Oleh: Sahat Siagian

 

Tadi malam saya ngerokok di rooftop sehabis menghadiri video conference call selama 90 menit. Sebuah video melintas di newsfeed: nyanyian komunitas Indonesia Interfaith virtual voice. 

Saya kenal pemimpin mereka: Ryo Imanuel, koordinator VCSI Yogyakarta. “Mendamba Indonesia”, demikian lagu yang mereka bawakan. Digubah Rm. Fikalis Rendy dari Pemalang, diaransir menjadi nyanyian kor oleh Ryo Imanuel.

 

Accord schematic tersaji menawan. Aransemen kor terdengar manis. Lagu itu dinyanyikan 104 orang dari berbagai kota di Indonesia, diiringi 6 pemusik dari Indonesia dan Australia. Saya larut dalam doa mereka. Menjadi sangat misterius ketika sebuah wajah hadir berkali-kali dalam beberapa potongan gambar. 

Itu wajah seorang perempuan. Dia mengenakan cadar. Saya tersentak. Gadis bercadar menyanyikan lagu gubahan Pastor? Itu keganjilan yang menghangatkan malam oleh rasa penasar.

Saya hubungi Ryo via WA, kepingin tahu siapa si pemilik wajah. Namanya Ainun Jamilah Aidid, tinggal di Makasar, sahut Ryo. Saya langsung minta nomor WA Ainun sekaligus meminta Ryo menanyakan kesediaan gadis itu untuk saya telepon. Tak sampai lima menit persetujuan didapat dan nomor diberikan.

Saya telepon Ainun di hampir pk 22:30 wib. Setelah memperkenalkan diri dan mengutarakan tujuan, percakapan di antara kami mengalir lancar.

“Usia saya 24 tahun, jalan 25,” ucap Ainun menjawab pertanyaan. “Baru tahun lalu saya menyelesaikan kuliah di Universitas Islam Negeri Alaudin, Makasar. Saya mengambil jurusan Usuludin, Filsafat, dan Politik. Saat ini saya bekerja sebagai guru PAUD di sebuah sekolah Islam.”

“Kenapa kamu bercadar,” saya bertanya tanpa basa-basi, straight to the point, mengirimkan kesadaran kepada Ainun bahwa saya tidak sedang menulis cerita Nikita menggampar mantan suaminya.

“Saya bercadar atas kesadaran sendiri, bukan karena paksaan dari orangtua atau pihak tertentu. Saya juga tidak melakukannya karena perintah agama.”

Dia belum menjawab pertanyaan. Saya alihkan dulu. ”Kamu puteri ke berapa?”

“Saya anak keempat dari empat bersaudara.”

“Kakakmu ada yang bercadar?”

“Nggak, cuma saya..”

“Lalu, sekali lagi, kenapa kamu bercadar?”

Percakapan terhenti sejenak. Saya biarkan, tak menyela.

“Untuk melindungi tubuh saya dari tatapan yang melecehkan.”

“Kenapa dan bagaimana asalmulanya?”

“Di kampus, saya aktif di Majelis Dzikir. Mayoritas anggotanya para lelaki. Dari sedikit anggota perempuan cuma dua orang yang masih lajang. Saya merasa tatapan lelaki ke tubuh saya sangat melecehkan.”

“Secara seksual?”

“Ya.”

“Teruskan.”

“Beberapa kali mengalami tatapan seperti itu saya mulai merasa terganggu. Setelah berkonsultasi dengan seorang senior, saya memutuskan untuk bercadar. Seorang dosen mengingatkan saya bahwa itu keputusan yang harus diambil dengan sadar dan dengan kesiapan mental. Saya pikir, saya siap melakukannya.”

“Berhasil?”

“Maksud Abang?”

“Dengan bercadar apakah kamu berhasil menghentikan tatapan pelecehan itu?”

“Tidak, sama sekali tidak. Cadar ternyata tidak berhasil melindungi saya. Setiap bertemu atau berpapasan saya masih terus mengalaminya.”

“Apakah menurutmu kamu cantik?”

Ainun tersentak. Sela sekian detik.

“Saya rasa..., eenggh, saya biasa saja. Saya tidak merasa lebih istimewa daripada yang lain.”

“Lalu kenapa kamu masih terus bercadar?”

“Karena saya mau menampilkan kebercadaran yang lain. Selama ini perempuan bercadar dianggap kaku, bergaul terbatas, eksklusif, dan jadi muslimah muram. Saya mau rombak semua itu. Bercadar buat saya adalah my fashion style. Itu tak mengubah saya sebagai manusia. Tentu saja, oleh kaum bercadar, saya dianggap perempuan yang tak pantas bercadar. Saya bergaul dengan teman-teman lintas iman. Saya menjabat tangan siapa saja, tak menjadikan pakaian saya sebagai pembatas. Saya mau hapus stigma yang melekat pada perempuan bercadar.”

“Dan kamu bergaul dengan kaum lintas iman: Kristen, Katolik. Buddha, Hindu, dan lain-lain?”

“Ya. Itu ternyata menyenangkan.”

“Gak dilarang orangtua?”

“Tidak. Orangtua saya hanya berpesan agar saya menjaga diri dengan baik. Apa pun kegiatan saya tak mereka batasi.”

“Apa sikapmu terhadap Indonesia?”

“Buat saya, Indonesia adalah sesuatu yang...,” Ainun tercekat, “sakral.” Ia berhenti sejenak. “Saya tergetar setiap kali mendengar nama Indonesia disebut,” lanjutnya.

“Lalu bagaimana kamu memandang agama lain selain Islam?”

“Kita sama ‘kan, Bang?”

“Maksudmu, apakah orang Krsiten punya peluang masuk surga yang sama besarnya dengan orang Islam?”

“Ya. Pasti. Tentu saja. Malah kadang saya berpikir bahwa peluang non-muslim untuk masuk surga lebih besar daripada kami.”

Saya terperanjat. “Maksudmu?”

“Agama adalah tentang perbuatan. Dari perlakuan yang saya alami, saya merasa kaum non-muslim lebih baik kepada saya daripada kaum muslim. Saya selalu bercerita kepada Ibu tentang bagaimana sambutan pendeta ketika saya datang berkunjung ke rumahnya. Para bhiku dan bhikuni menerima saya dengan lapang. Demikian juga para suster. Setiap kali kami berkumpul, mereka memeluk saya, merangkul saya, tidak menjadikan saya berbeda karena pakaian saya. Juga, seingat saya, belum sekalipun saya menerima tatapan pelecehan dari mereka. Belum sekali pun. Itu sebabnya saya merasa damai setiap kali berada di komunitas lintas iman.”

“Apa cita-citamu tentang keindonesiaan di Makasar?”

“Saya kepingin membangun harmoni. Saya tidak langsung melompat ke hal-hal besar, memulainya dari hal-hal sederhana seperti, misalnya, bagaimana saya memperlakukan mereka yang tak seiman dalam hidup sehari-hari.”

“Kamu akan terus bercadar?”

“Ya. Apa sih susahnya? Tapi saya tidak menganggap perempuan yang tak bercadar atau tak berjilbab lebih buruk daripada saya. Tidak. Bercadar adalah gaya busana saya, gak ada hubungannya dengan perintah agama. Bercadar juga terbukti tidak berhasil melindungi saya dari tatapan tidak senonoh para lelaki.”

“Bagaimana tanggapan kamu tentang pernikahan lintas iman?”

“Itu bagus.”

“Apa kamu siap menjalaninya?”

Dia terdiam.

Saya lalu mengajaknya berandai-andai, berjika-jika. Andai Ainun bersua lelaki Kristen ganteng, baik, bermasadepan cerah, menyayangi Ainun sepenuh hati, siapkah Ainun memasuki rumah-tangga berbeda agama?

Ainun menjawabnya dengan andai-andai. Saya juga. Pengandaian selama lima menit itu biarlah jadi rahasia kami berdua, kalian tak perlu tahu. 

Mau dengar suara Ainun? Putar video “Mendamba Indonesia” berikut ini. Di menit 1:01 kalian akan dengar suaranya mengalunkan larik, “rindu rumah doa”, lalu dilanjutkan suara Pastor Fikalis, penggubah lagu tersebut, “ada di setiap jiwa yang lara”.

Kalian gak semaput? Saya hampir, tadi malam. Imajinasi saya meluas hingga ke jari-jemari Ainun, perempuan bercadar, bersetangkupan dengan jemari pastor Fikalis menaikkan doa bagi maujudnya cinta di bumi Indonesia.

Dalam nyanyian virtual choir, seperti saya katakan berkali-kali, bertemu sekian suara dari berbagai pelosok. Mereka tak mungkin bertemu secara fisik. Tapi teknologi telah memungkinkan perempuan bercadar di Makasar berdoa bersama dengan Pastor di Pemalang, bergenggaman tangan malah.

Anda masih memuja batas-batas? Sila gali kubur. Nyemplung ke sana dan berdoa agar angin meniupkan pasir dan debu untuk menimbunmu.

 

(Sumber: Facebook Sahat Siagian)

Thursday, June 4, 2020 - 15:30
Kategori Rubrik: