Perdebatan Bumi Manusia

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Sesungguhnya tak menarik ikut terlibat dalam perdebatan film ‘Bumi Manusia’. Pertama lebih karena, selama ini kita acap tidak proporsional. Membicarakan sesuatu dengan ‘sesuatu’. Apalagi bertekad membandingkan ‘novel BM’ dengan ‘film BM’. Atau hal yang nyaris sama, membandingkan ‘komik Gundala’ dengan ‘film Gundala’.

Hanung Bramantyo, sebagai bagian dan masyarakat kreator, tentu mempunyai tugas sejarah yang tak bisa disamakan dengan misi Pramoedya Ananta Toer. Tetapi bisakah kita menyangkal mereka memiliki visi yang berbeda? Dalam kebijaksanaan membaca kitab-kitab, kita dikenalkan pada asbabun nuzul dan asbabul wurud. 

 

Ada teks dan konteks, sehingga kita tak bisa kaku menerapkan nasihat Akheela pada Mowgli, bahwa kita tak boleh bersiasat, sebagai adab buruk manusia. Di dunia binatang, pada jaman The Jungle Book Rudyard Kipling dari jaman Inggris yang ningrat, ketika itu mereka capek dengan kehidupan lamis penuh tipu-daya.

Ketika jaman kecil saya dulu, bahagia membaca buku ‘Sendiri di Dunia’ dari Hector Mallot yang diterjemahkan Abdul Muis. Sebuah buku tebal mengenai petualangan anak kecil berkeliling dunia karena kesasar mengikut pengamen jalanan. Tapi anak saya, ketika seusia waktu saya membaca buku Hector Mallot itu, tak pernah tertarik membacanya. Hanya dalam waktu kurang dari satu jam, ia telah menuntaskan cerita yang sama, dari film kartun Jepang yang disaksikan via televisi. 

Jika saya tak menonton film BM, bukan saya tak menghargai. Namun saya pribadi merasa cukup dengan yang saya baca dari Novel BM. Setidaknya tanpa perlu merasa terganggu, dengan wajah Iqbal Ramadhan atau Ine Febrianti. Yang mungkin bisa membuat saya galfok. 

Mirip jawaban Gus Dur, soal shalat sebagai metode, juga bagaimana kaum sufi menghayati iman. Di situ nasihat Jean Marais dalam novel Pram menjadi relevan; Seorang terpelajar sudah harus adil sejak dalam pikiran!

Meski pun sumpah mampus saya juga meminta maaf. Susah membebaskan diri dari bayangan komik-komik Gundala Hasmi, yang melekat sejak kecil, ketika menonton film Gundala Joko Anwar. Setengah main di awal yang sangat membosankan, dengan sejarah kanak-kanak Sancaka. Apalagi ketika bayangan Peter Parker berkelebat dalam film ‘biopik’ Spiderman. Tapi itu ‘kan problem pribadi saya ‘kan? Tak perlu teriak-teriak. 

Di pintu keluar bioskop, sehabis nonton Gundala, serombongan remaja berebut nyeletuk; “Ayo kita nonton lagi, keren nih actionnya,…!” Atau, diam-diam saya juga bahagia, ketika seorang ibu bertanya pada saya, setelah mengabarkan ia telah menonton film BM, “Om, di mana beli novel Bumi Manusia, ya?”

Pertanyaan itu justeru memunculkan bayangan wajah Isti Nugroho, juga Bonar Tigor Naispospos, dan teman-teman di Yogya dulu. Mereka kocar-kacir dikejar intel, gegara menjual stensilan novel BM di awal 80-an. Hanya karena kata-kata, yang pasti tak mereka bayangkan disampaikan Ine Febrianti, “Kita telah melawan, Nak, Nyo,…!” 

 

(Sumber: Facebook @sunardianwirodono)

Saturday, September 7, 2019 - 14:15
Kategori Rubrik: