Perceraian

ilustrasi

Oleh : Aldira Maharani

Ada yang menarik perhatian saya terkait pemberitaan di media massa, elektronik serta perbincangan di media sosial dan ditengah masyarakat terkait perceraian salah satu Ustadz ternama yang menceraikan istrinya..

Saya sebenarnya tidak terlalu peduli dan sama sekali tidak terganggu siapa saja yang masih jomblo, yang mau menikah dan yang mau bercerai sekalipun.

Tetapi karena banyak permintaan dari teman2 dan meminta pendapat saya terkait perceraian ini, saya akan menulis dan mengulasnya.

Tentu sebagai manusia yang punya hati, saya sangat peduli tentang bagaimana setiap orang bereaksi dan berbicara tentang semua itu. Apakah dengan empati, simpati, sinisme, ataukah penghakiman yang pongah.

Memang adalah hak setiap orang mau ngomong apapun tentang siapa pun. Hanya saja, yang keluar dari mulutmu dan caramu mengatakannya menentukan kualitasmu.

Perceraian adalah perkara yang paling dibenci oleh Tuhan. Tidak ada Perceraian yang sempurna. Semua Perceraian pasti berakhir dengan luka yang membekas.

Luka yang harus disembuhkan dengan kesabaran, kerendahan hati dan pengendalian ego yang luar biasa berat. Dan itu tidak mudah perlu waktu yang cukup lama.

Perceraian itu apapun penyebabnya sangat menyakitkan. Suatu rencana perjalanan panjang yang begitu sempurna kita persiapkan, tiba-tiba ditengah jalan harus terhenti seketika sebelum mencapai garis finish.

Tidak ada manusia dimanapun yang menghendaki Perceraian. Kalaupun harus terjadi Perceraian pasti ada peristiwa luar biasa yang terjadi dan sangat tidak dikehendaki.

Namun Perceraian terkadang lahir dari suatu keberanian yang tersumbat setelah sekian lama. Keberanian mengambil sebuah keputusan maha berat yang luar biasa.

Perceraian itu pahit untuk kedua belah pihak. Perceraian itu berat, pedih, dan luar biasa menghancurkan di dalam relung hati.

Bila orang sampai memilih melakukannya, pastilah masing-masing sudah punya pertimbangan. Banyak orang merasa terbelenggu dan tidak berani mengambil keputusan. Entah tidak punya keberanian, merasa tidak punya pilihan atau alasan pribadi lainnya.

Masalah Perceraian tidak sederhana. Jadi, jangan kita sederhanakan dengan analisa tanpa data.

Jangan pula dengan dalih apapun, kita viralkan masalah perceraian orang lain untuk alasan apapun.

Orang yang berjiwa penuh kasih pasti memikirkan dampak negatif pemberitaan perceraian.

Apalagi ada sebagian orang yang mempublikasikan berita Perceraian dengan penuh dendam dan menghakimi dengan penuh prasangka dan spekulasi tanpa data.

Mungkin orang itu harus berkaca dan introspeksi diri, apakah rumah tangganya sudah begitu sempurna dan tanpa masalah.

Perceraian adalah tragedi kehidupan yang sangat disesalkan, tapi bukan sebuah kiamat dan juga bukan sebuah akhir dari perjalanan hidup.

Perceraian bukan soal mencari kebebasan dan kemerdekaan karena di dalam perkawinan yang baik juga ada kebebasan dan kemerdekaan, tapi lebih ke arah merasa nyaman dan aman dengan orang yang selalu ada di samping kita dan menemani hari hari kita.

Saya menjalani peran menjadi seorang istri sekaligus ibu, yang mampu tetap tersenyum dan berdiri tegak menuntun 2 malaikat kecil saya yang matanya memancarkan ketulusan.

Dan bagi saya, Perceraian itu sama seperti filosofi sepatu yang saya pakai pagi ini sebelum memulai aktivitas, dengan warna hitam yang begitu cantik,

Bentuknya tak persis sama namun serasi.

Saat berjalan tak pernah kompak tapi tujuannya sama.

Tak pernah ganti posisi namun saling melengkapi.

Selalu sederajat tak ada yang lebih rendah atau tinggi.

Bila yang satu hilang, maka yang satu tak memiliki arti.

Sumber : Status Facebook Aldira Maharani

Thursday, December 5, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: