Perda Syariah

Ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Jelas para penjual agama gerah dengan pidato Grace Natalie, dengan tulisan saya tentangnya, dan dengan riak percakapan yang teralami selama sepekan terakhir.

Penjual agama bukan cuma hadir di kubu Bosan. Mereka juga runtang-runtung di kelompok pasangan “01”. Tengoklah, alih-alih mendukung Grace, PPP menyayangkan pidato Grace, menganggap perempuan itu tak tahu relasi penting antara agama dan politik serta kekuasaan. Kalau PKS dan Gerindra bersuara senada, itu memang kubangan mereka, gak usah kita bingung karenanya.

Sebagian lagi menyoal: jika PSI berjuang bagi pencabutan dan peniadaan perda injili dan syariah, kenapa dia gabung ke pasangan “01”? Sudah jelas di sana ada Ma’ruf Amin yang sangat nyaman dengan perda syariah. Kenapa gak berada di luar barisan saja?

Suer, saya nekad menduga pertanyaan itu muncul dari para golputers. Logika mereka memang gitu, sederhana, sampek-sampek menyimpulkan bahwa mereka yang minum AQUA pasti gak minum Teh Botol.

Hidup ini berwarna. Sedikitnya, selpon android di tanganmu menyajikan jutaan warna meski bukan true color. Tapi dia sudah jauh melampui B/W yang bikin hatiku seram itu. Seorang sociopath bisa sekaligus penghayat lukisan Rembrandt sampai ke tali rasanya, lalu setelah itu membunuh 2 janda di loteng sebelah dengan sekali tikam.

PSI bisa dengan gemebyar bersorak kemenangan bagi Jokowi sambil di bagian lain berhadap-hadapan gigih dengan PPP dan PKB soal perda syariah, soal UU Penistaan Agama, dan lain-lain yang serba sakral itu. Jangan terlampau cepat menuduh PSI menderita kepribadian ganda. Yang menetapkan bahwa peminum AQUA gak mungkin minum Teh Botol itu kamu. Kalau terdapat milyaran persilangan, premismu yang memang acak-adul.

Menilik asal-muasal PSI, saya berkeyakinan penuh partai ini memang serius dengan bunyi pidato Grace. Selama ini cuma PDIP yang sibuk menjaga kerukunan Indonesia, memastikan semua unsur di dalamnya hidup berdampingan dan semarak. Nasdem juga senada tapi suaranya kurang artikulatif. Dalam peristiwa Ahok, sebagian dari mereka berbelok di tengah jalan.

Saya tentu akan menanti dengan sabar bagaimana kelak Mohamad Guntur RomliSusy Rizky WiyantiniSurya Tjandra, dan banyak lagi, meninju meja Senayan untuk membangunkan Indonesia. Jangankan perda bersyariah, bahkan Undang-Undang semacam Undang-Undang Haji, atau Undang Undang Pesantren pun tak perlu ada.

Apa urusan pemeluk agama Kristen, atau Buddha, atau Hindu, atau Kejawan, atau Dayak dengan UU Haji? Gak ada. Lalu kenapa itu diundangkan? Apakah pengaturan tentang ibadah haji tidak cukup berada di ranah Permenag?

Undang-Undang harus kena-mengena dengan seluruh rakyat tanpa memperhatikan latar belakang suku, agama, juga ras. Hal itu sudah dilanggar oleh Undang-Undang Haji, dan, berikutnya, Undang-Undang Pesantren. Kalau kita mau berIndonesia dengan beres, benamkan itu semua.

Agama harus terus menjadi inspirasi bagi setiap insan untuk berbuat baik, berbelarasa, bernegara, dan bercinta dengan semarak. Kalau pun agama tertentu memiliki hukum-hukum, taruh itu di lokasi khusus, tidak mencampuri hukum positif bernegara.

Saya kepingin merawat nenek renta di pinggir jalan karena belarasa yang hidup dalam diri, bukan karena Injil memerintahkannya.

Sumber : Status facebook Sahat Siagian

Tuesday, November 20, 2018 - 12:00
Kategori Rubrik: