Perdebatan RUU HIP

ilustrasi

Oleh : Buyung Kaneka Waluya

Dalam Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) pasal 7..., terdapat frasa "Ketuhanan yang Berkebudayaan”.

Beberapa pihak memprotes soal frasa itu..., karena mereka menganggap frasa itu menghilangkan nilai agama pada Pancasila.

Padahal kalau berangkat dari keberadaan Pancasila...; sebetulnya Pancasila itu bukan pedoman beragama..., tetapi pedoman bernegara..., dan itu disebut dengan filsafah.

Sebab kalau persepsi tentang Pancasila itu ajaran agama..., maka artinya kita terjebak dengan negara agamais.

Padahal..., sebetulnya tidak begitu.

Sebaliknya...; kalau persepsi Pancasila itu sekuler..., kita akan menampik eksistensi Agama..., dan ini juga tidak tepat.

Yang harus kita pahami...: Pancasila itu filsafah.

Cukup...; tidak perlu dipersepsikan ke kanan atau ke kiri.

Mengapa...?

Dari persepsi agama..., Pancasila tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Dari persepsi sekular..., Pancasila juga tidak bertentangan dengan kebenaran universal.

Untuk memperjelas tentang RUU HIP..., ada baiknya kita pahami perbedaan frasa...; antara Budaya dan Kebudayaan..., serta juga perbedaan frasa...; antar Tuhan dan Ketuhanan.

Ini penting..., agar kita bisa mendudukan persoalan dengan tepat..., dan tentu tepat juga bersikap atas polemik ini.

KIta tidak bisa bersikap dengan asumsi dan persepsi sendiri..., tentang RUU HIP ini.

Karena RUU itu dilengkapi dengan kajian akademis..., yang tentu sudah mempertimbangkan semua aspek akademis terhadap perlunya RUU itu.

Sebaiknya kita memang tidak dalam posisi membela atau menolak..., obyektif saja.

Kita semua sebaiknya berpikir jernih..., dalam menghadapi polemik politik kebangsaan ini.

Perbedaan itu biasa dalam demokrasi..., tetapi jangan karena perbedaan itu kita jadi hakim di atas asumsi dan persepsi yang salah.

Dan tentu juga jangan sampai asumsi dan persepsi kita.. , malah menimbulkan masalah yang baru.

Sekarang mari kita bahas soal frasa itu...:

Pertama..., Budaya itu berhubungan dengan tradisi yang sudah ada turun temurun secara genetis.

Contoh...: orang suka sex..., baju bagus..., rumah bagus..., harta..., uang...; itu semua adalah Budaya.

Sementara..., Kebudayaan itu adalah nilai-nilai..., atau akal budi..., atau kepercayaan yang ada pada Budaya itu.

Contoh...:

Orang suka sex. , kebudayaan mengatur tradisi menikah.

- Orang pakai baju bagus..., kebudayaan mengatur pakaian yang sopan..., apapun modelnya terserah saja.

- Orang suka harta..., kebudayaan mengatur soal moral dan etika dalam mendapatkan harta.

- Orang suka kekuasaan..., kebudayaan mengatur soal kejujuran..., amanah..., dan tanggung jawab.

Untuk lebih lengkapnya..., kita bisa baca buku...: "Teori Budaya"..., yang ditulis oleh David Kaplan dan Robert A. Manners

Kedua..., setelah kita pahami apa beda budaya dan kebudayaan...; sekarang mari kita pahami apa itu Tuhan dan Ketuhanan.

Bahwa Tuhan itu bukan terminologi agama...; bagi islam tidak ada tuhan..., selain Allah.

Begitu juga bagi umat kristen..., dan lainnya...; jadi Tuhan itu adalah satu..., apapun namanya.

Bagaimana dengan ketuhanan...?

Ketuhanan itu bukan terminologi spesifik pada agama tertentu..., tetapi itu adalah konsep filsafah memahami Tuhan.

Ketuhanan lebih kepada keyakinan yang bersumber pada pengetahuan ilmiah..., sehingga dapat diuji kebenarannya.

Maka..., Ketuhanan merupakan suatu kebenaran yang dapat diterima oleh akal pikiran..., dan kaidah-kaidah logika.

Untuk lebih jelasnya..., kita bisa membaca buku "Filsafat Ketuhanan, Studi Relasi Tuhan dan Manusia"..., oleh Gazali.

Nah..., sekarang kita sampai pada frasa “Ketuhanan yang berkebudayaan”.

Jika kita perhatikan frasa itu...:

“Ketuhanan”..., bukan “Tuhan”.

“Kebudayaan”..., bukna “Budaya”.

Mengapa ..?

Karena terminologi Tuhan itu..., adalah berhubungan dengan budaya.

Kita suka uang.. . itu budaya.

Kita suka sex..., itu budaya.

Kita suka harta..., itu budaya.

Kita suka baju bagus..., itu budaya.

Kita menghormati patron atau tokoh agama..., itu budaya.

Kita suka kekuasaan..., itu budaya.

Yang jadi masalah adalah...: apabila budaya-budaya itu menjadi Tuhan.

Orang bijak berkata..., "Jangan mentuhankan harta..., mentuhankan istri..., mentuhankan uang..., mentuhankan kekuasaan atau patron...; karena itu semua berhala...".

Peradaban akan hancur..., kalau kita menyembahnya...; karena jelas tidak sesuai dengan "Ketuhanan yang berkebudayaan".

Jadi "Ketuhanan yang berkebudayaan" mengharuskan kita tunduk kepada nilai nilai kebudayaan...; yang bertumpu kepada etika..., moral..., norma atau akal..., dan budi.

Ada satu pertanyaan lagi...: Mengapa ada tokoh agama justru yang menentang istilah Ketuhanan berkebudayaan...?

Sebetulnya oerbedaan pendapat itu biasa saja..., dan diakui dalam sistem demokrasi.

Tetapi..., kebanyakan penentang RUU HIP sebetulnya tidak paham struktur UU dan dasar konsiderannya.

Mereka pikir UU HIP itu akan mengubah Pancasila..., padahal Pancasila itu dasar dari dasar UUD45.

Jadi bagaimana mungkin UU HIP bisa mengubah Pancasila...?

Jadi..., itu juga cara berpikir yang tidak tepat.

Mereka mempermasalahkan..., kenapa dalam RUU HIP tidak ada konsideran TAP MPRS XXV Tahun 1966..., tentang larangan PKI dan ajaran komunis...?

Tap MPRS XXV itu sudah ada pada ketetapan MPR RI Nomor I/MPR/2003..., dan Tap itu sudah dicantumkan sebagai konsideran dalam RUU HIP.

Karena tahun 2003..., semua TAP MPRS digabung dalam TAP MPR.

Memang..., tidak perlu menjadi seorang ahli Hukum Tata Negara untuk memahami persoalan ini.

Tapi ya sudahlah..., toh RUU HIP ini tidak penting-penting amat..., ada atau tidaknya UU HIP ini tidak terlalu dirasakan oleh masyarakat awam.

Rahayu.

Sumber : Status facebook Buyung Kaneka Waluya

Tuesday, June 30, 2020 - 11:00
Kategori Rubrik: